Kamis , 30 Maret 2017, 07:00 WIB

Sayur Asem dan Blusukan Ala Presiden Soeharto

Red: Karta Raharja Ucu
Antara/Jefri Aries
Almarhum Soeharto
Almarhum Soeharto

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Presiden Soeharto, selain di Istana Negara dan Bina Graha, sering menerima tamu dan laporan para menteri di kediamannya di Jalan Cendana. Ada peristiwa yang mengesankan saya saat meliput di Cendana.

Pada awal 1970-an masih dapat dihitung dengan jari wartawan yang memiliki mobil. Begitu juga wartawan kepresidenan yang sering dilecehkan sebagai wartawan kerajaan dan wartawan keraton.

Suatu ketika Pak Harto menerima sejumlah menteri dan tamu di kediamannya itu. Maka motor pun kami parkir di samping kanan pekarangan kediamannya. Tiba-tiba dari garasi muncul sebuah panser yang berjalan mundur menuju ke luar rumah.

Meskipun dipandu oleh seorang prajurit yang memberi aba-aba dari belakang, panser itu menerjang motor-motor yang tengah parkir. Karena motor Honda milik saya letaknya paling depan, paling dulu tergilas panser. Rupanya si pengemudi merasa dia menabrak sesuatu. Panser pun bergerak kembali ke depan dan untuk kedua kalinya melindas motor saya hingga gepeng kayak kerupuk.

Setelah diproses oleh seorang perwira jaga Cendana yang menyatakan siap untuk memberi ganti rugi, beberapa hari kemudian saya pun mendapat sebuah motor Honda baru. "Untung, kan! Lain kali biar dilindas lagi," kata teman-teman meledek.

Aturan protokoler istana kepresidenan menentukan, setiap hari para wartawan harus berpakaian rapi, mengenakan dasi, dan tidak boleh memakai pakaian jenis jean, serta sepatu kets. Menggunakan batik lengan panjang masih dibolehkan, tetapi bukan pada acara dimana presiden mengenakan baju batik.

Sementara, untuk acara-acara kenegaraan atau acara lain yang ditentukan, seperti juga presiden dan pejabat negara, wartawan istana juga harus menggunakan stelan jas. Masalahnya, tiap memakai pakaian lengkap dari kediaman saya di Tanah Abang ke Istana, ada teman yang bertanya, "Mau kondangan kemane, nih?"

Pak Harto sering kali mengadakan kunjungan diam-diam (incognito) --atau bahasa sekarang, blusukan-- secara mendadak. Dalam incognito Pak Harto suka berdialog dengan para petani dan menanyakan berbagai permasalahan mereka, serta suka santai dengan mereka sambil makan tempe goreng.

Pak Harto sendiri mengaku dan bangga menyatakan dirinya sebagai anak petani. Ia pernah menjadi tidak senang ketika ada sebuah media yang menyebutkan dia keturunan ningrat dari Keraton Yogyakarta. Dia langsung membantah dan memanggil wartawan ke Bina Graha, sambil mengajukan saksi teman kecilnya.

Saya pernah mengikuti perjalanan incognito Pak Harto ke Banten. Saat berada di Tangerang, Pak Harto berdialog dengan pengrajin topi bambu yang pada masa jayanya pernah diekspor ke Eropa. Setelah dari Pandeglang menuju ke salah satu kampung suku Badui, tiba-tiba jip yang ditumpanginya berhenti dan Pak Harto menuju ke suatu tempat. Saya yang berada di bagian belakang memburunya setelah melompat dari jip.

"Kenapa ikut? Wong saya mau kencing, kok!"

Saya pun tersenyum kecut. Tapi, yang lebih menyedihkan, wartawan TVRI yang berlarian sambil mengangkut kamera. Di daerah suku Badui ini kami bermalan di tenda-tenda. Bahkan, untuk mandi Pak Harto disediakan sebuah bak tertutup di tepi sungai.

Makanan kesenangan Pak Harto, antara lain sayur asem, sayur lodeh, dan ikan asin. Juga tahu dan tempe. Menu sederhana ini selalu disajikan pada saat makan siang setelah sidang kabinet paripurna di gedung sekretariat kabinet. Kami para wartawan selalu ikut makan bersama.

Di samping itu, Pak Harto tiap hari Selasa selalu memimpin sidang kabinet terbatas bidang ekonomi. Dia tidak menginginkan terjadinya gejolak harga, dan meminta para menteri untuk selalu memantau harga-harga sembilan bahan pokok.

Kalau ada acara di Istana Negara, pihak perusahaan rokok yang menjadi sponsor menyediakan rokok produksinya. Yang menjadi rebutan para wartawan adalah korek api dengan tanda kepresidenan. Maklum, ketika itu larangan merokok belum seperti sekarang.

Saya pernah ditanya oleh Menteri Sekretaris Kabinet Ismail Saleh yang kala itu juga menjadi pemimpin umum Kantor Berita Antara, "Bagaimana menjadi wartawan Istana?"

Saya jawab, "Stres Pak! Saya memang hampir tiap hari harus terburu-buru, diuber waktu." Persisnya harus mengejar deadline atau tenggat, yakni batas waktu kapan laporan atau tulisan harus siap disiarkan. Sering kali kita harus membuat empat atau lima berita kegiatan Presiden per hari.

Untuk menghilangkan stres, humor merupakan obat mujarab. Antara lain, dengan memplonco wartawan baru. Ketika terjadi ‘gerakan antikorupsi’ awal 1970-an yang dikumandangkan oleh para pemuda dan mahasiswa yang tiap hari melakukan demo, untuk meredamnya Pak Harto berjanji tiap hari Kamis akan ‘membuka praktik’ untuk menerima mereka dan masyarakat yang ingin melapor.

Sehari sebelum acara ‘buka praktik’, saya bergurau dengan mengatakan, besok presiden akan menerima Ibu Dewi Sukarno dan Mochtar Lubis. Lalu ada teman lain yang nimbrung, juga Adnan Buyung Nasution dan beberapa nama lain.

Rupanya guyonan kami itu ditanggapi serius oleh sebuah surat kabar berbahasa Inggris yang reporternya baru pertama kali bertugas di Istana. Terbukti, keesokan harinya head line suratkabar ini memuat berita yang kami guraukan itu. Untungnya tidak ada masalah, meski saya dibikin degdegan, karena sayalah yang memulainya.