Rabu , 29 March 2017, 07:00 WIB

Bukti-Bukti Islam Sampai ke Indonesia Sejak Abad Pertama Hijriah

Red: Karta Raharja Ucu
shalat tahajud/ilustrasi
shalat tahajud/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Gujarat, sebuah negara bagian di India barat pada Maret 2002 sempat mendapat perhatian dunia akibat terjadinya pertumpahan darah antara Hindu dan Muslim. Peristiwa dimulai ketika kelompok militan Hindu dalam jumlah besar mendatangi Ayodhya. Mereka sedang menyiapkan pembangunan sebuah kuil di kompleks Masjid Babri, yang didirikan 1528 pada masa Kesultanan Mongol.

Masjid itu, yang diklaim warga Hindu sebagai tempat lahirnya Rama, telah mereka bakar pada Desember 1992. Peristiwa yang terjadi hampir 10 tahun lalu telah menimbulkan kerusuhan besar di Ayodhya, menewaskan 2.000 orang. Dalam peristiwa itu, hingga Kamis (7/3/2002), sebanyak 667 orang dikabarkan tewas, sebagian besar Muslim dibakar hidup-hidup.

Sementara jumlah tewas diperkirakan akan bertambah, karena masih terdapat 220 orang luka parah yang dirawat di rumah sakit, banyak di antaranya dalam keadaan kritis. Gujarat, nama yang sejak lama dikenal bangsa Indonesia. Karena dalam buku-buku sejarah pada masa kolonial Belanda disebutkan Islam di Indonesia disebarkan dari Gujarat, India. Mengacu pada pendapat Prof Christian Snouck Hurgronye, sebagai kepala Kantor Penasihat Urusan Arab dan Islam di Hindia Belanda yang dilontarkan pada 1809. Dalam seminar Masuknya Islam di Indonesia 17–20 Maret 1963 di Medan, pendapat Snouck dan para orientalis Belanda itu dibantah keras.

Seminar empat hari yang dihadiri para sejarawan, ilmuwan dari berbagai perguruan tinggi dan tokoh ulama se-Indonesia menyimpulkan, Islam untuk pertama kali telah masuk ke Indonesia pada abad pertama Hijriah langsung dari Arab. Sedangkan daerah pertama yang didatanginya adalah pesisir Sumatra.

Setelah terbentuknya masyarakat Islam, maka raja Islam pertama berada di Aceh. Yakni Sultan Djohansah yang memerintah antara 601–631 Masehi. Pendapat Snouck yang menyebutkan Islam berasal dari India, kata Hamka dalam prasarannya di seminar itu, merupakan jarum halus untuk menentang pengaruh Arab yang ia dapati ketika Aceh berperang melawan Belanda.

Sedangkan Mr Hamid Algadri dalam bukunya ‘Politik Belanda terhadap Islam dan Keturunan Arab di Indonesia’, menilai pernyataan Snouck itu terkait dengan sikap Belanda terhadap keturunan Arab di zaman kolonial yang berusaha memisahkan mereka dari bangsa Indonesia. Sedangkan Snouck bertindak sebagai ilmuwan yang ingin mengabdikan ilmunya untuk kepentingan kolonialisme Belanda di Indonesia. Yakni membebaskan orang Indonesia dari Islam.

Salah satu usaha mencapai tujuan itu ialah menjauhkan orang Indonesia dari keturunan Arab yang identik dengan Islam. Sedangkan menurut Hamka, Belanda merasa lebih aman dalam menjalankan politik kolonialnya, bila Islam dinyatakan datang dari India, bukan dari Arab.

Tapi, bagaimanapun tidak dapat dipungkiri, sebelum para pedagang dan kemudian para mubalig Islam (termasuk walisongo) berdatangan di Indonesia, mereka terlebih dulu singgah di Gujarat. Kala itu pelayaran masih menggunakan kapal layar, dengan Gujarat sebagai daerah persinggahan utama. Daerah ini sejak pra-Islam sudah didatangi para saudagar Timur Tengah. Maka, pada masa Islam agama ini cepat berkembang di Gujarat. Gujarat memiliki reputasi dalam penyiaran Islam. Sejak abad ke-13 sampai beberapa abad kemudian, kawasan ini berada dibawah kesultanan-kesultanan Islam.

Pada masa Sultan Ahmad I (1411-1412), ia membangun ibukota baru yang dikenal dengan namanya sendiri Ahmadabad sebagai ganti Anahilwada (masa Hindu). Saat ini penduduk Ahmadabad 4,5 juta jiwa. Sedang umat Islam satu juta jiwa.

India sendiri yang berpenduduk sekitar satu miliar jiwa, 14 persen atau 140 juta adalah Muslim: merupakan umat Islam terbesar kedua di dunia, setelah Indonesia. Ketika India merdeka pada 1947, banyak umat Islam yang memilih bergabung dengan Pakistan. Di antaranya, 40 juta memilih tetap berada di India. Posisi umat Islam di India yang minoritas itu jadi terancam Agustus 1989, ketika PM Rajiv Gandhi memberikan izin pada umat Hindu untuk mendirikan kuil di Masjid Babri.

Akibatnya, tempat beribadah umat Islam yang telah berusia lebih empat setengah abad itu, tanpa rasa hormat sedikit pun dibakar kelompok militan Hindu. Peristiwa menyedihkan itu harus dibayar mahal, dengan jatuhnya banyak korban. Yang menyedihkan, partai politik di India, baik Kongres maupun Bharatiya Janatha Partai (Hindu Nasionalis) yang kini berkuasa, telah mengangkat masalah Ayodhya untuk menarik pemilih Hindu.

Seperti partai yang disebut terakhir ini, yang dipimpin PM Atal Bahari Vijpayee memperoleh kemenangan dalam pemilu lalu berkat pernyataan dalam kampanye bahwa Ayodhya adalah milik orang Hindu. Sebagai umat beragama, kita turut prihatin terhadap tragedi yang terjadi di India. Karena itu, umat Islam di Indonesia berharap agar kelompok Hindu tidak memaksakan untuk membangun kuil di kompleks masjid Babri.