Jumat , 17 Maret 2017, 08:00 WIB

Gaya Pacaran Muda Mudi Jakarta Tahun 1950-an

Red: Karta Raharja Ucu
Gahetna.nl
Sukarno
Sukarno

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Pada 1950-an di Jakarta belum banyak tempat hiburan seperti sekarang. Maklum penduduknya baru sekitar 1,5 juta jiwa. Pulang sekolah tidak ada remaja yang berkeliaran ke mal-mal dan supermarket seperti sekarang. Memang, pada 1950-an belum ada pusat perbelanjaan megah yang nongol. Paling-paling ke bioskop, meskipun kalau filmnya bagus kita harus rela membeli karcis catutan atau rebutan sampai mandi keringat di loket.

Kala itu di kampung-kampung remaja putra umumnya bermain sepak bola. Hampir seluruh kampung di Jakarta punya perkumpulan sepak bola dan ada kompetisi antarkampung. Kini banyak lapangan sepak bola sudah berubah fungsi jadi hutan beton. Sedangkan putrinya membantu para ibu memasak. Meskipun masih ada gadis yang dipingit tapi sudah jarang sekali.

Saat itu, Keluarga Berencana (KB) belum kepikiran sama sekali. Para ibu punya anak 10 atau lebih tidak ada masalah. Bung Karno sendiri kurang setuju terhadap KB. Pernah dia diwawancarai Louis Fischer, penulis dan wartawan AS.

Ketika ditanya soal KB justru Bung Karno mengatakan bahwa penduduk Indonesia yang kala itu belum mencapai 100 juta jiwa dapat ditambah hingga mencapai 250 juta jiwa. Alasannya, masih banyak pulau besar di Indonesia yang dapat menampung penduduk seperti Kalimantan, Sumatra, Papua, dan Sulawesi.

Meskipun tidak seagresif remaja sekarang, kala itu pacaran sudah merupakan hal biasa. Biasanya di bioskop-bioskop atau tempat hiburan. Dimulai saling menyapa kalau mendapat tanggapan akan berjalan mulus. Pacaran tempo doeloe tidak memerlukan doku (uang) banyak. Cukup membelikan karcis bioskop dan mentraktir makan. Bakso dan siomay belum muncul. Jumlah rumah makan Padang masih bisa dihitung dengan jari. Mentraktir pacar bisanya nyate atau makan soto mi.

Remaja Jakarta pada medio 1950-an tidak berani berkeliaran memakai blue jeans atau celana ketat seperti sekarang. Tidak disenangi aparat dan dianggap bukan kepribadian Indonesia, tapi Barat. Untuk memakai celana jins kita harus berani menghadapi risiko. Seringkali diadakan razia di jalanan aparat. Mereka membawa botol dan bila botol tidak masuk ke ujung celana tidak ampun lagi aparat akan memotongnya.

Bung Karno juga tidak senang terhadap rambut gondrong yang meniru grup musik The Beatles dari Inggris. Bahkan dia menyerukan agar rambut gondrong diplontos. Maka jadilah ada polisi yang merazia rambut gondrong dengan membawa gunting.

Si Mamat menyumpah-nyumpah ketika rambutnya diplontos hingga ia harus pergi ke tukang cukur untuk digunduli. Karena, cara polisi mengguntingnya tidak profesional hingga kepalanya jadi pitak-pitak.

Kala itu, kemeja di Jakarta umumnya lengan putih dan berwarna polos. Pernah muncul baju koran dengan tulisan-tulisan berita. Tapi, mode baju pria ini tidak bertahan lama. Waktu itu celana impor seperti wol dan gabardine hanya dipakai orang berduit. Yang banyak dipakai remaja adalah kain lurik dijadikan celana yang kini sudah hampir menghilang. Sedangkan para ibu masih memakai kebaya dengan kerudung. Termasuk digunakan istri para ulama terkemuka. Maklum kala itu jilbab belum muncul.

Rambut remaja putri ketika itu umumnya dikepang satu atau dikepang dua. Ada juga model rambut buntut kuda di bagian belakang kepala. Tidak jarang yang hanya dikonde. Kala itu, banyak yang menggunakan konde dua yang oleh masyarakat disebut konde berunding.

Sedangkan rambut pria banyak meniru gaya rambut bintang Hollywood, seperti Tony Curtis dan Rock Hudson bintang film AS terkenal kala itu. Yakni, model rambut tanpa belahan dengan jambul tinggi yang ditarik ke depan dan di kiri kanannya di sisir lurus kebelakang. Agar kelihatan lebih keren mereka memakai kacamata Ray Band.

Pada 1950-an film Melayu (kini Malaysia) banyak diputar di bioskop-bioskop kelas bawah. Di antara bintangnya yang terkenal adalah almarhum P Ramlee. Bintang Malaysia yang berasal dari Aceh ini berambut keriting. Para pemuda banyak meniru mode rambutnya itu. Karena salon belum banyak, mereka mengeriting rambut di kaki lima.

Cara mengeritingnya dengan besi yang dipanaskan dan setelah didinginkan sebentar, besi pun digunakan untuk menggulung rambut supaya keriting. Minyak rambut terkenal ketika itu bermerek Lavender, terbuat dari vaseline pekat yang diberi wewangian. Tapi banyak yang menggunakan minyak kelapa, terutama ibu-ibu untuk meluruskan rambutnya.

Pada 1950-an di Jakarta sudah banyak bermunculan geng-geng remaja. Seperti Taratulu dan Marabunta yang diambil dari nama film balatentara semut dalam film Hollywood. Juga di kampung-kampung para remaja membentuk geng-geng. Seperti Kwitang Boys, Sate Boys (warga Madura), dan Canary Boys.

Ada juga geng warga anak tangsi, seperti Berland di Matraman dan Geng Siliwangi di Lapangan Banteng yang kini sudah menjadi pertokoan. Seringkali geng-geng itu saling bentrok, terutama saat rebutan cewek. Pemuda Kwitang dan Kali Pasir yang dipisah Kali Ciliwung sering bentrok hanya gara-gara soal kecil.

Perkelahian antarsekolah, apalagi antarperguruan tinggi, belum terjadi kala itu. Juga model tawuran dengan saling melemparkan batu dan memakai benda tajam belum ada. Main kerubutan dianggap tidak kesatria ketika itu. Istilah preman dari kata Belandsa vrijman juga belum dikenal waktu itu.

Narkoba, yang kini sudah menyebar ke sekolah-sekolah dan perguruan tinggi, ketika itu juga belum dikenal. Paling-paling hanya segelintir yang mengisap ganja. Sedangkan merek rokok terkenal ketika itu Commodore, Escort, Kansas produksi BAT (British American Tobacco) yang pabriknya di Cirebon, dan Lancer yang pabriknya di Jalan Rajawali, Gunung Sahari, Jakarta.