Selasa , 07 Maret 2017, 07:00 WIB

Ernest, Zakir Naik, dan Cerita Warga Tionghoa Mencari Peruntungan di Batavia

Red: Karta Raharja Ucu
Gahetna.nl
Kampung cina di Batavia tahun 1910.
Kampung cina di Batavia tahun 1910.

REPUBLIKA.CO.ID, Dua hari terakhir jagat dunia maya kembali diramaikan dengan cicitan seorang aktor sekaligus komedian Ernest Prakarsa. Dalam cicitannya, jebolan sebuah kompetisi stand up comedy tersebut mengatakan jika ulama internasional, Dr Zakir Naik menjadi penyumbang dana ke organisasi ISIS. Ia mengaku mendapatkan referensi dari sebuah situs internasional.

"JK dgn hangat menjamu Zakir Naik, org yg terang2an mendanai ISIS. Sulit dipahami," tulis Ernest di akun Twitternya. Namun kini postingan itu sudah dihapus.

Cicitan itu pun menimbulkan kontroversi dan ribuan netizen mengecam Ernest. Tak sampai 24 jam ia pun meminta maaf lewat akun media sosial miliknya.

Dari sekian banyak netizen yang geram atas cicitan Ernest, banyak yang mengkaitkan dia dengan keturunan Cina. Ada yang menyebut jika warga Cina sudah sepantasnya menghormati ulama karena mencari nafkah di negeri orang (Indonesia). Lalu benarkah pernyataan netizen terkait warga keturunan Tionghoa yang merantau ke Indonesia. Mari kita cari tahu.

Permata (Perhimpunan Masyarakat Tionghoa) pada masa kampanye Pilpres 2009 menyatakan dukungannya kepada Capres SBY dan Cawapres Jusuf Kalla. Kepada SBY, Permata meminta perlindungan agar tak akan terjadi lagi aksi anti-Cina semacam kerusuhan Mei 1998. Menurut peneliti dan penulis masalah Cina, Leo Surjadinata, diperkirakan jumlah etnis ini di Indonesia tiga persen dari jumlah penduduk atau sekitar enam setengah juta jiwa. Banyak yang menilai perkiraan ini terlalu kecil, kemungkinan di atas sepuluh juta jiwa.

Rupanya warga Tionghoa masih trauma akibat tekanan selama 33 tahun. Dalam masa itu ratusan sekolah yang didirikan Tiong Hwa Hwee Kwan (THHK) ditutup, termasuk Universitas Res Publica yang kini jadi Trisakti. Sejumlah rumah sakit yang didirikan sejak masa kolonial Belanda diganti namanya. Salah satunya RS Yang Seng Ie di Mangga Dua, Jakarta Kota, yang kini jadi RS Husada. Nama Tionghoa diganti nama pribumi, seperti Jawa, Kristen atau Islam.

Menurut Prof Dr James Danandjaja, guru besar antropologi Fakultas ISIP UI, di Jawa Timur ada wanita Tionghoa yang pergi ke ahli operasi plastik agar matanya tak sipit lagi. Namun, karena ditangani dokter kurang ahli, syaraf matanya justru rusak hingga tak dapat dibuka. Akibatnya, wanita yang kecewa itu berusaha bunuh diri. ”Saya sendiri selama 32 tahun jika tidak terpaksa segan untuk mengaku orang Cina,” kata James dalam salah satu artikelnya di Buletin Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB).