Jumat , 03 Maret 2017, 07:00 WIB

Sambil Tersenyum Raja Faisal Mengatakan Ahlaan Wa Sahlaan kepada Saya

Red: Karta Raharja Ucu
simec2016.org
Raja Faisal bin Abdulaziz al-Saud.
Raja Faisal bin Abdulaziz al-Saud.

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Ketika tengah membuat berita reportase kegiatan presiden Soeharto di gedung Antara, Jalan Antara Pasar Baru Jarta Pusat, Oktober 1974, tiba-tiba resepsionis Antara memberitahukan ada telepon untuk saya. Yang menelpon ternyata Pak Bustaman, yang saat itu menjadi pembantu dekat Menteri Sosial HMS Mintaredja SH.

"Ada kabar gembira untuk Anda. Bersama wartawan Merdeka, Adirsyah (kini sudah almarhum), menteri menunjuk Anda untuk menunaikan ibadah haji," ujar Minteredja.

Sulit membayangkan bagaimana gembiranya saya, mendapat undangan ini. Meski setahun sebelumnya (1973) saya sudah menunaikan ibadah umrah setelah menghadiri ulang tahun ke-10 kemerdekaan Aljazair di Aljir, namun dapat pergi ke Tanah Suci pada musim haji, merupakan rahmat yang tak terkira bagi saya. Meskipun saya tidak melakukan selamatan, tapi beberapa hari menjelang keberangkatan, tamu-tamu termasuk para kerabat berdatangan untuk memberikan doa restu. Saat hendak meninggalkan kediaman di kawasan Tanah Abang menuju karantina haji di bekas markas KKO (kini Marinir) samping RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, saya yang berpakaian jas dan peci hitam (waktu itu belum ada seragam haji), dilepas secara meriah kumandang azan.

Banyak di antaranya meminta saya untuk memanggil-manggil namanya di depan Ka'bah dan menyampaikan salam pada Rasulullah saat berziarah ke Madinah. Begitu banyaknya permintaan hingga saya sendiri banyak lupa nama-nama mereka.

Kala itu karantina haji berlangsung selama tiga hari. Istri dan anak-anak yang datang menjenguk, hanya bisa melihat saya dari luar pintu pagar. Kami dilarang bersalaman, kecuali bercakap agak jauh dengan suara agak keras. Sekitar pukul tiga dini hari, kloter kami menuju Bandara Halim Perdanakusumah, tanpa bisa pamitan lebih dulu dengan keluarga. Keberangkatan pesawat kloter saya, hampir bersamaan berangkat pula kloter dari embarkasi Surabaya.

Saat itu, pesawat yang berangkat dari Surabaya ini mengbelami kecelakaan di Kolombo, Srilangka. Seluruh calon jamaah haji yang berjumlah 300 orang termasuk para awak pesawat meninggal dunia.

Kami mengetahui kecelakaan ini ketika tiba di Tanah Suci. Tapi di Jakarta keluarga menjadi panik. Adik saya, Ali Shahab sampai ke Halim PK dan baru menjadi lega setelah mendapat informasi bahwa pesawat yang jatuh berasal dari Surabaya. Waktu itu, untuk melakukan hubungan telepon dari Tanah Suci ke Tanah Air, masih sangat sulit.

Waktu itu, Jakarta menjadi transit bagi calon-calon jamaah haji daerah lain, seperti Kalbar, Sumsel, Jawa Barat dan DKI sendiri. Sementara fasilitas pengasramaan dan karantina terbatas. Asrama haji di Pondok Gede belum lagi dibangun. Asrama haji di Cempaka Putih hanya dapat menampung tidak lebih dari 1.000 jamaah.

Jumlah jamaah haji Indonesia yang kini lebih dari 200 ribu orang, kala itu tidak lebih dari 40 ribu orang. Jumlah ini pun sudah membeludak, karena tahun-tahun sebelumnya saat ke tanah suci melalui kapal laut, jamaah tidak pernah lebih dari 10 ribu orang.

Waktu itu bukan main sulitnya menunaikan ibadah haji. Bisa menunggu bertahun-tahun. Bahkan seringkali terjadi, bila gilirannya tiba, calon jamaahnya sudah meninggal dunia.

Setiba di Tanah Suci, sebagai wartawan, saya dan rekan saya dari Tanah Air, segera mendatangi KBRI yang kala itu kantornya berada di Jeddah. Saya beruntung, ketika bertemu dengan Pak Arifin, Atase Penerangan RI di Arab Saudi, disebutkan Kementerian Penerangan Arab Saudi, setiap tahun mengundang dua orang wartawan dari negara-megara Islam sebagai tamu negara.

"Karena belum ada wartawan Indonesia yang terdaftar, bagaimana kalau saya daftarkan anda berdua sebagai tamu negara." Tentu saja tawaran ini kami terima baik.

Setelah berstatus sebagai tamu negara, kami di tempatkan di Hotel Kandara, hotel terbaik di Jeddah kala itu. Tidak lagi di gedung penginapan haji, yang saat itu keadaannya masih menyedihkan. Satu kamar yang harusnya hanya untuk delapan orang. dijejali sampai 40 orang.

Untuk transportasi dari Jeddah ke Mekkah, kami disediakan sebuah mobil Chrysler buatan Amerika Serikat. Kala itu saya merasa seperti seorang turis. Tapi ada satu hal yang membuat saya menyesal hingga saat ini, meskipun kejadian itu sudah berlangsung puluhan tahun lalu. Ketika kami berkesempatan pagi-pagi sekali sebelum rombongan Raja Raja Faisal bin Abdulaziz al-Saud melakukan tawaf, kami pun diberi kesempatan untuk bertawaf, masuk dan shalat di
dalam ka'bah.

Sayangnya ketika dini hari saya dijemput di hotel, entah bagaimana saya masih tertidur. Rekan saya, almarhum Adirsyah, beruntung karena ia masuk dan shalat di dalam Ka'bah. Dia menyatakan sangat bersyukur bisa shalat di dalam Ka'bah. Termasuk gubernur DKI Ali Sadikin.

Di Arafah, kami juga ditempatkan di tempat ber-AC dengan tikar permadani, bersama sekitar 30-an wartawan luar negeri. Setelah wukuf di Arafah, dan melontar di Mina, kami diundang Raja Arab Saudi Faisal untuk menghadiri resepsi di Istana Kerajaan di Mina.

Saya sempat bersalaman dengan Raja Faisal, yang sambil tersenyum mengatakan, Ahlaan wa sahlaan. Dalam resepsi sejumlah askar (tentara) Arab Saudi menuangkan segelas kecil kopi kepada para tamu. Gubernur Ali Sadikin, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Mohamad Natsir, dan Habib Muhammad Alhabsyi, pimpinan majelis taklim Kwitang turut hadir.