Kamis , 02 Maret 2017, 18:00 WIB

Memeluk Raja Faisal di Bandara Kemayoran

Red: Karta Raharja Ucu
simec2016.org
Raja Faisal bin Abdulaziz Al Saud
Raja Faisal bin Abdulaziz Al Saud

REPUBLIKA.CO.ID, Bandar Udara Internasional Kemayoran, Jakarta, 10 Juni 1970 pukul 11.15 WIB, menjadi saksi bisu tibanya seorang pimpinan salah satu negara Islam terbesar di dunia, Raja Faisal bin Abdulaziz Al Saud. Raja kedua Kerajaan Arab Saudi tersebut menginjakkan kaki untuk kali pertama di Indonesia dan disambut meriah oleh Presiden Soeharto, sejumlah menteri, para ulama, dan rakyat Indonesia.

Alwi Shahab, wartawan senior Republika merawikan kepada saya terkait karisma Raja Faisal yang membuat negara-negara Barat kebakaran janggut. "Karismanya sangat luar biasa, dan dia begitu dicintai rakyat Indonesia," kata Abah Alwi, begitu ia biasa disapa saat berbincang, Kamis (2/3).

Saya, kata Abah Alwi, yang saat itu menjadi wartawan yang bertugas meliput di Istana Negara, ikut rombongan Pak Harto untuk menyambut Raja Faisal di Bandara Kemayoran. Waktu itu, Bandara Kemayoran sedang dalam pembangunan dan belum sepenuhnya rampung, tetapi tidak menyurutkan sambutan Pemerintah Indonesia akan kedatangan Raja Faisal.

"Dan kunjungan Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud ke Indonesia saat ini menjadi kunjungan kedua dari Kerajaan Saudi, setelah kakaknya dulu Raja Faisal, 47 tahun lalu."

Selain Presiden Soeharto, sejumlah ulama dan menteri juga ikut menyambut Raja Faisal. Seperti Menteri Agama KH Saifuddin Zuhri, dan Habib Muhammad Alhabsyi, pimpinan majelis taklim Kwitang. "Masih kuat ingatan saya waktu itu bagaimana senyum Raja Faisal saat disambut Pak Harto dan sejumlah ulama. Mereka saling menyalami dan saling mencium pipi. Mesra sekali kunjungannya," kata Abah yang lahir di Jakarta, 31 Agustus 1936 silam ini.

Bukan karena perkara remeh Raja Faisal ditunggu-tunggu kedatangannya oleh rakyat Indonesia. Saat memerintah, Raja Faisal sangat menentang Amerika Serikat, negara-negara Barat dan pendirian negara Israel. Raja Faisal yang menggantikan ayahnya Raja Abdul Aziz pada 2 November 1964 itu dicintai dunia Islam karena berani menentang Israel dan mendukung rakyat Palestina.

"Perjuangannya membela umat Islam dunia dan Palestina sangat dihargai. Ia juga memelopori kelompok-kelompok Islam menekan Israel," ucap Abah. Yang paling menonjol dari Raja Faisal adalah kebijakannya yang mampu menaikkan harga minyak dunia hingga menguntungkan negara-negara Timur Tengah dan negara-negara APEC penghasil minyak, termasuk Indonesia.

Saat di Bandara Kemayoran, Pak Harto tidak didampingi Ibu Tien Soeharto. Kunjungan Raja Faisal, kata Abah, sangat ditunggu karena saat itu Indonesia sedang mendekatkan diri ke dunia Arab. Satu pengalaman yang tidak akan dilupakan Abah Alwi saat ikut rombongan Presiden Soeharto adalah bisa memeluk Raja Faisal.

"Usia saya masih sangat muda saat itu, belum ada 50 tahun. Tapi saya bisa bersalaman dan memeluk badannya (Raja Faisal). Rasanya waktu bertemu Raja Faisal seperti mendapat uang banyak dan gembira sekali. Beberapa teman wartawan juga ikut disalami. Orangnya (Raja Faisal) baik sekali. Dan Raja Faisal harum sekali badannya," ujar Abah bercerita.