Sabtu , 30 September 2017, 12:03 WIB
Pengkhianatan G30S/PKI

Mengenal 7 Pahlawan Revolusi dan 3 Anumerta yang Menjadi Mangsa PKI

Red: Karta Raharja Ucu
dok. Republika
Monumen Pancasila Sakti
Monumen Pancasila Sakti

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Karta Raharja Ucu, wartawan Republika

Hari ini tepat 52 tahun silam, setidaknya delapan nyawa menjadi mangsa gerakan revolusi yang digaungkan Partai Komunis Indonesia (PKI). Enam di antaranya jenderal TNI, dua lainnya adalah pengawal serta putri seorang jenderal yang berhasil selamat dari percobaan penculikan dan pembunuhan. Satu korban lainnya dari kepolisian, KS Tubun.

Penculikan dan pembunuhan pada 30 September tidak hanya terjadi di Jakarta, tapi juga di Yogyakarta. Di Yogyakarta peluru pasukan Cakrabirawa juga merenggut nyawa komandan Korem 072/Pamungkas dan kepala stafnya. Mereka adalah Brigjen TNI Katamso dan Kolonel Sugiyono yang dihabisi tanpa ampun di Kota Pelajar.

Operasi pembantaian yang dikomandoi Letkol Untung itu bergerak atas dasar tuduhan, bahwa para jenderal sudah membentuk Dewan Jenderal yang berencana menggulingkan pemerintahan Presiden Sukarno. Sebagai penghormatan, 10 dari 11 korban revolusi PKI yang gugur tersebut diberikan tanda penghormatan Pahlawan Revolusi dan Anumerta. Kami mencoba merangkum profil singkat tujuh pahlawan revolusi dan tiga korban PKI yang mendapat anugerah anumerta, serta data diri Ade Irma yang kami susun dari berbagai sumber.

1. Jenderal Ahmad Yani
Jenderal Ahmad Yani lahir di Purworejo pada 19 Juni 1922. Ia mengenyam pendidikan formal di HIS (sekolah setingkat SD), MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs/setingkat Sekolah Menengah Pertama) dan AMS (Algemne Middelberge School/setingkat Sekolah Menengah Atas). Karir militer Jenderal Yani dimulai saat ia mengikuti wajib militer yang dicanangkan Pemerintah Hindia Belanda di Malang. Ketika Jepang menduduki Indonesia, Ahmad Yani bergabung dengan Pembela Tanah Air (PETA).

Di bidang militer, Ahmad Yani mengantongi sederet prestasi. Ia pernah menahan Agresi Militer pertama dan kedua Belanda. Prestasinya kian mentereng setelah memimpin pasukan melumpuhkan pemberontak DI/TII dan Operasi Trikora di Papua Barat serta Operasi Dwikora menghadapi konfrontasi dengan Malaysia.

Catatan prestasi mengagumkan itu mengantarkan Ahmad Yani menjadi Menteri/Panglima Angkatan Darat. Saat itu Jenderal Yani menolak usul Partai Komunis Indonesia (PKI) yang menginginkan pembentukan Angkatan Kelima yaitu dipersenjatainya buruh dan tani.

Gencarnya Jenderal Yani menentang PKI membuatnya masuk dalam target penculikan dan pembunuhan PKI pada Gerakan 30 September. Saat penculikan, pasukan Cakrabirawa menembaki tubuh Jenderal Ahmad Yani hingga berlubang. Dengan tubuh yang penuh luka tembak, jenazahnya dibawa dan dibuang ke dalam sumur di Lubang Buaya.

2. Letjen Suprapto
Jenderal kelahiran Purwokerto pada 2 Juni 1920 ini merupakan lulusan MULO dan AMS Yogyakarta. Sepanjang menjadi anggota TNI, ia sering dipindah tugas.

Ia pernah menjadi Kepala Staf Tentara dan Teritorial (T&T) IV/ Diponegoro di Semarang, menjadi Staff Angkatan Darat di Jakarta, dan kembali ke Kementerian Pertahanan.

Pascapemberontakan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) padam, Suprapto dipindah ke Medan menjadi Deputi Kepala Staf Angkatan Darat untuk wilayah Sumatera.

Suprapto adalah salah satu Perwira Tinggi yang berseberangan dengan pemikiran pentolan PKI, DN Aidit yang ngotot ingin mempersenjatai buruh dan tani dengan membentuk Angkatan Kelima. Karena alasan itulah Suprapto masuk dalam daftar jenderal yang harus dihabisi.

3. Letjen MT Haryono
Putra seorang asisten Wedana di Gresik ini lahir di Surabaya pada 20 Januari 1924. MT Haryono menimba ilmu di ELS (setingkat sekolah dasar), HBS (setingkat sekolah menengah umum) dan Ika Dai Gakko (sekolah kedokteran di masa pendudukan Jepang) di Jakarta. Sayangnya, ia tidak menyelesaikan pendidikan kedokteran itu.

Jenderal bintang tiga ini dikenal sebagai orang yang sangat cerdas. Seperti Mohammad Hatta, MT Haryono diketahui fasih berbicara sejumlah bahasa asing, seperti Belanda, Inggris, dan Jerman. Tak heran ia pun menjadi acap kali ditunjuk menjadi perwira penyambung lidah dalam setiap perundingan. Seperti ketika Konferensi Meja Bunda (KMB), Haryono ditunjuk sebagai Sekretaris Delegasi Militer Indonesia.

Sebelum bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Haryono sudah aktif berjuang dengan para pemuda mempertahankan kemerdekaan. Ia juga vokal menentang PKI dan kroninya. Tak heran namanya pun masuk dalam daftar jenderal yang akan diculik.