Senin , 30 September 2013, 22:01 WIB

Waspadai Gerakan Muda PKI di Facebook!

Rep: Rosita Budi Suryaningsih/ Red: Citra Listya Rini
Hasyim Muzadi
Hasyim Muzadi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Publik dikagetkan dengan munculnya sebuah akun jejaring sosial Facebook dengan nama "Bangkitkan PKI". Gerakan untuk memunculkan kembali ideologi komunisme ini dinilai sangat membahayakan oleh tokoh-tokoh iIlam.

Laman akun Facebook ini telah mendaftarkan ke Facebook sejak 20 November 2011. Dengan gambar cover berlatar warna merah dilengkapi simbol palu arit dan dibungkus dengan simbol bintang. Tertulis juga kata 'oteyectbenhar bonha' di sana.

Untuk gambar profilnya, laman ini memuat lambang negara indonesia, dengan ditambahi lambang palu arit dan mata dalam wajah berwarna merah putih di bawahnya. Yang membuat kaget hingga Senin (30/9), sudah ada 2.142 yang menyukai akun ini. 

Dalam keterangan tentang akun ini, di situ dijelaskan bahwa laman ini merupakan organisasi kepemerintahan. Keterangan didalamnya tertulis "Tidak bisa di pungkiri bahwa kejayaan negri ini akan di mulai dengan Bangkitnya PKI. Karena hanya dengan hadirnya KOMUNIS, kesenjangan sosial akan terpecahkan."

Di dalamnya banyak tulisan dengan nada provokatif yang kasar. Dari membela bahwa PKI bukanlah sebuah hal yang salah namun merupakan sebuah paham biasa, hingga meminta publik untuk mengucapkan ulang tahun pada hari lahirnya komunis. Setiap statusnya selalu ditutup dengan kalimat "Salam Nasakom".

Hadirnya akun Facebook ini, menurut mantan ketua umum PBNU, KH Hasyim Muzadi, adalah tamparan bagi Indonesia, terutama bagi umat Islam. "Jadi kalau sudah ada PKI, baik secara fisik ataupun nama, itu bertentangan di Pancasila dan NKRI," katanya saat dihubungi Republika, Senin (30/9).

Ia menyatakan memang gerakan komunisme global kini telah berubah. Perbedaan ideologi antara barat yang kapitalis dengan timur kini sudah tak menonjol lagi, setelah berakhirnya Perang Dingin.

Meski masih sering bersinggungan, namun menurutnya komunisme sudah runtuh seiring runtuhnya tembok Berlin di Jerman dulu. Begitu pula dengan pemikiran ekonomi proletariat, juga pecahnya Uni Soviet. 

"Kini yang ada adalah kolaborasi antara barat dan timur, seperti Cina misalnya," ujarnya.