Sabtu , 12 August 2017, 02:40 WIB
HUT Bung Hatta

Ekonomi-Politik Bung Hatta Pembendung Kemiskinan

Rep: Melisa Riska Putri, Eko Supriyadi/ Red: Bayu Hermawan
Bung Hatta
Bung Hatta

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peristiwa pengungkapan sindikat penjualan ginjal di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Januari tahun lalu, masih terekam jelas. Dasep bersama rekan-rekan asal Desa Wangisagara, Kecamatan Majalaya, terpaksa menjual organ vital itu kepada sindikat perdagangan dari desa tersebut.

Kisaran harga ginjal berkisar antara Rp 70 juta sampai Rp 75 juta. Penelusuran Republika menemukan kemiskinan menjadi alasan di balik langkah nekat Dasep. Ini karena dia memiliki tanggungan menghidupi adik-adik yang tinggal di Wangisagara. Hal itu dikonfirmasi Sekretaris Desa Wangisagara, Iis, yang menuturkan, dari total 4.300 keluarga, sekitar 2.000 keluarga di antara jumlah itu termasuk kategori miskin.

Kisah Dasep yang terkungkung kemiskinan hanya satu dari banyak contoh gambaran kemiskinan di Tanah Air. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Juli 2017, jumlah penduduk miskin per Maret 2017 mencapai 27,77 juta orang atau sekitar 10,64 persen dari jumlah penduduk.

Jumlah ini bertambah 6.900 dibandingkan September 2016 yang tercatat sebesar 27,76 juta orang. Angka kemiskinan ini diukur dalam Koefisien Gini (metode perhitungan ketimpangan pengeluaran) per Maret 2017 sebesar 0,393 atau relatif stagnan dibandingkan posisi September 2016 yang mencapai 0,394.

Beberapa waktu sebelumnya, Februari 2017, Oxfam dan INFID merilis temuan yang menyebutkan, harta milik empat orang terkaya di Indonesia setara dengan gabungan kekayaan 100 juta orang termiskin. Menurut laporan bertajuk "Global Wealth Databook", kendati jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan menurun dari 40 persen menjadi 8 persen sejak 2000, manfaat dari pertumbuhan ekonomi tidak tersebar secara merata.

Bertentangan

Fakta-fakta dan data-data ini jelas bertentangan dengan keinginan dan asa proklamator Republik Indonesia, Bung Hatta. Dikutip dari buku Pemikiran Pembangunan Bung Hatta, dia mengingatkan kepada semua pemangku kepentingan untuk siap melakukan pengorbanan.

Khususnya untuk mengatasi kemiskinan yang menjadi masalah bangsa bahkan jauh sebelum proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. "... Rakyat kita masih tetap miskin bahkan lebih miskin daripada sebelumnya, di tengah-tengah kekayaan alam yang melimpah ruah," ujarnya dalam pidato 50 tahun pergerakan Indonesia yang jatuh pada 19 Mei 1958.

Hatta pun meminta agar semua pihak ketika itu merenungkan keadaan rakyat. "Yang sungguh-sungguh berhak untuk mendapatkan nasib yang lebih baik, nasib yang sesuai dengan tujuan kita semula," katanya.