Selasa , 30 Mei 2017, 03:05 WIB

Balada Pria Penata Mahkota

Red: Karta Raharja Ucu
Gumanti Awaliyah/ Republika
Hasanudin sedang merapikan rambut pelanggannya. Hasan merupakan satu-satunya tukang cukur DPR yang tersisa di kawasan sekitar Jatinegara.
Hasanudin sedang merapikan rambut pelanggannya. Hasan merupakan satu-satunya tukang cukur DPR yang tersisa di kawasan sekitar Jatinegara.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Gumanti Awaliyah, wartawan Republika.co.id

Jam di ponsel pintar menunjukkan pukul 09.00 WIB ketika saya melintasi jalur pedestrian di Jalan Urip Sumoharjo, Jatinegara, Jakarta Timur, Selasa, 11 April 2017. Di salah satu sisi pagar Gereja Koinonia saya bertemu Hasan, satu-satunya tukang cukur 'DPR' (di bawah pohon rindang) yang masih setia dengan profesinya.

"Hasanudin," begitu pria berusia 60 tahun tersebut memperkenalkan diri. Ia adalah satu-satunya tukang cukur DPR di wilayah Jatinegara atau Mester yang tersisa. Tempat kerjanya bukan di ruang beratap, tapi mengharapkan rindangnya pohon belimbing yang tumbuh di atas jalur pedestrian. Pagi itu, Hasan bersedia membagi ceritanya selama puluhan tahun menekuni pekerjaannya sebagai seorang kapster.

“Saya Hasan, dari Leuwiliang, Bogor. Dulu di sini ada sekitar empat tukang cukur, tapi mereka berhenti," kata Hasan membuka percakapan.

Pria yang pagi itu memakai baju biru dan topi merah mengaku sudah menghabiskan 45 tahun hidupnya sebagai tukang cukur. Lima belas tahun terakhir dia memilih mangkal di Jatinegara, setelah sebelumnya berkeliling menjajakan jasanya sebagai penata mahkota kepala.

Hasanudin sedang merapikan rambut pelanggannya. Hasan merupakan satu-satunya tukang cukur DPR yang tersisa di kawasan sekitar Jatinegara. (Gumanti Awaliyah/ Republika)


Saban hari, Hasan membawa-bawa koper hitam yang sudah lusuh kulitnya. Ia sempat memperlihatkan isi koper miliknya. Ada peralatan untuk mencukur pelanggan, seperti cermin berukuran 20x10 sentimeter, dan gunting. Ia juga membawa satu buah kursi lipat, tas slempang, sapu lidi dan karung plastik bekas beras berukuran ukuran 56x90 sentimeter. Karung itu digunakan untuk membuang rambut pelanggannya yang telah dipangkas.

Pelanggan yang datang dalam satu hari, kata Hasan, tidak menentu. "Sekarang mah sepi. Kadang hanya dapat lima kepala (pelanggan), tiga kepala atau tidak sama sekali," ujar Hasan yang mengaku sudah membuka lapaknya sejak pukul delapan pagi.

Hasan memasang tarif untuk jasa cukur Rp 15 ribu per orang. "Tarif sebenarnya Rp 15 ribu, tapi suka ada yang ngasih Rp 10 ribu. Ya udah (tidak apa-apa)," ujar dia.

Itung-itung ngabantuan we, Neng (hitung-hitung membantu saja, Neng). Lumayan oge kan duitna (lumayan juga kan duitnya),” kata Hasan dalam bahasa Sunda.

Ia mengaku merantau ke Jakarta saat usianya baru menginjak 15 tahun. Hasan ikut pamannya yang membuka jasa cukur rambut di Jatinegara. "Bedanya paman punya lapak sendiri yang disewa dari orang lain," ujar Hasan sembari memegang gunting rambut.

Sang paman menurunkan ilmu memangkas rambut kepada Hasan. Namun, setelah pamannya meninggal dunia, Hasan kelabakan meneruskan usaha yang sudah berjalan 30 tahun tersebut. “Uang sewanya nggak kebayar, jadi saya putuskan untuk berkeliling,” kata Hasan merawikan.

Ia mengaku berkeliling ke banyak tempat, seperti Tebet, Kampung Melayu, dan lain-lain. Hingga akhirnya, dia merasa tubuhnya sudah tidak sanggup lagi menempuh perjalanan panjang seperti itu. “Ya, saya balik lagi ke Jatinegara. Saya lihat tempat depan gereja, lalu saya izin ke orang gerejanya. Alhamdulillah dapat izin sampai sekarang,” ujar ayah delapan anak tersebut.

Meski sudah banting tulang, Hasan mengakui pekerjaannya belum cukup untuk membiayai anak-anaknya sekolah. “Tapi anak saya itu suka bilang, ‘ya tidak apa-apa Pak, yang penting Bapak sudah usaha, kita berdoa saja’,” kata Hasan sembari tersenyum.

Perbincangan kami sempat terhenti saat seorang pria menghampiri Hasan. Hasan mempersilakan pelanggannya duduk di kursi lipat, menghadap cermin yang disandarkan di atas koper hitam lusuhnya yang digantung di sela-sela pagar gereja. Hasan terlihat tangkas memainkan 'peralatan tempurnya'.

Sunarto, nama pelanggan Hasan. Pensiunan tentara itu mengaku sudah sering minta dicukur rambut pada Hasan. “Iya, yang penting rapi kalau cukur rambut itu," kata Sunarto.

Hasan yang sudah menginjak usia 60 tahun, ternyata masih sangat lihai dan teliti dalam memotong rambut. Ada delapan alat cukur yang Hasan sediakan, yakni dua buah gunting stainless, sisir rambut kecil, kumis jenggot, satu buah pisau kecil, gunting kodok/gunting capit, spons pembersih rambut, dan terakhir sikat yang biasa dipakai mencuci, yang digunakan Hasan untuk membersihkan rambut pelanggannya.

Cukup 10 menit, rambut Sunarto pun sudah dipangkas rapi. "Enaknya di sini, nggak harus antre, dan memang sudah biasa juga minta cukurin ke Pak Hasan,” kata Sunarto.

Seperti ungkapan lawas, rambut adalah mahkota jiwa. Sehingga profesi pemangkas rambut seperti 'penempa' mahkota di atas kepala. Serasinya model rambut dengan bentuk wajah, akan membuat seseorang seperti mengenakan sebuah mahkota di kepala. Karena itulah, tak heran banyak orang yang menyerahkan rambutnya untuk dipangkas kepada tukang cukur kepercayaannya.

Meski di mata sebagian masyarakat profesi penata rambut di pandang remeh, tapi pekerjaan tersebut sebenarnya cukup bergengsi. Setidaknya, harkat dan martabat para tukang cukur terangkat saat beberapa di antaranya dipercaya menata mahkota para kepala negara.

Agus Wahidin, misalnya. Ia satu dari sedikit tukang cukur yang beruntung menjadi penata rambut seorang presiden. Demi menemui Agus, saya pun berangkat menuju Bekasi, salah satu kota satelit Jakarta.

Perjalanan selama sekitar tiga jam dari kantor menuju Gang Jengkol, Jalan Hankam, Ujung Aspal, Bekasi, Jawa Barat, harus saya tempuh untuk bertemu dengan salah satu tukang cukur andal dari Garut, Agus Wahidin. Jam di ponsel menunjukkan pukul 18.10 WIB, ketika saya sampai ke Pangkas Rambut Tiara 2, salah satu cabang pangkas rambut yang dimiliki Agus. Gerimis sore itu, mengiringi perjalanan saya ketika menyusuri Gang Jengkol.

Karena sudah memangut janji, Agus ternyata telah lama menunggu kedatangan saya di tenpat pangkas rambut yang berjarak sekitar 200 meter dari jalan raya itu. "Iya, Neng silakan masuk," kata Agus sambil mempersilakan duduk di salah satu kursi tunggu di tempat pangkas rambut miliknya. Pangkas rambut tersebut tidak terlalu luas, hanya sekitar 10x3 meter persegi. Area itu hanya cukup menampung dua kursi untuk memangkas rambut pelanggannya.

Suara azan Magrib sudah berkumandang 15 menit lalu. Kami memutuskan menunaikan shalat Maghrib terlebih dahulu sebelum berbincang lebih lanjut. Ketika itu, Agus mempersilakan saya mengambil air wudhu di kamar mandi belakang di pangkas rambut tersebut. Saya pun mengangguk, tanda setuju.

Kios pangkas rambut itu terbagi menjadi tiga ruangan. Pertama, tempat pangkas rambut yang dilengkapi AC. Kedua, tempat tidur pekerja, dan terakhir kamar mandi.

Selepas menunaikan ibadah shalat Maghrib, kami pun kembali duduk di atas kursi tunggu. Agus yang mengaku akan berusia 47 tahun pada Agustus mendatang, memulai kisah unik dan inspiratif selama ia menjadi tukang cukur.

Sebenarnya, Agus memulai cerita, tidak pernah bermimpi menjadi tukang cukur. Karena dia tidak seperti tukang cukur kebanyakan, yakni mempunyai riwayat keturunan keluarga yang juga berprofesi sebagai tukang cukur.

"Ya, berbeda dengan yang lain, biasanya kan mereka ada turunan dari bapak atau siapa yang juga nyukur rambut. Nah, kalau saya tidak," ujar Agus yang juga menjabat sebagai Ketua Paguyuban Pangkas Rambut Indonesia (PPRI).

Selepas sekolah, awalnya Agus mulai merantau dan bekerja di Bandung, di salah satu pabrik di daerah Bandung. Namun, setiap libur dirinya mengaku sering pergi ke Jakarta, mengunjungi kawan-kawan dari Garut, yang kebetulan berprofesi sebagai tukang cukur rambut.

Seringnya melihat pekerjaan teman-teman sebagai tukang cukur rambut, lambat laun Agus mulai tertarik menekuni profesi sebagai tukang cukur rambut. “Tahun 1987-lah, Neng, saya mulai ke Jakarta untuk nyukur, ikut Si Asep (rekannya). Dulu, tukang cukur kerjanya keliling, bawa kursi dan alat cukur rambut. Saya saat itu keliling hanya ke wilayah Pondok Pinang, Pondok Indah, Lebak Bulus, ya sekitaran itu,” kata Agus menceritakan.

Di sela-sela perbincangan, satu-dua orang masuk ke pangkas rambut Tiara 2, dengan maksud akan mencukur rambut. Agus melontarkan senyum pada pelanggan yang datang. Adapun untuk pengerjaan cukur rambut, dikerjakan dua orang pekerja, yang juga berasal dari kampung halamannya, Garut.

Di sekeliling dinding pangkas rambut tersebut, terpajang pula beberapa figura foto. Salah satunya ketika Agus sedang memangkas rambut Presiden keenam Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, mantan calon gubernur DKI Agus Yudhoyono, dan sejumlah ajudan SBY. Foto tersebut sepertinya sengaja dipasang agar pelanggan mengetahui tentang prestasi yang telah dicapai Agus, serta tidak meragukan lagi kemampuan tukang cukur Garut.

Foto Agus saat sedang memangkas rambut Presiden keenam RI, SBY. (Foto: Gumanti Awaliyah/ Republika)


Setelah menyapa pelanggan, Agus kembali fokus pada perbincangan. “Sampai mana tadi, Neng?” tanya Agus yang ketika itu mengenakan seragam Paguyuban Pangkas Rambut Indonesia (PPRI), yang berwarna putih dan biru langit.

Karena tertarik dengan foto yang dipajang, saya langsung melontarkan pertanyaan tentang awal mula Agus sampai ke Istana, dan mendapat kepercayaan mencukur rambut, orang nomor satu di Indonesia kala itu. “Oh iya, itu dulu yah," kata dia sembari menunjuk foto di dinding.

"Karena saya kenal sama Pak Irfan Edison yang jadi Paspampres Pak SBY. Lalu saya iseng saja mengungkapkan keinginan untuk bisa mencukur rambut Pak SBY,” tutur Agus sambil tertawa. Namun sayangnya, saat itu, SBY sudah memiliki tukang cukur rambut langganan. Dan Agus pun harus rela untuk menahan keinginannya.

Seiring berjalannya waktu, pada April 2005, tepat enam bulan setelah dilantiknya SBY menjadi presiden keenam RI menggantikan Megawati Soekarnoputri, Agus tiba-tiba mendapat telepon dari salah satu ajudan presiden, Suripto. Suripto, atas saran Irfan Edison, meminta Agus datang ke Istana untuk menata mahkota kepala SBY.

Kabar yang mengejutkan sekaligus menggembirakan itu Agus anggap sebagai kesempatan emas. Saat itu, Agus dijemput sopir Istana ke tempat kerja Agus di Paxi Senayan. Tepat pukul 15.00 WIB Agus sampai di Wisma Negara.

Lalu bagaimana perasaan Agus saat hendak mencukur orang nomor satu di Indonesia? Agus mengaku tidak tegang atau khawatir. “Kan saya ditegur sama Paspampres. Kata dia, nanti jangan grogi. Ya, saya bilang enggak grogi. Justru saya lagi mikir, tipe rambut apa yang cocok untuk orang seperti Pak SBY,” kata Agus.

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Agus bertemu dengan SBY secara langsung. Agus memulai pertemuan perdana dengan memperkenalkan diri, “Saya Agus, Pak. Dari Garut,” kata Agus menirukan perkenalan tersebut.

Tidak butuh waktu lama bagi Agus untuk menyelesaikan tugasnya memangkas rambut SBY. Dengan mempertimbangkan bentuk wajah, kepala, dan postur tubuh SBY, Agus sudah bisa menebak potongan rambut yang sesuai dengan presiden keenam tersebut. Pada saat mencukur rambut, selain dikelilingi pelayan dan ajudan SBY, ibu negara Ani Yudhoyono pun dengan setia menemani dan memperhatikan proses cukur rambut yang Agus lakukan.

Selama proses mencukur rambut, Agus menceritakan, obrolan dengan SBY hanya berkisar tentang keluarga, dan hal-hal sewajarnya. Setelah selesai mencukur rambut, Ani Yudhoyono menghampiri Agus dan berkata, “Agus, nanti kalau mencukur Bapak, modelnya begitu lagi ya,” ujar Agus menirukan ucapan Ani Yudhoyono.

Setelah panggilan mencukur rambut saat itu, Agus tidak pernah berpikir akan dipanggil lagi oleh SBY. “Iya kan saat itu saya hanya menggantikan tukang cukur rambut Pak SBY yang sedang sakit,” ujar Agus.

Sampai di rumah, Agus mengaku tidak bisa tidur. Agus memang pernah mempunyai ambisi untuk bisa mencukur rambut SBY. Hingga akhirnya, kata dia, Allah subhanahu wa ta'ala benar-benar memberikan jalan pada Agus, sehingga dia bisa menembus Istana. “Istilahnya mah teu ngimpi-ngimpi acan (tidak pernah bermimpi), Neng,” kata Agus semangat.

"Jangan pernah menyepelekan pengabdian tukang cukur," kata Agus. Seperti halnya SBY, di balik kegagahan, kerapian SBY, sepintas pastinya orang tidak akan tahu tentang jasa seorang tukang cukur rambut. Namun, kenyataannya, tukang cukur rambut juga sedikit banyak telah memberikan kontribusi terhadap kerapian SBY.

Selama mengenal dan menjadi salah satu 'orang yang berani memegang kepala presiden', Agus menggambarkan SBY sebagai orang yang sangat sederhana. “Saya pernah lihat Pak SBY, kalau di rumah masak nasi goreng sendiri. Kesukaannya juga hanya tempe goreng, makanan yang merakyat,” ujar Agus.

Hingga sekarang, selang waktu tiga pekan sampai satu bulan sekali, Agus rutin datang menemui SBY untuk mencukur rambut SBY. Agus pun kini bisa merasakan hasil perjuangannya setelah bertahun-tahun mengenyam pahit manisnya menjadi tukang cukur di Ibu Kota.

Pengalaman menata rambut presiden tidak hanya milik Agus. Saya mendapatkan cerita yang tak kalah menakjubkan dari seorang pria yang sudah mendedikasikan 50 tahun usianya menjadi seorang pemangkas rambut. Muhammad Nasyim, nama pria tersebut yang dipercaya menjadi penata mahkota kepala Presiden ketiga RI, BJ Habibie.

Jatuh-bangun serta asam-manis menjadi tukang cukur sudah dikunyah pria yang usianya tahun ini mencapai angka 77. Guna mendapatkan kisah pengalaman berharganya, saya pun menemui Nasyim di tempat kerjanya di selatan Jakarta keesokan harinya, Rabu, 12 April 2017.

Cuaca berawan menemani perjalanan saya menuju komplek Grand Wijaya, Jalan Wijaya II, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di sanalah Nasyim, tukang cukur rambut yang dipercaya Habibie, bekerja.

Tepat pukul 08.30 saya menginjakkan kaki di Pax Wijaya. Di depan Pax Wijaya, terlihat dua mobil Toyota Avanza berwarna putih terparkir di lahan parkir yang tersedia. Betul saja, saat pintu dibuka, terdapat dua pelanggan sudah mengantre dan duduk menghadap kaca besar. Keduanya terlihat santai, menikmati helai demi-demi helai rambutnya terjatuh.

"Oh, mau ke Pak Nasyim. Iya-iya, itu orangnya sedang ada pelanggan," kata seorang penjaga, sambil menunjuk ke arah kursi pojok dekat pintu masuk.

Saya mengikuti instruksi penjaga tersebut, dan mulai berjalan menuju pria yang sedang fokus mencukur rambut seorang pelanggan. "Kenapa Mbak?" tanya Nasyim sambil tersenyum. Saya pun mengenalkan diri sembari menjulurkan tangan seraya mengajak bersalaman. Dari situ lah, kami mulai berkenalan.

Perbincangan, kami teruskan setelah dia selesai mencukur rambut pelanggannya. Nasyim, berasal dari salah satu sudut bumi Parahyangan, Karawang. Perjalanan selama lima dekade Nasyim, membuatnya didapuk sebagai legenda di Barbershop Pax Wijaya.

Di sofa ruang tunggu, saya mendengarkan cerita pengalaman Nasyim mencari nafkah dari memangkas rambut. Sepak terjang Nasyim dalam menekuni profesinya saat ini, diakuinya tidak mudah. Seusai tamat SMP, Nasyim memilih mengadu nasib di Ibu Kota. "Awalnya bekerja di gedung DPR sana, jadi pekerja paling rendah, Neng," ujar Nasyim sambil tertawa lirih, mengenang masa lalu.

Ayah empat anak yang sudah memasuki usia senja itu menuturkan, dari penghasilannya bekerja di gedung DPR sama sekali tidak dapat menyejahterakan hidupnya. Ketika terjadi gerakan pemberontakan PKI pada 30 September 1965 ia memutuskan angkat kaki dari DPR dan memilih bekerja dengan memanfaatkan kemampuan dalam mencukur rambut. Lalu, di Pax Wijaya itulah Nasyim memulai debut kariernya sebagai tukang cukur.

Hari menjelang siang, satu per satu pelanggan berdatangan. Biasanya orang yang datang ke Pax Wijaya, sudah punya langganan tukang cukurnya masing-masing. "Pak, mau dirapikan nih," ujar pria muda, yang datang ketika kami sedang berbincang. Dengan ramah, Nasyim langsung menyapa pelanggannya. Nasyim yang hari itu memakai seragam Pax Wijya berwarna krem itu pun sempat mengenalkan pria tersebut pada saya.

"Ini nih, pelanggan saya juga, pengacara muda, Neng," ujar Nasyim sembari memakaikan jubah pada badan pria tersebut. Ia pamit sebentar untuk memangkas rambut pelanggannya.

"Creek, creek," bunyi gunting beradu dengan sisir dan rambut pelanggannya terdengar. Ia terlihat cekatan saat menggunting rambut pelanggannya. Tangan tua berkeriput yang memegang gunting dan sisir itu seolah menari lincah di hamparan rambut hitam pelanggannya tersebut. Dan tidak sampai 10 menit, dia pun menyelesaikan tugasnya. Nampak senyum lebar terurai dari bibir pria muda berkulit putih tersebut, mengisyaratkan kepuasan akan hasil cukuran Nasyim.

Saat membereskan alat-alat cukur yang telah dipakai, Nasyim menunjukkan potret dirinya bersama BJ Habibie kepada saya. Gambar beku itu dipajang di bawah cermin besar di depan kursi cukurnya.

"Ini foto saya sama Pak Habibie, diambil setelah cukur rambut beliau, di rumahnya," kata Nasyim penuh bangga.

Nasyim bercerita, pada mulanya, adik Habibie, Suyatim 'Timmie' Habibie, yang menjadi langganan dan secara rutin ke Pax Wijaya, selalu ingin dicukur rambut oleh Nasyim. Lalu, pada 22 Mei 2010, Ainun Habibie, istri Habibie meninggal dunia.

Menurut penuturan Nasyim, selama hidup, Habibie selalu dicukur rambut oleh istrinya. Hingga akhirnya, beberapa bulan kemudian, pascameninggalnya Ainun, Habibie merasa dirinya membutuhkan jasa tukang cukur rambut.

Pada saat itu, kata Nasyim, Timmie merekomendasikan Nasyim mencukur kepala kakaknya. Tidak berselang lama, Pax Wijaya menerima telepon dari ajudan Habibie.

"Dulu pas ada telepon itu, saya segera diperintahkan untuk siap-siap akan ada yang jemput, untuk datang kerja rumah Pak Habibie, dan mencukur rambutnya," tutur Nasyim.

Sebelum pertemuan perdananya dengan Habibie, Nasyim mengaku grogi. Ia mengaku serba salah tidak tahu harus bersikap bagaimana. Namun, Hasyim mengaku pasrah dan akan berusaha melakukan yang terbaik.

Sesampainya di rumah Habibie, di bilangan Kuningan, Jakarta, Nasyim langsung dipersilakan masuk ke ruangan tengah, dekat kamar Habibie. Di sana, kata Nasyim, sudah disediakan kursi dan cermin besar, serta Habibie yang telah siap dicukur rambutnya.

"Saya berkenalan, ya biasa gitu, Pak Habibie nanya orang mana, anak berapa," ungkap Nasyim sambil terus coba mengingat sedikit demi sedikit memori ketika pertama kali menyambangi rumah Habibie. Bagi Nasyim yang telah punya pengalaman lama menjadi tukang cukur, sekilas melihat bentuk wajah, rambut, dan kepala Habibie, ia mengaku sudah tidak pusing lagi harus dicukur seperti apa.

"Pak Habibie kan sudah tua, ya jadi potong biasa saja, disesuaikan dengan bentuk wajahnya," kata pria yang sebagian rambutnya sudah memerak tersebut. Kala itu, Habibie sudah merasa cocok dengan Nasyim, hingga akhirnya sampai sekarang, setiap dua bulan sekali Nasyim datang ke rumah Habibie.

Sambil tertawa Nasyim mengingat kenangan paling berkesan saat bersama Habibie. "Dulu saya pernah disuruh nonton filmnya di bioskop. Eh kan saya bilang gak punya duit, tiba-tiba dikasih uang buat nonton. Kan jadi malu," ucap Nasyim yang saat tertawa guratan keriput di wajahnya semakin terlihat.

Sekali mencukur rambut Habibie, Nasyim mendapat upah Rp 500 ribu. Nasyim mengaku, bangga dan bersyukur bisa dipercaya mencukur rambut Habibie. "Kan kalau orang gede yang butuh kita gampang, kita dipanggil ke sana. Saya kan orang kecil, jadi bangga bisa dapat kepercayaan beliau," kata Nasyim menutup perbincangan.

Sejarah para penata rambut di Tanah Air merentang teramat panjang, sampai ke zaman Indonesia masih bernama Hindia Belanda. Lewat cerita dari Alwi Shahab, sejarawan DKI Jakarta, saya pun berhasil mengupas riwayat tukang cukur di Indonesia.

Ditemui di ruang kerjanya, Abah Alwi, begitu pria 80 tahun itu biasa disapa membuka cerita dari sejarah gedung Museum Bank Mandiri di Jalan Pintu Besar, Jakarta Kota. Pada masa kolonial gedung itu bernama De Javasche Bank. Namun, pada 1953 setelah di nasionalisasi, gedung itu bersalin nama menjadi Bank Indonesia.

De Javasche Bank berdiri di Batavia, pada 24 Januari 1828, di tanah bekas rumah sakit (Binnenhospitaal) yang terletak persis di sebelah dalam kota tua. Ketika rumah sakit tersebut didirikan pada pertengahan abad ke-18, pengobatan belum secanggih sekarang. Tidak heran, pasien yang dirawat lebih dari 50 persen meninggal dunia, sehingga Batavia mendapat gelar 'kuburan orang Belanda' setelah sebelumnya dijuluki 'Ratu dari Timur'.

Tapi, yang meninggal tanpa pengobatan di rumah sakit lebih banyak lagi. Abah berkata, dalam sejumlah buku tentang Kota Tua dituliskan, bukan suatu mengherankan teman yang pada pagi harinya makan bersama kita keesokan harinya dikabarkan meninggal dunia. "Di pojok jalan rumah sakit kala itu terdapat gereja milik rumah sakit yang digunakan umat Nasrani berbahasa Melayu," kata Abah Alwi, Jumat, 14 April 2014.

Namun, kata Abah Alwi, ada yang tidak masuk akal di rumah sakit yang dibangun pemerintah kolonial Belanda itu. Karena, etnis Tionghoa juga membangun rumah sakit yang tidak kalah hebatnya dengan RS Belanda. "Letaknya di Jalan Tiang Bendera, sekitar satu kilometer dari RS Belanda," ucap dia.

Di kedua rumah sakit itu memang tersedia beberapa orang dokter. Namun di rumah sakit pemerintah yang pasiennya kebanyakan orang Belanda dan Eropa, yang melakukan operasi adalah tukang cukur. "Ya, tukang cukur. Seperti cara di Eropa ketika itu, pisau cukur lebih dulu dibakar, agar steril, kemudian dipakai untuk membedah tubuh pasien," ujar kakek 16 cucu ini.

"Sayangnya," kata Abah Alwi melanjutkan, "ketika itu obat bius tidak secanggih sekarang. Jadi saat itu menjadi hal biasa saat dan setelah dioperasi pasien meraung-raung, dan didengar pasien-pasien lain."

Setelah operasi, menurut Abah Alwi, banyak pasien yang meninggal karena infeksi akut. Belum ada obat sejenis penisilin ketika itu. "Jadi, ketika itu tukang cukur punya profesi tambahan: dokter bedah," kata Abah sembari tersenyum.

Pra dan pascakemerdekaan, ceritanya lain lagi. Pada medio 1940, 1950 sampai awal 1960-an, di pinggir-pinggir jalan di bawah pohon, banyak tukang-tukang cukur membuka lapaknya. "Waktu itu tukang cukur tidak pernah ada razia. Di zaman Belanda belum ada razia. Mereka dibiarkan kerja. Karena waktu itu mereka tidak mampu membangun bangunan. Di Kwitang misalnya, ada beberapa tukang cukur yang membuka lapaknya di bawah pohon. Mereka hanya memasang semacam terpal agar tidak terkena panas dan hujan," ucap Abah memaparkan.

Pria berdarah Arab-Betawi ini berkata, pelanggan tukang cukur DPR tidak hanya rakyat biasa, beberapa tokoh masyarakat juga kerap menggunakan jasa mereka. "Belum ada namanya gengsi."

Selain dari Garut, masih kata Abah, orang Betawi juga banyak yang menjadi tukang cukur. Sedangkan tempat cukur yang dibangun orang Cina biasanya lebih lux (mewah). "Bedanya, orang Cina alat-alatnya lebih bagus," ucap pria kelahiran 31 Agustus 1936 ini. "Biaya cukur di bawah pohon rindang seperak, dan di tempat orang-orang Cina lebih mahal. Sebab mereka ada yang menyediakan biskuit dan air. Strategi bisnis."

Bicara model rambut, wartawan senior Republika ini berkata, waktu itu para pelanggan minta rambutnya dicukur seperti model bintang-bintang film. "Seperti Roy Marten, Tony Curtis, bintang film Amerika. Rambutnya begini, begini," kata Abah sembari menggambarkan model rambut bintang film dengan tangannya.

Perempuan-perempuan banyak yang mencukur di tukang cukur DPR. Mereka merasa tidak turun derajat. Apalagi dulu belum banyak salon seperti sekarang. "Di kampung saya, seperti Kwitang ada. Di Senen juga banyak perempuan yang cukur."

Lain kisah Abah Alwi, lain lagi cerita Ridwan Saidi, budayawan Betawi. Guna menyempurnakan rangkaian cerita para penata mahkota, saya mengikat janji dengan pria yang akrab disapa Babe itu di kediamannya di daerah Bintaro, Jakarta Selatan, Selasa, 11 April 2017.

Saat saya temui, Ridwan Saidi menceritakan sebelum kemerdekaan Indonesia, para tukang cukur yang biasa memangkal di bawah pohon kebanyakan orang Betawi. “Kami memang dulu orang Betawi terjun juga ke jasa pelayanan polka, sebelum kemerdekaan banyak orang Betawi yang di bawah puun (DPR),” kata Saidi. Hingga setelah kemerdekaan, bermunculan orang-orang daerah yang datang ke Jakarta untuk menjadi tukang cukur rambut.

Dikutip dari buku Muh Syamsudin bertajuk Agama, Migrasi dan Orang Madura, profesi tukang cukur banyak juga ditekuni orang Madura. Selain kuatnya tradisi migrasi orang Madura, ditambah kondisi ekologis pulau Madura yang gersang dan tandus sehingga orang-orang Madura banyak yang memilih mencari nafkah di sektor informal seperti tukang satai, dan tukang cukur. Dalam buku tersebut juga dijelaskan, orang Madura memulai perjalanan migrasi terjadi sejak konflik Trunojoyo dan Amangkurat II pada 1677.

Selain itu, profesi tukang cukur juga belakangan identik dengan Kota Garut, yang juga dikenal karena dodol dan domba khas Garut. Seperti halnya penuturan Ridwan Saidi, orang-orang Garut berdatangan ke Jakarta setelah kemerdekaan, tepatnya saat terjadi pemberontakan Darul Islam atau Tentara Islam Indonesia (DI/TII) akhir 1940-an.

Warga kecamatan Banyuresmi, Garut, tidak luput mendapat imbas dari pemberontakan DI/TII tersebut. Menyebabkan warga, khususnya laki-laki memilih untuk mengungsi ke kota lain yang dinilai lebih aman. Sejak itulah, banyak orang Garut yang datang ke Jakarta, dan meneruskan pekerjaan sebagai tukang cukur keliling.

Nah, orang Garut, istilahnya nguriling atau keliling. Beda sama yang tukang cukur DPR. Sekarang banyak yang sudah punya kios, ada pangkalannya,” tutur Ridwan Saidi. Saidi mengaku hingga kini masih suka melihat ada tukang cukur yang berkeliling. Walaupun, tidak sebanyak dulu.

Pria yang hampir seluruh rambutnya sudah memutih tersebut juga bercerita tentang tukang cukur keturunan Cina yang mempunyai service plus-plus. Maksudnya, tukang cukur Cina juga ada layanan untuk cabut bulu hidung dan korek kuping. “Nah kalau tukang cukur Garut, ya ada service-lah saya kira, pijit dikit,” kata Saidi.

Pria yang rambutnya sudah memutih tersebut menyatakan, zaman sekarang yang serba modern, jasa cukur rambut pindah dan beralih ke salon-salon. “Laki-laki juga sekarang banyak yang pada ke salon kan? Heh, nggak suka saya,” celoteh Saidi di sela perbincangan.

Menurut Saidi, kehidupan Ibu Kota hari ini dan dahulu, sangat jauh berbeda. Tentunya, lebih nyaman dan tentram pada zaman dahulu. Termasuk dengan berbagai keunikan, para penjemput rezeki, seperti tukang cukur rambut tempo dulu. “Saya kira menarik lah dulu itu, karena ketentraman dan kenyamanan,” kata Saidi menutup pembicaraan.