Rabu , 19 April 2017, 05:15 WIB

Menelusuri Jejak Sukarno-Hatta di Kota Muntok

Red: Karta Raharja Ucu
Karta Raharja Ucu/Republika
Pesanggerahan Muntok. Di bangunan ini Sukarno dan Mohammad Hatta serta sejumlah tokoh lainnya tinggal selama masa pengasingan oleh Belanda di Kota Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung. Di gedung yang kini dikenal sebagai Wisma Ranggam i
Pesanggerahan Muntok. Di bangunan ini Sukarno dan Mohammad Hatta serta sejumlah tokoh lainnya tinggal selama masa pengasingan oleh Belanda di Kota Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung. Di gedung yang kini dikenal sebagai Wisma Ranggam i

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Karta Raharja Ucu (@kartaraharjaucu), wartawan Republika

Nama dua proklamator RI, Ir Sukarno dan dr Mohammad Hatta, sangat melekat di hati warga Kota Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung. Kedekatan dengan warga Muntok itu terjadi saat Bung Karno dan Bung Hatta diasingkan di kota penghasil timah dan lada tersebut.

Aisyah (80 tahun), pemilik home stay Sandy, menceritakan soal pengasingan dua proklamator tersebut saat agresi militer Belanda pada 1948 silam. Bagi warga Muntok, Bung Karno adalah sosok pemimpin yang tidak tergantikan. "Beliau sering keliling ke rumah warga. Selama tinggal di sini, Bung Karno sering kali datang ke rumah-rumah warga, minta dibuatkan kue," kata Aisyah.

Jejak Sukarno di Muntok memang amat kental. Kedekatan Bung Karno dan Bung Hatta juga dikisahkan warga Muntok lainnya. Edi (65), penjaga Pesanggrahan Muntok, mengisahkan soal kegiatan sejumlah pemimpin RI saat diasingkan.

"Saat diasingkan di sini, Bung Karno senangnya minum kopi hitam dan makan singkong rebus. Sehari-hari, Bung Karno suka main biola di ruang belakang," kata Edi sembari menunjuk ruang belakang di Pesanggrahan Muntok. 

Pesanggrahan Muntok atau yang kini dikenal sebagai Wisma Ranggam, adalah tempat tinggal Bung Karno, KH Agus Salim, Ali Sastro Amidjojo, dan M Roem selama pengasingan. Bung Karno dan Agus Salim menempati dua kamar di bangunan utama, sementara M Roem dan Ali Sastro Amidjojo menempati dua ruangan di sayap bangunan.

Kamar yang ditempati Bung Karno bukanlah kamar mewah. Ia bahkan menempati kamar berukuran lima kali lima meter, lebih kecil dari kamar utama di sebelahnya yang ditempati Agus Salim.

Wisma Ranggam awalnya adalah rumah peristirahatan bagi pegawai perusahaan Bangka Tien Winning dari Belanda hasil rancangan Y Lokalo pada 1827. Di Wisma Ranggam ini lahir pembahasan isi perjanjian Roem-Royen yang mengatur perdamaian antara Indonesia dan Belanda. Dan di sini pula, Bung Karno menyerahkan surat kuasa kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX tentang pengembalian pusat kekuasaan pemerintahan Republik Indonesia, dari Yogyakarta kembali ke Jakarta.

Pada 5 Juli 1949, diumumkan pusat pemerintahan Republik Indonesia kembali ke Yogyakarta. Sehari setelahnya, Bung Karno, Bung Hatta, dan para tokoh nasional meninggalkan Bangka untuk kembali ke Yogyakarta.

Saking melekatnya sejarah Bung Karno di Bangka, kata Edi merawikan, bahkan beliau punya anak angkat di Muntok. "Namanya Endang," ujar dia. "Bung Karno juga sering mendatangi masyarakat. Dia diperbolehkan Belanda keliling Muntok, tapi tidak boleh keluar dari Muntok."

Melalui event Indonesia Malaysia Thailand Golden Triangle (IMT GT) Homestay Fair Ke-4 and Old Town Workshop 2015 yang berlangsung pada Jumat-Sabtu, 10-11 September 2015, Muntok berambisi menjadi kota wisata tematik sejarah untuk Provinsi Bangka Belitung dan Indonesia. Berlatar belakang sebagai daerah penghasil timah terbesar yang sudah dieksploitasi sejak Belanda menancapkan kuku jajahan, sisa-sisa kejayaan Muntok masih berdiri kokoh dalam wujud puluhan bangunan kuno nan bersejarah yang masih terpelihara baik. Bangunan serta budaya Melayu, Cina, dan Eropa berasimilasi dengan baik di Muntok.

Staf Khusus Menteri Pariwasata Hari Untoro Drajat mengatakan, Kementerian Pariwisata siap membantu pemerintah daerah mengembangkan potensi pariwisata daerah. "Di sini, ada banyak potensi penarik wisata, di antaranya timah dan lada," ujarnya.