Rabu , 16 September 2015, 17:11 WIB

Mengenang Jejak Sukarno-Hatta di Muntok

Red: Karta Raharja Ucu
Karta Raharja Ucu/Republika
Pesanggerahan Muntok. Di bangunan ini Sukarno dan Mohammad Hatta serta sejumlah tokoh lainnya tinggal selama masa pengasingan oleh Belanda di Kota Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung. Di gedung yang kini dikenal sebagai Wisma Ranggam i
Pesanggerahan Muntok. Di bangunan ini Sukarno dan Mohammad Hatta serta sejumlah tokoh lainnya tinggal selama masa pengasingan oleh Belanda di Kota Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung. Di gedung yang kini dikenal sebagai Wisma Ranggam i

REPUBLIKA.CO.ID, MUNTOK -- Nama dua proklamator RI, Ir Sukarno dan dr Mohammad Hatta sangat melekat di hati warga Kota Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung. Kedekatan dengan warga Muntok itu terjadi saat Bung Karno dan Bung Hatta diasingkan di kota penghasil timah dan lada tersebut.

Pemilik home stay Sandy, menceritakan tentang Sukarno selama masa pengasingan oleh Militer Belanda pada 1948 silam. Aisyah (80 tahun), nama pemilik home stay yang Republika.co.id tempati selama tinggal di Muntok mengatakan, bagi warga Muntok, Bung Karno adalah sosok pemimpin yang tidak tergantikan. “Beliau sering keliling ke rumah warga. Selama tinggal disini, Bung Karno sering kali datang ke rumah-rumah warga, minta dibuatkan kue,” kata Aisyah.

Jejak Sukarno di Muntok memang amat kental. Kedekatan Bung Karno dan Bung Hatta yang diasingkan saat agresi Militer Belanda pada 1948 itu dengan masyarakat selama pengasikan juga dikisahkan warga Muntok lainnya. Edi (65 tahun), penjaga Pesanggrahan Muntok, tempat sejumlah pemimpin RI saat diasingkan.

“Saat diasingkan di sini, Bung Karno senangnya minum kopi hitan dan makan singkong rebus. Sehari-hari, Bung Karno suka main biola di ruang belakang,” kata Edi sembari menunjuk ruang belakang di Pesanggrahan Muntok. 

Pesanggrahan Muntok atau yang kini dikenal sebagai Wisma Ranggam, adalah tempat tinggal Bung Karno, KH Agus Salim, Ali Sastro Amidjojo dan M Roem selama pengasingan. Bung Karno dan Agus Salim menempati dua kamar di bangunan utama, sementara M Roem dan Ali Sastro Amidjojo menempati dua ruangan di sayap bangunan.

Kamar yang ditempati Bung Karno bukanlah kamar mewah. Beliau bahkan menempati kamar berukuran 5x5 meter, lebih kecil dari kamar utama di sebelahnya yang ditempati Agus Salim.

Wisma Ranggam awalnya adalah rumah peristirahatan bagi pegawai perusahaan Bangka Tien Winning dari Belanda hasil rancangan Y Lokalo pada 1827. Di Wisma Ranggam ini dimulai lahirnya pembahasan isi perjanjian Roem-Royen yang mengatur perdamaian antara Indonesia dan Belanda. Dan di sini pula Bung Karno menyerahkan surat kuasa kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX tentang pengembalian pusat kekuasaan pemerintahan Republik Indonesia, dari Yogyakarta kembali ke Jakarta.

Pada 5 Juli 1949, diumumkan pusat pemerintahan Republik Indonesia kembali ke Yogyakarta. Sehari setelahnya, Bung Karno, Bung Hatta, dan para tokoh nasional meninggalkan Bangka untuk kembali ke Yogyakarta.

Untuk mengenang Bangka dan Wisma Ranggam, Mr. Mohammad Roem mengatakan, van Bangka begint de Victorie (dari Bangka datangnya kemenangan). Saking melekatnya sejarah Bung Karno di Bangka, kata Edi merawikan, bahkan punya anak angkat di Muntok. “Namanya Endang,” ucap dia. “Bung Karno juga sering mendatangi masyarakat. Dia diperbolehkan Belanda keliling Muntok tapi tidak boleh keluar dari Muntok.“

Bupati Kabupaten Bangka Barat, Ustaz Zuhri M Syazali pun ikut membanggakan wilayah yang dipimpinnya pernah menjadi tempat pengasingan Bung Karno dan Bung Hatta. “Muntok bagian tidak terpisahkan dari bangsa ini,” kata Zuhri yang tidak habis-habisnya menyunggingkan senyuman kepada puluhan delegasi dari sejumlah negara anggota ASEAN tiba di Kota Muntok, pertengahan pekan lalu.

Melalui event Indonesia Malaysia Thailand Golden Triangle (IMT GT) Homestay Fair Ke-4 and Old Town Workshop 2015 yang berlangsung, Jumat-Sabtu, 10-11 September 2015, Muntok berambisi menjadi kota wisata tematik sejarah untuk Provinsi Bangka Belitung dan Indonesia. Berlatar belakang sebagai daerah penghasil timah terbesar yang sudah diekploitasi sejak zaman Belanda menancapkan kuku jajahan, sisa-sisa kejayaan Muntok masih berdiri kokoh dalam wujud puluhan bangunan kuno nan bersejarah yang masih terpelihara baik. Bangunan serta budaya Melayu, Cina, dan Eropa berasimilasi dengan baik di Muntok.

Zuhri menerangkan, demi mendongkrak pendapatan daerah setelah tambang timah yang menjadi penggerak ekonomi perlahan habis, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat mulai menggali potensi pariwisata budaya dan sejarah. ”Dengan acara ini, diharapkan Kota Muntok yang punya banyak bangunan tua dan sejarah panjang, bisa menjadi salah satu kota tujuan wisata tematik sejarah di Indonesia,” ujar Zuhri usai acara pembukaan ­seminar di Muntok, akhir pekan lalu.

Ia optimistis, event itu menjadikan Bangka dan Muntok sebagai tujuan pariwisata wisatawan lokal maupun internasional. ”Ini kepercayaan luar biasa dan (memanfaatkan) momen bersejarah untuk mem­bangkitkan Bangka sebagai tujuan pariwisata, relevan karena warisan budaya dan sejarah,” kata dia. Zuhri pun dengan bangga ingin memperkenalkan Kota Muntok sebagai salah satu Kota Pusaka  Nasional yang diresmikan sejak 2012.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bangka Barat, Tajuddin SH MA menambahkan, penyelenggaraan event ini juga dalam kaitan mempererat kerja sama Indonesia, Malaysia dan Thailand melalui event IMT GT dalam bidang kepariwisataan, sosial dan ekonomi di antara negara-negara anggota ASEAN. ”Sekaligus, untuk meningkatkan pengetahuan bagi pengelola home stay dengan saling berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam pengelolaan wisata kota tua antar-anggota negara ASEAN,” imbuh dia.

Di tempat yang sama, staf khusus Menteri Pariwasata Hari Untoro Drajat mengatakan, Kementerian Pariwisata siap membantu pemerintah daerah mengembangkan potensi pariwisata daerah. “Di sini, ada banyak potensi penarik wisata, di antaranya timah dan lada,” ucapnya.