Rabu , 12 April 2017, 08:47 WIB

Hamzanwadi demi Negeri

Red: Didi Purwadi
Nahdatul Wathan Jakarta
TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid
TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid

Oleh: Selamat Ginting
Wartawan Senior Republika

Keteladanan dalam masyarakat yang masih relatif tradisional dan komunal sangat diperlukan. Tuan Guru Zainuddin berhasil menjalankannya. Kharisma yang dimiliki bukan sekadar warisan dari generasi sebelumnya, melainkan sebuah kharisma murni yang diperoleh berkat perjuangan dan pengabdiannya.

“Sikap dan perilaku politik keagamaan (religius) Tuan Guru sudah dalam tataran aksi moral dan sosial dari keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa,” kata guru besar sejarah dari Universitas Negeri Malang, Hariyono dalam seminar nasional ‘Jejak Perjuangan Tuan Guru KH Muhamad Zainudin Abdul Madjid' di Universitas Negeri Jakarta, 5 April 2017 lalu.

Kiprah TGKH Muhammad Zainuddin, lanjutnya, juga menghargai nilai-nilai kebajikan yang bersifat universal. Kiprah dan perjalanan hidupnya menarik dilihat dari perspektif ideologi kebangsaan.

Dikemukakan, aktualisasi diri dalam menjalankan kehidupannya di pentas daerah dan nasional merupakan aktualisasi dari ideologi (working ideology) yang dianutnya.

“Toleransi terhadap perbedaan yang didasarkan pada moralitas serta kepeloporannya dalam mendirikan organisasi serta lembaga pendidikan, menjadi sumber inspirasi dalam memahami kehidupan politik bangsa Indonesia yang sering diwarnai tarik menarik antara relasi negara dan agama,” ungkap guru besar sejarah tersebut.

Bagaimana relasi tokoh yang membawa nilai-nilai keagaamaan dalam perjuangannya? Guru besar sejarah dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Taufik Abdullah, memberi contoh tiga pahlawan nasional yang legendaris di Tanah Air; Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol dan Teuku Umar .

Mengapa mereka tampil sebagai “pahlawan bangsa’ yang paling awal? Bukankah perang Diponegoro (1825-1830), perang Padri (1826-1837) dan perang Aceh (1862-1904) adalah sejarah perlawanan yang paling dikenal bangsa? Betapapun sejarah kolonial cenderung mengecilkan kehadiran mereka.

Ketiga tokoh pahlawan nasional itu juga menggunakan simbol Islam dalam perjuangannya. Baik pakaian maupun ungkapan-ungkapan dalam memberikan motivasi perjuangan kepada pengikutnya.

Menurut Taufik, pahlawan bangsa sesungguhnya simbol nasionalisme yang dimilki bersama. Jadi bisa dipahami juga kalau jumlah pahlawan bangsa hanya beberapa orang saja.

Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, ketika pemerintah telah ikut berperan, maka fungsi baru telah dilekatkan pada pengakuan kepahlawanan –meskipun tidak dikatakan. Sang pahlawan adalah juga wakil-simbolik daerah dalam dunia mitos nasionalisme.

Kini, kata dia, pahlawan nasional telah bersifat ganda. Ia adalah simbol nasionalisme Indonesia Raya dan ia adalah pula “wakil daerah” dalam dunia-kebangsaan Indonesia Raya.  

Karena itu, lanjutnya, tidak perlu heran jika daerah memperjuangkan ‘wakilnya’ dalam persada Indonesia Raya? Jadi bisa dipahami juga kalau dalam proses tersebut, berbagai macam studi dan seminar pun dilakukan.

Layak
Sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan, pasal 25 dan 26 mengenai syarat umum dan khusus pemberian gelar; untuk syarat umum terdapat enam kriteria.

Enam kriteria itu adalah warga negara Indonesia yang berjuang di wilayah NKRI; memiliki integritas moral dan keteladanan; berjasa terhadap bangsa dan negara; berkelakuan baik; setia dan tidak mengkhianati bangsa dan negara; serta tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan.

“Dari keenam syarat umum itu, peran Al-Mukarram Maulana al-Syaikh Tuan Guru KH M Zainuddin Abdul Madjid sejak masa pra-kemerdekaan hingga masa baktinya pada periode proklamasi kemerdekaaan dan masa revolusi fisik dan sesudahnya, secara jelas menggambarkan perjuangannya terhadap negara dan bangsa Indonesia,” kata guru besar sejarah dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Djoko Suryo.

Menurutnya, Zainuddin Abdul Madjid telah menunjukkan kepeloporan dalam dunia pendidikan, kemasyarakatan, dakwah keagamaan yang berbasis pada nilai-nilai kearifan lokal, maupun dalam hal perjuangan merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan negara RI.

Pendapat senada dikemukakan Taufik Abdullah dan Hariyono yang tidak meragukan jejak perjuangannya untuk negeri. Hamzanwadi, nama akronim dari tuan guru, memang layak dicalonkan sebagai ‘the hero’ negeri.

Berita Terkait