Rabu , 12 April 2017, 08:01 WIB

Tampi Aseh Tuan Guru

Red: Didi Purwadi
Nahdatul Wathan Jakarta
TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid
TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid

Oleh: Selamat Ginting
Wartawan Senior Republika

Pagi yang cerah membuka awal perjalanan dari kawasan Cakranegara, Kota Mataram menuju Kota Solong, Kabupaten Lombok Timur. Kabupaten ini terletak di ujung timur Pulau Lombok, lebih tepatnya sekitar 55 km dari Kota Mataram.

Dalam perjalanan sekitar 1 jam 45 menit pada Sabtu (8/4) itu kendaraan melewati jalanan berkelok ke arah timur. Panoramanya alami bagaikan hamparan sawah di kanan-kiri jalan.

Tidak terasa, kendaraan sudah masuk dalam kompleks Nahdlatul Wathan (NW). Sejumlah bangunan permanen didominasi warna hijau muda. Di beberapa ruas halaman, pepohonan rindang membuat suasana teduh. Saat itu juga terlihat sebuah bus rombongan yang hendak meninggalkan kawasan lembaga keislaman tersebut.

“Itu rombongan dari Malaysia. Wisata religius ke Lombok. Bisanya memang mampir ke Kompleks Nahdlatul Wathan, sekaligus berziarah ke makam Tuan Guru Kiai Haji Muhammad Zainuddin bin Abdul Madjid,” kata Rois’am Dewan Mustasyar Pengurus Besar NW, TGH Yusuf Ma’mun.
 
Kompleks ini menjadi langganan turis termasuk dari mancanegara, untuk melihat perkembangan lembaga pendidikan Islam paling berpengaruh di wilayah yang dijuluki ‘Seribu Masjid'. Sebuah kiasan yang menggambarkan begitu banyak rumah ibadah kaum Muslim. Salah satu yang menancapkan fondasi itu adalah Tuang Guru Zainuddin.

Banyak juga yang menyebutnya sebagai Maulana al-Syaikh Tuan Guru Kiai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Disingkat menjadi Hamzanwadi atau Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah.

Ia lahir di desa Pancor, Lombok Timur, 5 Agustus 1898. Wafat di tempat yang sama pada 21 Oktober 1997 Masehi/19 Jumadil Tsani 1418 Hijriah. Dalam usia 99 tahun menurut kalender Masehi, atau usia 102 tahun menurut Hijriah.

Almarhum pendiri Nahdlatul Wathan, organisasi massa Islam yang terbesar di Provinsi Nusa Tenggara Barat. “Tampi aseh (terima kasih dalam bahasa suku Sasak) NTB untuk tuan guru,” kata seorang santri yang sedang belajar di kompleks tersebut.
 
Ya, tanpa Zainuddin Abdul Madjid, mungkin belum tentu NTB, khususnya Lombok Timur menjadi wilayah Islami. Napak tilas menyusuri tempat kelahiran, masa kanak-kanak hingga lokasi dakwah dan perjuangannya, seperti ‘tawaf’ mengelilingi kabupaten tersebut. Melihat Kampung Bermi, Desa Pancor, Kecamatan Selong (dulu disebut Kecamatan Rarang Timur), Lombok Timur.
 
Perjalanan menyusuri Kota Selong, tidak bisa dipisahkan dengan detak nadi perjuangan tuan guru sebagai ulama karismatik tersebut. Ulama pejuang dan pejuang ulama, kata mantan wakil presiden, Jenderal (Purn) Try Sutrisno, mengenai tokoh yang dihormati masyarakat NTB ini.

Try mungkin punya pengalaman pribadi bersama sang tokoh tersebut. Ia pernah beberapa kali mengunjunginya, saat menjadi kepala Staf Angkatan Darat, ataupun panglima ABRI. Bahkan, setelah selesai menjadi wakil presiden, tidak lupa mengunjungi ulama besar ini. “Beberapa kali Pak Try ke rumah tuan guru meminta doa dan restu,” ujar Yusuf Ma’mun.

Seorang tentara yang mengormati ulama dan memberikan julukan sebagai pejuang, bukan isapan jempol. Tuan Guru Zainuddin sudah menorehkan tinta emas perjuangan membangun peradaban Islam di wilayahnya. Sekaligus menancapkan nasionalisme Indonesia saat masa penjajahan, baik Belanda maupun Jepang dan setelah NICA masuk ke Lombok.

Taman Rinjani, Taman Makam Pahlawan dan sejumlah bangunan tua di Lombok Timur adalah saksi bisu perjuangan sang tokoh. Dahulu jalan utama di kota tersebut disebut Jalan Pahlawan. Kini berubah menjadi Jalan TGKH M Zainudin Abdul Madjid. Rasanya tepat, karena tuan guru kini sedang diusulkan masyarakat povinsi tersebut menjadi salah satu pahlawan nasional Indonesia.

Saggaf dan Segep Kecil
Tuan Guru adalah gelar kehormatan yang diberikan oleh masyarakat Sasak kepada seseorang, karena telah memenuhi kriteria tertentu. Ya, Tuan Guru Kiai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, memiliki nama kecil Muhammad Saggaf.

Nama Muhammad Zainuddin diambil dari nama seorang ulama besar, guru di masjidil haram, yang akhlak dan kepribadiannya sangat menarik hati sang ayah, yaitu Syekh Muhammad Zainuddin Sarawak. Muhammad Saggaf, orang Sasak menyebutnya Segep, dilahirkan di kampung Bermi, terletak di bagian Timur Kabupaten Lombok Timur. Daerah ini memiliki ketinggian yang beragam antara 0–150 meter di atas permukaan laut.

Orang tuanya bernama Abdul Madjid, populer dengan sebutan ‘Guru Mu’minah’. Seorang Mubalig dan terkenal pemberani, pemimpin pertempuran melawan penjajahan Belanda. Ibu Zainuddin bernama Hajah Halimatussa’diyah, wafat di Makkah dan dimakamkan di Mualla.

Ada keunikan mengenai kelahiran Zainudin. Seorang wali, Syekh Ahmad Rifa’i yang juga berasal dari Maghribi, menemui Tuan Guru Haji Abdul Madjid menjelang kelahiran putranya. Syekh Ahmad Rifa’i berkata kepada Tuan Guru Haji Abdul Madjid,“Akan segera lahir dari istrimu seorang anak laki-laki yang akan menjadi ulama besar.”

Kala itu, Lombok diperintah oleh kerajaan Bali sampai persaudaraan Islam, yang berbasis di Lombok Timur memberontak melawan kerajaan Bali pada 1891. Belanda mengambil alih kendali Lombok, tiga tahun, kemudian setelah mengalahkan Kerajaan Bali.

Namun, Lombok terus-menerus menghadapi pemberontakan sampai Jepang menyerbu Indonesia pada 1942. Kondisi Lombok Timur, sebelum Perang Asia Timur Raya, benar–benar berada dalam kondisi terbelakang dalam segala aspek kehidupan.

Secara administratif, saat itu Lombok Timur disebut Onder Afdeeling Van Dost Lombok dengan kedudukan controleur di Selong. Pendidikan bagi rakyat di Lombok Timur pada saat itu hanya terdapat dua jenis sekolah yang sangat terbatas.

Di tingkat desa terdapat sekolah desa (volkschool) sampai kelas III, sementara di tingkat kedistrikan terdapat Vervolkchool yang merupakan lanjutan sekolah desa sampai kelas V. Vervolkschool ini hanya terdapat di Selong, Masbagik, Sakra, dan Pringgabaya.

Kondisi itulah yang kemudian membuat Muhammad Zainuddin Abdul Madjid memiliki obsesi membangun masyarakat Lombok dalam bidang pendidikan agama dan perjuangan kebangsaan. Dalam satu tarikan napas.

“Bahkan pada suatu massa, sekolah-sekolah yang dibangunnya jauh lebih banyak daripada sekolah-sekolah negeri ataupun swasta di NTB,” kata Iswandi, kepala Bapenda NTB.

“Begitu banyak lembaga pendidikan keagamaan yang dibangun. Tetapi, beliau punya harta apa? Nyaris tidak ada. Sebab, untuk berdakwah keliling Lombok dan NTB saja menggunakan bus angkutan kota, ataupun sewa kendaraan. Kalau mau bicara pemimpin bersahaja, beliaulah orangnya,” kata TGH Dhamiluddin (87 tahun) yang pernah menjadi muridnya.

Tampi aseh Tuan Guru Segep.