Senin , 03 April 2017, 17:29 WIB

Menanti Surat-Surat Tan Malaka dari Moskow

Rep: Agus Raharjo/ Red: Ilham
Tan Malaka
Tan Malaka

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tan Malaka sudah lama tak ada. Konon ia gugur dieksekusi di suatu tempat di Kediri, Jawa Timur. Makamnya pun baru ditemukan beberapa tahun belakangan. Baru-baru ini, upacara adat dilakukan untuk memulangkan Tan Malaka ke tanah kelahirannya di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.

Sebuah makam yang sudah diidentifikasi sebagai makam Tan Malaka ditemukan di Desa Selopanggung, Kediri. Ia memang telah lama gugur, namun, namanya terus menggema sebagai Bapak Republik Indonesia. Sebab, dialah sosok yang pertama kali mengenalkan Republik Indonesia, jauh sebelum Soekarno maupun Mohammad Hatta mengucapkan Republik Indonesia.

Peneliti Tan Malaka dari Belanda, Harry A. Poeze menuturkan, masih ada jejak-jejak autentik dari Tan Malaka. Jejak itu ada pada puluhan surat yang saat ini berada di Moskow, Rusia. Wajar kalau Tan Malaka menulis surat yang ditujukan ke Moskow. Saat aktif sebagai anggota PKI, Tan Malaka merupakan tokoh penting PKI di Indonesia. Dia menjadi perwakilan Indonesia dalam konferensi Partai Komunis dunia di Moskow.

Dalam posisinya, Tan Malaka punya tugas untuk selalu memberi laporan pada Komitern Partai Komunis di Moskow. Surat-surat itulah yang menjadi laporan Tan Malaka pada Komitern Partai Komunis. “Ada puluhan surat Tan Malaka, dimana dia melaporkan untuk mewujudkan tugas Komitern Partai Komunis,” kata Poeze dalam sebuah kesempatan di Jakarta beberapa waktu lalu.

Surat-surat itu hingga kini masih tersimpan rapi di pemerintahan Rusia. Tepatnya di Moskow, di mana kota itu menjadi pusat kegiatan Partai Komunis dunia saat itu. “Surat-surat itu asli dan ditandatangani dengan tulisan tangan,” kata Poeze.

Surat yang ditulis tangan oleh Tan Malaka ini menggunakan berbagai bahasa. Selain bahwa Inggris, juga menggunakan bahasa Melayu maupun Mandarin. Bahasa, bagi Tan Malaka bukan masalah. Sebelum melakoni hidup dalam kejaran polisi rahasia Hindia Belanda, Amerika, dan Jepang, dia sudah menguasai berbagai bahasa. Masa 20 tahun dalam pelarian di berbagai negara semakin mematangkannya dalam berkomunikasi dengan siapapun.

Kini, surat-surat itu siap untuk diterbitkan. Poeze berharap dapat segera menyelesaikan proyek besar untuk meneliti surat-surat Tan Malaka. Setelah merampungkan proyek mengenal karakter Tan Malaka dan membaginya dalam 14 karakter utama, Poeze berniat menuntaskan penelitiannya pada surat-surat Tan Malaka. “Saya harap, saya masih punya waktu untuk meneliti surat-surat itu,” kata dia.

Tan Malaka tak bernasib mujur seperti mereka yang menikmati kekuasaan pascakemerdekaan. Sosok yang pertama mengenalkan Republik Indonesia ini harus meregang nyawa di tangan negara yang selama hidupnya ia perjuangkan. Nasib Tan Malaka memang tak sejalan dengan ide dan gagasannya tentang Indonesia. Sebagian besar ide dan gagasannya berhasil ia tuangkan dalam bentuk buku. Surat yang ditujukannya ke Moskow menjadi bahan baru mengenal ide dan pemikiran tokoh yang disebut Poeze sebagai pemikir Islam.

“Dalam pemikiran Barat, Tan Malaka disebut sebagai orang Islam tulen dan harus ditafsirkan sebagai pemikir Islam,” kata Poeze saat membedah pemikiran Tan Malaka.

Menurut Poeze, Tan Malaka menegaskan pentingnya Islam di Indonesia. Dia juga menjadi sosok yang berani mengutarakan ide bahwa Islam mewakili salah satu pemikiran revolusi dan harus didukung saat konferensi Partai Komunis di Moskow.