Selasa , 31 January 2017, 08:37 WIB
Imlek 2017

Alasan Mengapa Warga Keturunan Cina Cenderung Memisahkan Diri

Rep: Lintar Satria/ Red: Karta Raharja Ucu
Gahetna.nl
Kampung cina di Batavia tahun 1910.
Kampung cina di Batavia tahun 1910.

REPUBLIKA.CO.ID, Masyarakat peranakan Cina sudah memiliki sejarah panjang di Indonesia. Mengutip Rafles dalam History of Java sejarawan Denys Lombard menulis sekitar 1812 sudah ada 94 ribu orang Cina di Jawa. Saat sensus dilakukan Pemerintah Hindia Belanda pada 1905, ada sekitar 295 ribu jiwa untuk di Pulau Jawa sendiri. Dan sekitar 593 ribu jiwa di seluruh Hindia Belanda.

Menurut Lombard, para peranakan ini kurang cepat membaur dan lama mempertahankan adat kebiasaan negeri asal mereka. Jumlahnya mereka cukup besar dan hidup berkelompok. Terpisah dari masyarakat dari luar mereka.

Sekitar 1900-an banyak perempuan Cina yang juga dikirim ke Hindia Belanda. Sehingga perkawinan campuran makin jarang terjadi. Dalam Nusa Jawa: Silang Budaya jilid II, Lombard mengatakan, anak-anak mereka dididik dengan cara Cina dan bahasa ibu mereka dialek yang dipakai keluarga 'Hakka'. Dan begitu mereka masuk sekolah yang pertama kali diajarkan ialah bahasa Mandarin.

"Sedikit demi sedikit berkembang suatu perasaan kebanggan budaya dan yang kita saksikan seakan-akan ialah terjadinya suatu 'pencinaan kembali' dalam golongan-golongan masyarakat yang sudah lama di Nusantara," tulis Lombard dalam buku yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama tersebut.

Namun, jauh sebelum "pencinaan kembali" perantau Cina sudah banyak tinggal di pesisir Jawa. Seorang penerjemah dokumen asing Kaisar Ming sudah menemukan perantauan Cina di pesisir Jawa. Pada 1413, ada 57 kapal yang di antaranya memiliki panjang 60 meter berlabuh di Nanjing, ibu kota kekasiaran. Kapal-kapal tersebut akan menyusurui Sungai Yangtze menuju Laut Kuning.

Penerjemah dokumen asing Ma Huan menjadi salah satu penumpang dari kapal-kapal tersebut. Ia seorang Muslim serta mampu berbicara dan membaca tulisan Arab. Ma Huan berasal dari kota beberapa mil selatan Hangzhou, sebuah pelabuhan utama perdagangan masa itu. Ma Huang bukan seorang tokoh atau bangsawan, kemungkinan ia hanya seorang pejabat rendahan.

Memoar perjalanan Ma Huan ke Asia Tenggara diterjemahkan JVG Mills dengan judul Ying-Yai-Sheng-Lan: The Overall survey of the ocean shores. Buku ini diterbitkan Cambridge University Press pada 1970.

(Baca Juga: Jual Beli Anak Gadis Cina di Awal Abad 19)