Selasa , 31 January 2017, 05:33 WIB
Imlek 2017

Jual Beli Anak Gadis Cina di Awal Abad 19

Rep: Lintar Satria/ Red: Karta Raharja Ucu
Republika/Mardiah
perdagangan manusia (illustrasi)
perdagangan manusia (illustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Pada akhir abad ke-18 para imigran dari Cina di Malaya dan Hongkong membawa gadis-gadis belia dari Cina untuk dipekerjakan menjadi pembantu rumah tangga. Para gadis yang dinamai mui tsai (adik kecil) dibeli dari orang tua mereka yang miskin.

Sebelumnya sistem ini tidak terlalu buruk sampai akhirnya lama-kelamaan sistem ini disalahgunakan. Dengan kurangnya perempuan yang di daerah imigran mui tsai menjadi barang dagangan yang diperjualbelikan di bordil-bordil.

Pakar sastra Cina, psikolog, dan kolomnis, Myra Sidharta menulis hal ini di artikel Nyonya Lie Tjian Tjoen dalam buku Panggung Sejarah: Persembahan Kepada Prof Denys Lombard. Myra menulis situasi semakin memburuk hingga akhirnya Malaya memberlakukan Chinese Protectorate untuk memeriksa kapal-kapal yang masuk dari Cina dan para korban dimasukkan ke dalam panti asuhan yang dinamakan Po Leung Kuk yang didirikan pada 1880. 

Po Leung Kuk memiliki peranan yang cukup penting dalam memberikan perlindungan kepada perempuan-perempuan yang mereka tampung. Mereka juga memberi pelatihan menjahit. Po Leung Kuk juga memberi kesempatan belajar kepada perempuan-perempuan tersebut untuk kelak dapat dididik meraih profesi yang derajatnya lebih tinggi.

Myra menulis pada 1930 pemasukan imigran perempuan dari Cina dipersulit di Malaya. Karena itulah perempuan-perempuan banyak diperdagangkan di Indonesia. Peranan Nyonya Lie Tjian Tjoen ini sangat penting dalam menyelamatkan perempuan-perempuan imigran Cina yang diperdagangkan di Indonesia.

Nyonya Lie Tjian Tjoen lahir dengan nama Auw Tjoei Lan pada 1889 di Majalengka. Ia putri ketiga Kapiten Cina, Auw Seng Hoe. Seorang tuan tanah kaya yang memiliki usaha kebun tebu yang kemudian diolah menjadi gula di pabriknya sendiri. Auw mengerjakan banyak karyawan, termasuk orang Belanda yang tinggal di perkebunannya.

Auw Tjian Tjoen menikah dengan Lie Tjian Tjoen pada 1906. Kemungkinan setelah pernikahan namanya tak lagi digunakan hanya menggunakan nama suaminya sehingga ia dipanggil Nyonya Lie Tjian Tjoen.

Suaminya berasal dari Batavia. Lie kecewa dengan ketika pindah ke Jakarta. Rumah mertuanya berada di tengah-tengah kota di jalan Pintu Besar. Penghuni rumah tersebut cukup banyak dan pekerja rumah tangga pun juga banyak.

Beruntung ia bertemu dengan Dr Zigman. Dr Zigman mengajaknya menjadi pengurus sebuah badan sosial yang mengurus perempuan-perempuan yang kurang beruntung. Jiwa sosialnya sudah lama dipupuk sejak di Majalengka. Di rumah orang tuanya ia terjun ke pekerjaan-pekerjaan amal. Ayahnya juga sangat peduli dengan para gelandangan dan penyandang difabel.

Ayahnya menyediakan makanan dan gubug untuk orang-orang yang kurang beruntung. Putra-putrinya diberikan tugas masing-masing untuk membantu mereka, seperti membagikan kafan atau peti mati untuk yang baru meninggal. Ketika Lebaran, Tjoien Lan diberi tugas untuk membersihkan duri-duri di dalam ikan untuk makan tunanetra.

Dalam buku yang diterbitkan Yayasan Pustaka Obor ini, Myra menuturkan pada suatu saat Tjoei Lan kurang teliti memeriksa duri-duri ikan. Ayahnya melihat pekerjaan Tjoei Lan dan ia dihukum dengan pukulan rotan dan amarah ayahnya. Ayahnya menilai Tjoei Lan tidak bertanggungjawab.

"Tjoei Lan sangat terpukul dengan insiden ini dan ia selalu menyebutnya sebagai sangat penting dalam kehidupan selanjutnya," tulis Myra.