Selasa , 15 Agustus 2017, 01:51 WIB

SEA Games Usai Kematian SDSB

Red: Didi Purwadi
Istimewa/Wikipedia
SEA Games 1995
SEA Games 1995

REPUBLIKA.CO.ID, CHIANG MAI -- Judi lotre berkedok Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB) pernah marak di era 1980an akhir sampai 1990an awal. Diundi tiap Rabu malam pukul 23.00 WIB, SDSB disebut-sebut sebagai upaya penggalangan dana masyarakat untuk pembinaan olahraga nasional.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) saat itu mengeluarkan fatwa bahwa SDSB termasuk judi sehingga hukumnya haram. Kehadiran SDSB pun lebih banyak menimbulkan pengaruh negatif di tengah masyarakat. Pada 25 November 1993, pemerintah akhirnya mencabut dan membatalkan pemberian izin untuk pemberlakuan SDSB tahun 1994.

Meski tidak ada lagi penggalangan dana pembinaan olahraga bersumber dana SDSB, persiapan kontingen Indonesia menyambut SEA Games XVIII saat itu ternyata tidak menghadapi masalah dana. Perjalanan Indonesia menuju SEA Games yang digelar di Chiang Mai, Thailand, pada Desember 1995 itu berlangsung mulus.

KONI saat itu terkesan sudah banyak uang. Jauh-jauh hari Ketua Umum KONI Pusat, Wismoyo Arismunandar, berani menjanjikan bonus bagi atlet peraih medali emas. Satu emas dihargai Rp 25 juta (11.121 dolar AS). Bila Indonesia berhasil mendulang 130 medali emas, KONI mesti menyediakan dana Rp 3,25 miliar (1,4 juta dolar AS) untuk bonus.

Belum lagi biaya selama pelatnas sejak April-Desember 1995. Dengan jumlah kontingen sebanyak 691 orang, setidaknya KONI menyediakan dana latihan sebesar Rp 2,48 miliar lebih (1,1 juta dolar AS). Jumlah tersebut belum termasuk pengeluaran misalnya untuk peralatan, pelatih asing, biaya ujicoba ke luar negeri, konsumsi, penginapan selama pelatnas dan lain-lain.

Secara total, menurut laporan KONI, biaya yang dibutuhkan sekitar Rp 12,5 miliar (5,5 juta dolar AS). Biaya ini hampir sama dengan biaya perhelatan SEA Games XVII Singapura dua tahun sebelumnya. Jadi, tanpa dana judi, dunia olahraga tetap mampu berjalan.

Sumber : Pusat Data Republika/Sapto Anggoro