Sabtu 18 Mar 2023 17:14 WIB

Turki Dukung Finlandia Gabung NATO, Masih Tolak Swedia

Turki memainkan peran penting dalam rencana Finlandia dan Swedia gabung ke NATO.

Rep: Lintar Satria/ Red: Nidia Zuraya
Bendera berkibar tertiup angin di luar markas NATO di Brussel, 7 Februari 2022.  Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengumumkan permintaan Finlandia sudah dikirim ke parlemen Turki untuk diratifikasi
Foto: AP Photo/Olivier Matthys
Bendera berkibar tertiup angin di luar markas NATO di Brussel, 7 Februari 2022. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengumumkan permintaan Finlandia sudah dikirim ke parlemen Turki untuk diratifikasi

REPUBLIKA.CO.ID, BRUSSELS -- Pada Mei 2022 lalu Finlandia dan Swedia mengambil langkah historis dengan mengumumkan niat mereka bergabung dengan Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Terdapat pembicaraan soal 'ratifikasi cepat'.

Namun jalan menuju keanggotaan aliansi pertahanan itu lebih sulit dari yang dibayangkan. Pekan ini pejabat pemerintah Finlandia terbang ke Turki untuk memastikan kesepakatan, sementara Swedia tidak.

Baca Juga

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memainkan peran penting dalam perkembangan bergabungnya Finlandia dan Swedia ke NATO selama 10 bulan terakhir. Pada Jumat (17/3/2023) kemarin ia mengumumkan permintaan Finlandia sudah dikirim ke parlemen Turki untuk diratifikasi, membuka jalan NATO menjadi semakin besar.  

Dalam konferensi pers bersama dengan Presiden Finlandia Sauli Niinisto di Ankara, Turki, Erdogan memuji langkah-langkah tulus dan konkrit Finlandia untuk memenuhi komitmen keamanan yang diminta Turki di pertemuan NATO di Madrid hampir satu tahun yang lalu.

"Kami memutuskan memulai proses persetujuan protokol aksesi Finlandia ke NATO di parlemen kami, berdasarkan pencapaian sensitif dan jarak negara kami dalam mengatasi masalah keamanan kami," kata Erdogan seperti dikutip Washington Post, Sabtu (18/3/2023).

"(Pembicaraan dengan Swedia akan) dilanjutkan berdasarkan prinsip-prinsip aliansi kami dan pendekatan kami dalam memerangi terorisme," tambahnya.

Erdogan mengatakan kemajuan proses bergabungnya Swedia dengan NATO tergantung pada langkah konkrit yang diambil Stockholm. Ia mengatakan Swedia menolak mengekstradisi kelompok teroris yang berafiliasi dengan milisi Partai Pekerja Kurdi atau PKK.

Beberapa bulan terakhir Turki mengungkapkan kemarahan pada pengunjuk rasa di Swedia yang memprotes sikap Erdogan. Termasuk demonstrasi membakar al-Quran pada Januari lalu.

Langkah Erdogan memisahkan Finlandia dan Swedia tampaknya juga permainan politik dalam negeri. Ia hendak menaik pemilih nasionalis sebab di beberapa jajak pendapat partainya masih kalah dari oposisi utama menjelang pemilihan umum 14 Mei mendatang.

Bagi NATO langkah Erdogan gangguan yang tidak tepat waktu dan berbahaya. NATO bersikeras Finlandia dan Swedia akan bergabung di saat yang sama, memperkuat aliansi pertahanan itu. Tapi sampai akhirnya dua negara itu bergabung para pejabat harus bolak-balik antar ibukota sementara perang Rusia di Ukraina masih berlangsung.

Pekan ini Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson tampaknya mengakui Finlandia akan bergabung dengan NATO lebih dulu. Tapi Turki bukan satu-satunya halangan Finlandia dan Swedia bergabung dengan aliansi pertahanan Eropa.

Hungaria memberi sinyal mendukung keanggotaan Finlandia dan Swedia tapi masih menunda pemungutan suara parlemen, mendorong spekulasi Hungaria akan menggunakan masalah ini dalam perselisihannya dengan Uni Erpa. Tapi NATO masih yakin Hungaria akan meratifikasi Finlandia dan Swedia.

Dengan asumsi Hungaria sudah membuka pintu, Swedia masih harus bernegosiasi dengan Turki. Pertemuan Finlandia dan Turki pada Jumat kemarin perubahan dramatis dalam proses ini.

Setelah Rusia menginvasi Ukraina, Finlandia mulai memikirkan ulang kebijakan militer non-blok. Mendorong Swedia melakukan hal yang sama. Aliansi 30 negara anggota menyambut baik ketertarikan dua negara itu dengan mengatakan tambahan dua negara yang sudah merupakan mitra dekat akan memperkuat postur NATO.

Keanggotaan Finlandia dan Swedia akan membawa NATO ke ujung utara Eropa dan memperkuat kehadirannya di sekitar Laut Baltik. Setelah perdebatan dan diplomasi selama berbulan-bulan perwakilan dari dua negara mengajukan pendaftaraan mereka bersama-sama dalam sikap yang berhati-hati.

"Saya menyambut permintaan Finlandia dan Swedia untuk bergabung dengan NATO, anda mitra terdekat kami dan keanggotaan anda di NATO akan memperluas berbagi kepentingan keamanan," kata Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg.

Namun kemudian Turki menolak pendaftar dua negara tersebut. Ia mengatakan Swedia memberikan suaka pada anggota PKK dan memberi sinyal akan menolak pendaftarannya. Perlawanan Turki tampaknya mengejutkan aliansi.

Beberapa pekan kemudian para pemimpin negara, diplomat dan pejabat NATO berusaha mendorong maju proses pendaftaraan. Sebelum pertemuan NATO di Madrid pada 2022 lalu, tiga negara membuat kesepakatan: Turki akan mencabut penolakannya dengan imbalan senjata dan kelompok milisi Kurdi.

"Menyambut Finlandia dan Swedia ke aliansi akan membuat mereka lebih aman, NATO lebih kuat dan wilayah Euro-Atlantik lebih aman, ini sangat penting karena kami sedang menghadapi krisis keamanan terbesar dalam beberapa dekade," kata Stoltenberg.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement