Ahad 12 Mar 2023 12:20 WIB

PM Inggris Temui Biden, Bahas Perjanjian Kapal Selam Nuklir

Pertemuan ini memfinalisasi perjanjian demi menahan pengaruh Cina di Indo Pasifik.

Rep: Lintar Satria Zulfikar/ Red: Ferry kisihandi
Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak
Foto: Leon Neal/Pool Photo via AP
Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak terbang ke Amerika Serikat (AS) untuk bertemu Presiden Joe Biden dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanase, Ahad (12/3/2023). 

Pertemuan ini untuk memfinalisasi detail perjanjian kapal selam demi menahan pengaruh Cina di Indo Pasifik. Inggris juga akan mempublikasikan kebijakan keamanan, pertahanan, dan luar negeri atau Integrated Reviews yang baru. 

Publikasi itu menjabarkan respons Inggris pada ancaman-ancaman dari seluruh dunia. Terakhir kali Inggris memperbarui Integrated Reviews pada 2021 ketika Rusia memulai invasinya ke Ukraina dan ketegangan dengan Cina semakin memanas. 

Di tahun yang sama, AS dan Inggris mengumumkan kerja sama AUKUS. Perjanjian trilateral itu upaya tiga negara melawan jejak militer Cina di kawasan Indo-Pasifik. 

Pertemuan di San Diego pada Senin (13/3/2023) besok diperkirakan memutuskan langkah berikutnya bagi Australia menerima kapal selam tenaga nuklir. Sunak memuji aliansi AUKUS dan mengatakan kemitraan semacam itu menunjukkan pendekatan Inggris. 

"Di masa yang bergejolak, aliansi global Inggris merupakan sumber terkuat kami memperkuat keamanan," katanya Sabtu (11/3/2023). Ia juga menyatakan kepergiannya ke AS menegaskan penguatan aliansi ketiga negara. 

"Saya pergi ke AS untuk meluncurkan tahap berikutnya program nuklir AUKUS, proyek yang mengikat sekutu-sekutu terdekat kami dan memberikan keamanan, teknologi baru, dan keuntungan ekonomi ke dalam negeri," tambah Sunak.

Dalam perjanjian AUKUS pada 2021 Inggris dan AS sepakat memberikan Australia teknologi dan kemampuan mereka untuk membangun kapal selam tenaga nuklir.

Inggris mengatakan kesepakatan pertama AS berbagi teknologi nuklir sejak 1950-an, itu akan membuka lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi Inggris. 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement