REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Miris melihat fenomena saat ini, dimana remaja lebih mengenal penghibur pentas dibanding pejuang ilmu. Mereka juga lebih tertarik menjadi seorang penghibur pentas dengan jaminan popularitas dan materi dibanding mereka yang berjuang dan mengaharumkan nama bangsa di ajang olimpiade sains dengan kecerdasan otaknya.
Media massa pun turut terlibat dalam hal ini, lihatlah berapa banyak pemberitaan mengenai prestasi anak bangsa dibidang ilmu pengetahuan dibandingkan pemberitaan mengenai seorang remaja yang menjadi pemenang dalam ajang olah vokal ataupun pemberitaan mengenai atlet yang mengharumkan nama bangsa di ajang internasional?. Miris sekali memang, remaja saat ini lebih mengenal sosok Pasha “Ungu” dibanding sosok seorang Ni Komang Darmiastini peraih medali perunggu pada Olimpiade Biologi Internasional di Brisbane, Australia ataupun sosok Ruhama Sidqy yang meraih medali perak dalam Olimpiade Sains Nasional mata pelajaran Fisika tahun 2010 di Medan.
Mengapa demikian? Dahsyatnya pemberitaan, sambutan serta apresiasi bagi artis Indonesia yang berhasil Go Internasional tetapi mereka yang berhasil menorehkan prestasi melalui kecerdasan otaknya hanya disambut seperlunya saja. Bahkan apresiasi dan perhatian dari pemerintah pun sangat kurang.
Penulis: Salma Adillasari (Siswi MAN 7 Jakarta)