REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA --Isu mengenai proyek Mass Rapid Transit (MRT) masih terus bergulir. Ada kegamangan yang dirasa Gubernur DKI Jakarta, Jokowi. Kesalahan dalam pengambilan keputusan akan langsung berdampak bagi masyarakat. Sebagian besar masyarakat awam mungkin berpikir pemerintah Ibukota lamban dalam menangani proyek MRT. Padahal ada tanggung jawab besar. Apabila tidak ditelaah lebih lanjut dan lebih dalam, tanggungan kedepan akan lebih besar.
Pinjaman yang diberikan oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) sebesar 120 miliar Yen adalah jumlah yang sangat besar. Dengan masa pembayaran hampir 40 tahun. Bahan-bahan, desain, sampai engineer-nya sendiri didatangkan langsung dari Jepang meskipun dibantu pula oleh engineer dari Indonesia.
MRT memang bukan rencana kecil untuk negara ini. MRT adalah sebuah teknologi baru yang bahkan ahli dari Indonesia sendiri belum ada. Menambahkan rencana jalur yang sudah ditetapkan saja membutuhkan waktu sekitar 4 tahun. Proses survei hingga mendapatkan data yang valid dan reliabel, pemilihan konsultan untuk desain, pemilihan kontraktor yang siap dan tepat. Sampai pemikiran konsep pengembalian pinjaman tentunya akan menghabiskan banyak waktu. Apalagi ini bukan proyek kacangan.
Cepat atau lambat transportasi di Indonesia harus berubah. Meskipun sulit dan panjang, setidaknya ada usaha mengurai sedikit demi sedikit. Perubahan yang dilakukan bukan untuk negara, golongan, pemerintah, atau institusi, kawan. Tapi untuk diri kita sendiri dan calon penerus bangsa di masa depan.
Penulis: Astri Kusuma Ning Dyah (Mahasiswi Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Jakarta)