Jumat, 10 Jumadil Awwal 1434 / 22 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Harkitnas, tak Sekadar Rutinitas

Jumat, 25 Mei 2012, 17:04 WIB
Komentar : 0
Sutri Jaya
Peduli Pendidikan Anak-anak tak mampu

REPUBLIKA.CO.ID, 20 Mei, hari kebangkitan nasional bukan hanya sekedar  menjadi rutinitas yang sering kita lakukan pada setiap tahunnya. Seharusnya momentum hari kebangkitan nasional dijadikan inspirasi bagi pemerintah untuk memajukan bangsa khususnya dalam bidang  pendidikan.

Pemerintah harus benar-benar serius ingin menjadikan Indonesia sebagai negara yang maju dan beradab, pemerintah harus menjadikan pendidikan sebagai kebijakan yang bersifat menyeluruh, tidak diskriminatif, dan harus dapat dinikmati oleh setiap warga negara Indonesia. Tidak adalagi ketika jam sekolah ada anak-anak yang berdagang, mengamen dan mengemis di jalanan.

Secara perhitungan pemerintah, pemerintah boleh saja mengklaim angka pertumbuhan ekonomi tinggi, pengangguran berkurang, rupiah menguat, dan sejumlah klaim lainnya. Namun, lihatlah realita ditengah-tengah masyarakat. Kemiskinan dimana-mana, anak jalanan dimana-mana, banyak rakyat yang hidup tak layak, jangankan untuk biaya pendidikan untuk makan saja susah.

Pendidikan pun semakin mahal sekaligus tidak bermutu dan tidak menjamin seseorang mendapatkan pekerjaan apalagi gaji yang layak. Tak cukup hanya dengan memulai program wajib belajar 12 tahun, tetapi juga harus dapat menekan biaya kuliah di perguruan tinggi yang sampai sekarang belum bisa terjangkau oleh sebagian besar masyarakat Indonesia bisa kulliah masih menjadi mimpi untuk anak orang miskin. Pemerintah harus lebih care and aware lagi terhadap pendidikan bangsa

Bukan hanya sekedar Mata Mendengar,Kuping Berbicara,Mulut Melihat, yang terpenting Action yg disertai HATI NURANI..!!

Oleh Sutri Jaya (Mahasiswa LP3I)

Redaktur : Hafidz Muftisany
715 reads
Anas Ra, pembantu rumah tangga Nabi Saw berkata, “ Aku membantu rumah tangga Nabi Saw sepuluh tahun lamanya, dan belum pernah Beliau mengeluh “Ah” terhadapku dan belum pernah Beliau menegur “kenapa kamu lakukan ini atau kenapa tidak kau lakukan ini.((HR. Ahmad))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

  VIDEO TERBARU
Geliat Perkembangan Muslim Cina
Pemerintah Komunis berencana untuk membangun masjid di seluruh negeri. Hal ini, merupakan implementasi guna memenuhi tuntutan 20-an juta warga Muslim di negeri itu.Menurut...