Ahad 15 Jan 2023 16:55 WIB

China Laporkan 60 Ribu Kematian Terkait Covid-19

Hampir 60 ribu kematian terkait infeksi Covid-19 sejak mencabut pembatasan ketat

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani
Orang yang menjalani terapi intravena dan terapi oksigen duduk di koridor rumah sakit, di Shanghai, China, 13 Januari 2023. Pakar kesehatan terkemuka China percaya bahwa gelombang pertama infeksi COVID-19 yang terburuk telah berakhir. Dokter Liang Wannian, ketua panel tanggapan COVID-19 di bawah Komisi Kesehatan Nasional, dalam sebuah pernyataan pada 11 Januari mengatakan bahwa jumlah infeksi menurun, tetapi itu masih merupakan periode yang sangat menegangkan bagi kelompok rentan dan daerah pedesaan.
Foto: EPA-EFE/ALEX PLAVEVSKI
Orang yang menjalani terapi intravena dan terapi oksigen duduk di koridor rumah sakit, di Shanghai, China, 13 Januari 2023. Pakar kesehatan terkemuka China percaya bahwa gelombang pertama infeksi COVID-19 yang terburuk telah berakhir. Dokter Liang Wannian, ketua panel tanggapan COVID-19 di bawah Komisi Kesehatan Nasional, dalam sebuah pernyataan pada 11 Januari mengatakan bahwa jumlah infeksi menurun, tetapi itu masih merupakan periode yang sangat menegangkan bagi kelompok rentan dan daerah pedesaan.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- China pada Sabtu (14/1/2023) melaporkan hampir 60 ribu kematian terkait infeksi Covid-19 sejak mencabut pembatasan ketat pada awal Desember. Pemerintah mengatakan, China telah melewati puncak darurat Covid-19.

Komisi Kesehatan Nasional mengatakan, jumlah kematian sejak 8 Desember termasuk 5.503 akibat gagal napas yang disebabkan oleh Covid-19, dan 54.435 kematian akibat penyakit penyerta dan Covid-19. Komisi Kesehatan Nasional mengatakan, kematian terkait Covid-19 yang masuk dalam hitungan hanya yang terjadi di rumah sakit. Dengan demikian, siapa pun yang meninggal di rumah tidak akan dimasukkan dalam hitungan.

Laporan itu menggandakan jumlah kematian resmi Covid-19 China menjadi 10.775 sejak penyakit ini pertama kali terdeteksi di pusat kota Wuhan pada akhir 2019. China hanya menghitung kematian akibat pneumonia atau gagal napas dalam angka kematian resmi Covid-19. Ini menjadi definisi sempit yang mengecualikan banyak kematian terkait  Covid-19 di sebagian besar dunia.

China berhenti melaporkan data tentang kematian dan infeksi Covid-19 setelah mencabut kebijakan zero-Covid. Kendati demikian, lonjakan infeksi virus corona sudah dimulai pada Oktober. Rumah sakit di seluruh negeri telah kewalahan menerima pasien dengan gejala Covid-19. Sementara rumah duka serta krematorium juga kewalahan menangani pasien Covid-19 yang meninggal dunia.

"Jumlah infeksi sekarang tampaknya turun berdasarkan penurunan jumlah pasien yang mengunjungi klinik," kata seorang pejabat Komisi Kesehatan Nasional, Jiao Yahui.

Jiao mengatakan, jumlah harian orang yang pergi ke klinik mencapai 2,9 juta pada 23 Desember. Jumlah ini turun 83 persen menjadi 477.000 pada Kamis (12/1/2023).

“Data ini menunjukkan puncak darurat nasional telah berlalu,” kata Jiao dalam konferensi pers.

Komisi Kesehatan mengatakan, usia rata-rata orang yang meninggal sejak 8 Desember adalah 80,3 tahun, dan 90,1 persen berusia 65 tahun ke atas. Sementara lebih dari 90 persen orang yang meninggal menderita kanker, penyakit jantung atau paru-paru atau masalah ginjal.

“Jumlah pasien lanjut usia yang meninggal karena penyakit relatif besar, yang menunjukkan bahwa kita harus lebih memperhatikan pasien lanjut usia dan berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan nyawa mereka,” kata Jiao.

Kepala Satgas Covid-19 di Universitas Oklahoma, Dr. Dale Bratzler, mengatakan, sulit untuk menilai apakah China benar-benar telah melewati puncak Covid-19. “Itu sulit untuk diketahui. China mengkarantina orang di dalam ruangan, ada banyak orang yang tidak divaksinasi, orang-orangnya rentan," ujarnya.

Seorang dokter penyakit menular dan profesor kesehatan masyarakat di Yale School of Public Health, Albert Ko, mengatakan, jumlah kematian akibat Covid-19 yang dilaporkan China mungkin “diremehkan secara signifikan”. Karena cara mereka mendefinisikan kematian yang terkait dengan Covid-19.

“Mereka menggunakan definisi kasus yang sangat sempit untuk kematian (Covid-19). Mereka harus mengalami gagal nafas untuk dihitung sebagai kasus, Anda harus berada di tempat di mana mereka dapat mengatakan Anda memenuhi semua persyaratan, dan itu adalah di rumah sakit," kata Ko.

Ko mengatakan, rumah sakit di China, sebagian besar terletak di kota-kota besar tempat wabah Covid-19 dilaporkan, bukan di daerah pedesaan yang terisolasi. “Ini adalah Tahun Baru Imlek, orang-orang bepergian, pergi ke pedesaan yang penduduknya rentan. Kami benar-benar khawatir tentang apa yang akan terjadi di China saat wabah ini menyebar ke pedesaan," ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement