
Sosialisasi penggunaan dinar dan dirham di masyarakat gencar dilakukan. salah satunya lewat pelaksanaan Festival Hari Pasaran yang kali ini diselenggarakan oleh JAWARA (Jaringan Wirausahawan Pengguna Dinar Dirham Nusantara) bekerja sama dengan Wakalah Al Kautsar, Baitul Mal Nusantara dan Dompet Dhuafa Republika yang berlangsung di depok, jawa barat, akhir pekan lalu.
Di festival itu, masyarakat Depok diperkenalkan bagaimana tata cara bertransaksi jual beli dinar, dirham dan daniq. Setiap barang dan jasa diperjual belikan menggunakan dinar, dirham dan daniq sebagai alat tukar. Untuk mendukung kegiatan itu, panitia festival menyiapkan penukaraan dinar, dirham dan daniq dengan rupiah. Untuk satu dirham misalnya bila dirupiahkan menjadi 1.4 juta rupiah, sedangkan satu dirham bila dirupiahkan menjadi 32 ribu rupiah dan untuk satu daniq bila dirupiahkan menjadi 5 ribu rupiah. Setiap transaksi, masyarakat diberikan surat keterangan keaslian dinar dan dirham sehingga bisa ditukar kembali bila diperlukan.
Direktur utama Wakala Induk Nusantara, Zaim Saidi berpendapat pengenalan masyarakat terhadap dinar dan dirham sebagai alat transaksi memiliki tujuan untuk mengembalikan syariah islam sehingga mewujudkan masyarakat yang makmur.
Menurutnya, pemakaian uang kertas yang selama ini digunakan sebagai alat transaksi hanyalah menghadirkan kesejahteraan yang semu. Oleh karena itu, Saidi mengharapkan dengan adanya sosialisasi penggunaan dinar dan dirham sebagai alat transaksi jual beli, kesejahteraan yang selama ini jauh dari umat islam bisa dinikmati kembali secara merata.
Sementara itu, Pengurus Majelis Ulama Indonesia Kota Depok, Ahmad Saifuddin berpendapat sosialisasi dinar-dirham sebagai alat tukar mampu membiasakan masyarakat untuk bertransaksi layaknya mereka menggunakan mata uang rupiah. Dia menilai banyak manfaat yang diperoleh masyarakat dengan mengetahui penggunaan dinar dan dirham sebagai alat transaksi.
Walikota Depok, Nurmahmudi Ismail pun menyambut positif upaya pengenalan dinar-dirham kepada masyarakat dan penggunaannya dalam transaksi perdagangan. Menurutnya, nilai dinar-dirham relatif stabil terhadap barang yang diperjualbelikan dan tepat menjadi rujukan sistem moneter Indonesia.
Ia menilai Dinar-dirham ini akan semakin berkembang apabila banyak produsen jadi pedagang dan pedagang ini memakai dinar-dirham untuk bertransaksi. Ia pun berharap ke depan terdapat komplek pertokoan yang menjadi pilot project dalam penggunaan dinar-dirham.