Sabtu, 29 Ramadhan 1435 / 26 Juli 2014
find us on : 
  Login |  Register

Sehari, Empat Demo Kepung Jalan Pahlawan, Semarang

Jumat, 28 Oktober 2011, 21:26 WIB
Komentar : 0

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Empat unjuk rasa yang berbeda digelar di gerbang depan kantor gubernuran Jalan Pahlawan, Jumat (28/10). Masing-masing menyampaikan suara tuntutan yang berbeda kepada pemerintahan SBY-Boediono beserta kabinetnya. Demo ujuk rasa dimulai oleh Serikat Pekerja Nasional (SPN) Jateng yang sejak awal datang dengan puluhan massanya menuntut kejelasan atas nasib kesejahteraan para buruh pekerja yang ada di Jateng.

Disusul dengan Aliansi Keluarga Besar Mahasiswa Unissula (AKBMU) yang berunjuk rasa dalam rangka peringatan Sumpah Pemuda menuntut adanya penegakan supremasi hukum, menjaga keutuhan NKRI, judicial review UU intelejen, mengembalikan kedaulatan rakyat, reshufel Menpora dan Menakertrans, serta menurunkan SBY-Boediono. “Sudah saatnya para intelektual, mahasiswa, politisi, dan gerakan-gerakan peduli bangsa, dan negara melakukan tindakan tegas. Mari kita galang kekuatan revolusi demi kemajuan, kemakmuran dan keadilan bangsa,” ujar korlap aksi, Taefur Rochman.

Sementara, Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI) Semarang menuntut pelaksanaan reforma agraria sejati dalam UU PA 1960, penolakan UU sektoral, menolak liberalisme dan komersialisasi pendidikan berikut kebijakan luar negerinyam dan membatalkan perjanjian ACFTA serta menuntut penegakan kedaulatan ekonomi kerakyatan.

“SBY-Budiono adalah pemerintahan yang gagal dan telah menghianati cita-cita nasional proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan sangat tunduk kepada neoliberalisme. Oleh karena itu, kita serukan untuk berjuang melawan neoliberalisme dan neokolonialisme serta mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam gerakan menegakan pasal 33 UUD 1945,” ujar Korlap demo, Darmawan Iskandar saat unjuk rasa Komite Pimpinan Wilayah (KPW) Partai Rakyat Demokratik (PRD) Jateng.

Reporter : Qommarria Rostanti
Redaktur : Rahmat Santosa Basarah
Tiada beriman kepadaku orang yang bermalam (tidur) dengan kenyang sementara tetangganya lapar padahal dia mengetahui hal itu. ((HR. Al Bazzaar))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Masa Depan Ekonomi Indonesia di Era Jokowi
WASHINGTON -- Salah satu tantangan terberat bagi Presiden RI Terpilih Joko Widodo adalah menciptakan pertumbuhan ekonomi di tengah berbagai kendala struktural....