Kamis, 29 Zulhijjah 1435 / 23 Oktober 2014
find us on : 
  Login |  Register

Pertamina Diduga Jual BBM Subsidi Secara Ilegal

Selasa, 12 Juli 2011, 09:15 WIB
Komentar : 1
Pembatasan BBM bersubsidi (ilustrasi)
Pembatasan BBM bersubsidi (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, DUMAI - Mobil-mobil tanki Depot Unit Pemasaran (UPms) Pertamina Kota Dumai, Riau, yang biasa mendistribusi bahan bakar minyak jenis premium dan solar bersubsidi, diduga menjual Bahan Bakar Minyak (BBM) tersebut secara ilegal disejumlah tempat penampungan.

"Setiap hari mobil tanki Pertamina ini berhenti di tempat penampungan ilegal untuk menjual BBM. Minyak itu kemudian dijual ke pengecer untuk mendapatkan keuntungan lebih besar," kata Ilham warga Dumai, Selasa (12/7).

Penelusuran ANTARA, tempat-tempat penampungan BBM tidak resmi itu tersebar disepanjang jalan utama yang menghubungkan Kota Dumai dengan Kota Duri, Kabupaten Bengkalis. Mobil-mobil tanki Pertamina yang mengangkut BBM jenis premium dan solar bersubsidi ini singgah disejumlah tempat penampungan liar untuk menjualnya ke para 'mafia' BBM yang selama ini dikabarkan "dimotori" oleh sejumlah oknum.

Bahkan beberapa penampungan liar terpantau berada tidak jauh dari Markas Kepolisian Sektor (Polsek) setiap hari menggelar patroli rutin, namun tidak pernah berupaya menertibkan aktivitas merugikan negara itu.

Penata Administrasi Umum Depot Unit Pemasaran (UPms) PT Pertamina Dumai, Trimo, mengatakan setiap hari sekitar 120 unit mobil tanki pengangkut ribuan kiloliter BBM bersubsidi ditugaskan untuk mendistribusi BBM kesebagian besar Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) tersebar di Provinsi Riau.

Kebutuhan BBM disebagian besar wilayah Riau yang menjadi jalur pendistribusian UPms Dumai sebanyak 1.200 kiloliter premium dan 2.200 kiloliter solar. "Seluruh BBM bersubsidi tersebut setiap harinya diangkut oleh sekitar 120 unit mobil tanki," kata Trimo.


Redaktur : Djibril Muhammad
Sumber : Antara
Janganlah kamu memberi makanan yang kamu sendiri tidak suka memakannya.((HR. Ahmad))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Zulkifli Hasan: Halal Itu Budaya Indonesia
JAKARTA -- Predikat negara dengan penduduk mayoritas Islam terbesar di dunia, membuat produk halal menjadi sesuatu yang penting di Indonesia. Bahkan Ketua MPR...