Kamis, 15 Maret 2012, 11:54 WIB

Kader HMI Mengaku Diserang 50 Polisi

Rep: Erik Purnama Putra/ Red: Djibril Muhammad
seputarnusantara
Sekretariat HMI Cikini
Sekretariat HMI Cikini

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Para kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mengaku diserang sekitar 50 polisi bersenjata saat menggelar demo menolak kenaikan BBM di jalan Cikini, Jakarta Pusat.

Ketua Umum Komisariat HMI cabang Universitas Terbuka Arwin Welhamina mengatakan, pihaknya dikejar polisi yang mengendarai puluhan sepeda motor hingga memasuki halaman kantor HMI cabang Jakarta, Rabu (14/3) malam kemarin.

"Kami digebuki dan diperlakukan seperti pencuri di dalam markas HMI," ujar Arwin yang ditemui Republika di Komisariat HMI cabang Jakarta, Jalan Cilosari, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (15/3).

Diceritakan Arwin, tindakan anarkis polisi semalam sangat tidak manusiawi. Karena itu, pihaknya menuding polisi telah melakukan pelanggaran HAM. Sebagai mahasiswa yang merupakan agent of change dan agent of control masyarakat, pihaknya murni menggelar demo menolak kenaikan BBM bersubsidi karena ingin menyampaikan aspirasi agar didengar pemerintah.

Pasalnya kalau sampai harga BBM naik maka barang-barang juga terkerek naik dan itu akan menyengsarakan rakyat. Untuk sementara ini, pihaknya bakal menuntut polisi agar menangkap beberapa temannya sebagai tindaklanjut demo semalam.

Sementara terhadap penyerangan sekertariat HMI, pihaknya tetap meminta polisi memprosesnya. "Kita tetap berjaga-jaga di komisariat, karena tidak ingin lagi kecolongan seperti semalam," ujar Arwin.