
REPUBLIKA.CO.ID, KRAMAT JATI – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang akan direalisasikan pemerintah membuat pedagang semakin panik.
Sebab, bila bahan bakar naik, otomatis harga pangan naik juga. "Pasti naik, sekitar 10 persen," ujar Maliq (45), pedagang sayuran, ketika ditemui di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, jumat (24/2).
Maliq setiap hari mengambil sayur mayur dengan mobil bak terbuka. Meskipun mobil tersebut miliknya sendiri, tapi dia juga harus mengeluarkan biaya operasional untuk mengambil pasokan barang.
Berkaca dari kenaikan BBM beberapa waktu lalu, barang biasanya akan naik sekitar 10 persen dari harga sebelumnya. Hal ini dikarenakan uang bensin pasti akan dimasukkan ke dalam biaya pengeluaran.
Pedagang sayur yang sehari-hari berdagang di Pasar Duri Grogol ini mengaku, bila harga naik, dia harus mencari jalan keluar agar tidak rugi. Jika saat itu pasokan barang banyak, maka harga barang akan murah, di sinilah Maliq bisa tertolong untuk menutupi ongkos bensin.
Saat ini, Maliq harus mengeluarkan ongkos bensin sekitar 50 ribu rupiah sekali jalan. Angka yang cukup besar baginya. "Mau bagaimana lagi, kalau tidak jualan, ya tidak makan," ujar lelaki yang sudah 25 tahun menjadi pedagang sayuran ini.
Maliq hanya berharap harga barang tidak akan melonjak tinggi karena sulit untuk menjualnya.