Tuesday, 28 Zulqaidah 1435 / 23 September 2014
find us on : 
  Login |  Register

PT KAI : Pedagang Stasiun Cikini Salah Kaprah

Tuesday, 14 February 2012, 14:40 WIB
Komentar : 1
blogspot
Stasiun Cikini
Stasiun Cikini

REPUBLIKA.CO.ID, KEBON SIRIH -- Keinginan pedagang Stasiun Cikini untuk mendapatkan tempat relokasi sebagai ganti 'lapak' mereka sepertinya tak dapat dipenuhi. Kepala Humas PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional (Daops) I, Mateta Rijalulhaq menuturkan, pihaknya tak mungkin menyediakan tempat berdagang yang baru bagi ratusan pedagang di Stasiun Cikini.

"Mau dimana lagi tempatnya? Tidak ada tempat lagi," ujar Mateta, Selasa (14/2). Meski begitu, Mateta menuturkan, semua keputusan akhir masih tergantung pada proses dialog yang akan dilakukan di Departemen Perhubungan, Jumat (17/2) mendatang.

Mateta berpendapat, selama ini pedagang sudah salah kaprah, mengartikan pengosongan tempat dagang mereka, di Stasiun Cikini, dengan anggapan PT KAI melakukan penggusuran. Mateta berdalih, apa yang mereka lakukan ini sudah sesuai dengan ketentuan dan merupakan upaya untuk menertibkan kawasan stasiun agar steril dan enak dipandang. Selama ini, dikatakan Mateta, kawasan Stasiun Cikini sudah sangat memperihatinkan.

"Bagaimana tidak memprihatinkan. Mereka bukan cuma menjadikan stasiun tempat berdagang, tetapi juga tempat hunian. Stasiun jadi tidak tertata. Nyuci disitu, mandi disitu, bahkan jemur baju juga disitu. Untuk itu, kami berusaha melakukan penataan, tentunya tetap sesuai dengan ketentuan yang ada," ujar Mateta.

Reporter : Nawang Fatma Putri
Redaktur : Hafidz Muftisany
Barang siapa yang memerhatikan kepentingan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kepentingannya. Dan barangsiapa yang menutupi kejelekan orang lain maka Allah akan menutupi kejelekannya di hari kiamat. ((HR Bukhari-Muslim))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar