Minggu, 2 Safar 1439 / 22 Oktober 2017
find us on : 
  Login |  Register
Kamis , 22 Juni 2017, 12:15 WIB

Tradisi Idul Fitri pada Era Dinasti Islam

Red: Agung Sasongko
bbc.co.uk
Kota Baghdad pada masa Abbasiyah berbentuk bundar.
Kota Baghdad pada masa Abbasiyah berbentuk bundar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Berbagai aktivitas menyambut Idul Fitri, seperti pengumpulan zakat fitrah, shalat Id, takbir, serta silaturahim dan saling berbagi makanan pada Hari Raya Idul Fitri tetap berlanjut pada masa dinasti-dinasti Islam. Bahkan, para sultan menggelar jamuan khusus bagi para menteri dan tetamu utusan yang datang.

Robin S Doak dalam “Life During the Islamic Empire” menjelaskan, pada masa Dinasti Abbasiyah (750-1258 M), jalan-jalan di Baghdad diramaikan dengan aksi panggung para musikus andal dan pembacaan syair atau puisi saat Idul Fitri. Istana juga menggelar perjamuan makan selama tiga hari dengan porsi yang banyak.

Pada era sebelumnya, semasa Dinasti Umayah berkuasa (661-750 M), Idul Fitri disambut antara lain dengan merapikan tatanan taman dan masjid. Seperti taman-taman dan masjid di Damaskus yang ditata dan diperbaiki penerangannya.

Menurut Ege Yayinlari dalam “Discover Islamic Art in the Mediterranean”, para sultan Dinasti Mamluk (1250-1517 M) di  Mesir memiliki cara tersendiri menyambut Idul Fitri. Mereka membagikan pakaian, hadiah, dan uang kepada masyarakat saat perayaan Idul Fitri. Di India, para sultan Dinasti Mughal (1525-1858 M) merayakan Idul Fitri dengan arak-arakan bersama  para pengawal kerajaan.

Penyambutan yang meriah juga dilakukan oleh para penguasa Dinasti Ottoman (1700-1922 M). Menurut Mehrdad Kia dalam bukunya yang berjudul Daily Life in the Ottoman Empire, sebelum shalat Id, sultan, pejabat negara, dan para bangsawan mendistribusikan makanan bagi warga miskin. Sultan juga mengundang para pejabat untuk jamuan makan hari raya.

Para warga biasanya menyiapkan aneka makanan yang siap dibagikan kepada tetangga atau dhuafa. Bazar menjelang Syawal juga digelar di halaman masjid utama. Aneka dagangan dijajakan di situ, mulai dari daging, buah, sayuran, pakaian, lilin, hingga mainan.

Penghimpunan zakat berlangsung satu atau dua hari sebelum Seker Bayrami, begitu orang Turki menyebut Idul Fitri. Para bangsawan lebih banyak memilih membayar zakat fitrah dengan uang dibanding dengan makanan pokok atau kurma.

Malam terakhir Ramadhan memasuki 1 Syawal, meriam ditembakkan dari istana sultan. Inilah yang disebut Ramazan Bayrami atau Seker Bayrami. Lampu-lampu di menara-menara dinyalakan terang-benderang. Alat musik perkusi dan trompet dimainkan di area-area publik dan rumah-rumah pejabat pemerintah.

Orang tua biasanya membelikan baju baru untuk anak-anak mereka dan saling berkunjung ke teman dan sanak kerabat. Seker, manisan, hidangan favorit anak-anak selama Idul Fitri. Tradisi ini merupakan adaptasi dari sunah Rasulullah yang mengonsumsi kurma sebelum berangkat  shalat Id.

Tak lupa, mereka juga berziarah ke pemakaman. Pasar bunga dadakan marak menjual buku doa, bunga, dan air yang digunakan untuk menyirami tanaman di makam.

Sebagian warga memilih menghabiskan sisa hari Idul Fitri dengan bersantai dan melihat pertunjukkan marching band militer  kerajaan. Pertunjukan teater siluet Hacivat dan Karagoz  juga jadi hiburan masyarakat.

Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya ketika saling berjumpa di hari Ied mereka mengucapkan: Taqabbalallahu Minna Wa Minka (Semoga Allah menerima amal ibadah saya dan amal ibadah Anda)(HR Imam Ahmad dalam Al Mughni (3/294))