Friday, 27 Rabiul Awwal 1439 / 15 December 2017
find us on : 
  Login |  Register
Rabu , 21 June 2017, 23:07 WIB

10 Hari Terakhir, Tradisi Jaburan Justru Semakin Kuat

Rep: Amri Amrullah/Berbagai Sumber/ Red: Agung Sasongko
Hadiyanta.com
Tradisi jaburan di Jawa Tengah.
Tradisi jaburan di Jawa Tengah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Saum (puasa) pada siang hari dan qiyam (mendirikan ibadah) pada malam hari merupakan dua hal yang berkaitan dan tak terpisahkan. Puasa dan qiyam dijalankan tanpa dipilih atau dibeda-bedakan.

Keduanya ditekankan dalam lafal hadis yang kalimatnya serupa pula. Hadis puasa menyebutkan, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan perhitungan, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari Muslim). Sementara, hadis qiyam mengatakan, “Barangsiapa mendirikan malam Ramadhan karena iman dan perhitungan, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari Muslim).

Namun, pada kenyataannya, umat Islam kadang fokus pada puasa saja, sedangkan qiyam dipandang sebelah mata. Seperti contoh, banyak masyarakat yang menyelenggarakan hidangan takjil (berbuka) untuk mereka yang berpuasa. Tapi, adakah yang menyelenggarakan hidangan makanan untuk mereka yang qiyam pada malam hari?

Berpijak dari pemikiran inilah, sebuah tradisi Jaburan muncul di adat-istiadat Jawa. Jaburan adalah jamuan makan malam bagi jamaah setelah selesai shalat Tarawih. Jamuan makan malam ini diberikan bagi mereka yang ingin melanjutkan ibadah selepas Tarawih dengan shalat sunah dan tilawah. Mereka juga diberikan jamuan layaknya berpuasa pada siang hari.

Tradisi ini menyiratkan makna, orang yang puasa dan qiyam harus dimuliakan dengan diberikan hidangan makan. Takjil untuk orang yang puasa dan jaburan untuk orang yang qiyam. Keduanya penghormatan dalam bentuk hidangan makanan.

Tradisi Jaburan ada di masyarakat Jawa sejak beberapa puluh tahun lalu. Walau tradisi ini tidak lagi populer di tanah Jawa, beberapa tempat masih terus eksis mempertahankan tradisi ini.

Beberapa tempat di Kota Semarang, seperti di Kelurahan Bulu Lor Kecamatan Semarang Utara, Salatiga, Surakarta, hingga Yogyakarta, masih mempertahankan tradisi ini. Tapi, tentu saja kian lama jumlahnya berkurang.

Seiring dengan perputaran zaman, sikap individualistis masyarakat kian tumbuh. Rasa kebersamaan sesama warga pun pudar. Shalat Tarawih hanya pada awal Ramadhan. Setelah itu, warga lebih asyik di rumahnya menyimak sinetron dan acara televisi. Apalagi, Ramadhan tahun ini bertepatan pula dengan Piala Dunia.

Jika kembali menilik satu-dua dekade lalu, tradisi jaburan mengakar di masyarakat. Minimnya sarana hiburan, seperti televisi dan internet menjadikan ibadah Tarawih sebagai hiburan. Warga berbondong-bondong ke masjid dan langgar untuk menunaikan shalat Isya dan Tarawih. Di antaranya, diselingi ceramah agama. Selepas Tarawih, warga menggelar jaburan. Jadi, mereka yang ingin bertadarus dan menghidupkan malam Ramadhan diberikan makan agar mempunyai stamina untuk begadang.

Selain untuk bekal bagi para pendiri malam Ramadhan, jaburan juga sebagai motivasi bagi anak-anak. Para orang tua yang ingin bertarawih ke Masjid tidak ketinggalan mengajak anak-anaknya. Hal ini untuk menanamkan kecintaan kepada Masjid sedari dini dan mengenalkan nilai agama. Ketika shalat Tarawih digelar, jaburan diberikan kepada anak-anak agar mereka tidak berisik atau mengganggu pelaksanaan shalat Tarawih. Di beberapa tempat, jaburan berfungsi sebagai hadiah bagi anak-anak yang mengikuti shalat Tarawih sampai selesai tanpa berisik atau mengganggu.

Jaburan digelar di serambi masjid. Biasanya, panitia membentangkan plastik sebagai alas. Setelah itu, makanan disediakan dalam talam (wadah/piring besar) sebagai tempat makanan. Warga kemudian makan bersama dalam satu wadah. Satu talam, berjumlah empat hingga enam orang. Tak ketinggalan, ustaz bersama dengan imam akan makan bersama dengan jamaah. Sesekali, waktu jaburan diisi dengan tanya jawab seputar agama antara jamaah dan ustaz.

Penyedia atau donatur jaburan digilir kepada setiap warga. Warga dibagi beberapa kelompok yang bertugas mengantarkan hidangan jaburan ke masjid. Biasanya, masing-masing kelompok terdiri atas lima sampai 10 orang warga. Menjelang shalat Isya dilaksanakan, serambi masjid dipenuhi dengan hidangan makanan yang dibawa jamaah wanita yang bertugas.

Setelah shalat Tarawih digelar, biasanya dilaksanakan pembacaan doa dan shalawatan. Warga pun satu sama lain bersalam-salaman sambil mempersilakan menuju serambi masjid. Biasanya, anak-anak terlebih dahulu memadati lokasi jaburan. Mereka sudah duduk berbaris rapi menunggu giliran makanan.

Pada 10 hari terakhir Ramadhan (selikuran), tradisi jaburan justru semakin kuat. Ada di antara warga yang beriktikaf di masjid. Maka, tidak hanya jaburan yang digelar. Tetapi, hidangan berbuka puasa dan sahur pun memenuhi serambi masjid.

Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api(HR. Tirmidzi)