Sunday, 2 Safar 1439 / 22 October 2017
find us on : 
  Login |  Register
Sabtu , 10 June 2017, 21:38 WIB

Tradisi Dhangdangan di Kudus, Seperti Apa?

Rep: Ahmad Islamy Jamil/ Red: Agung Sasongko
Republika/Agung Supriyanto
Masjid Menara Kudus
Masjid Menara Kudus

<!--[if gte mso 9]><xml><w:WordDocument>MicrosoftInternetExplorer402DocumentNotSpecified7.8 磅Normal0</xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--StartFragment--><!--EndFragment-->

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebelum hadirnya stasiun televisi dan radio, masyarakat di Tanah Air hanya mendengarkan pengumuman, justru memperoleh informasi tentang awal Ramadhan dari para ulama ataupun organisasi-organisasi yang dianggap memiliki otoritas tentang masalah agama. Bahkan, di beberapa daerah, pengumuman tentang awal Ramadhan juga disampaikan lewat berbagai tradisi yang digelar secara turun-temurun.
 
Seperti yang dilakukan masyarakat Kudus, Jawa Tengah, misalnya. Setiap tahun masyarakat Islam di sana menggelar satu kegiatan khusus sebagai media untuk mengumumkan awal masuknya Ramadhan kepada khalayak. Tradisi tersebut populer dengan nama dhandhangan.
 
Menurut cerita lisan yang berkembang di masyarakat setempat, kegiatan dhandhangan pertama kali dicetuskan oleh Sunan Kudus. Tradisi itu bermula ketika Sunan Kudus mengumumkan kepada khalayak mengenai kapan dimulainya hari pertama puasa Ramadhan. Pengumuman itu diawali dengan pemukulan bedug yang berbunyi "dhang-dhang-dhang" di kompleks Masjid al-Aqsha (Masjid Menara Kudus).
 
"Konon, bunyi bedug itulah yang memunculkan nama dhandangan sehingga kebiasaan itu pun kemudian dikenal dengan nama tradisi dhandangan," kata sarjana ilmu budaya dari Universitas Diponegoro Semarang Jawa Tengah, Akhlis Fuadi, dalam penelitiannya berjudul "Upacara Buka Luwur Makam Sunan Kudus di Kabupaten Kudus".

Seiring dengan perkembangan zaman, kata dia, tradisi dhandangan kini tak lagi sekadar untuk mendengarkan pengumuman awal Ramadhan dari pengurus Masjid Menara Kudus. Namun, juga diramaikan dengan pedagang yang menawarkan berbagai kebutuhan pokok, aneka mainan, pakaian, dan makanan di sepanjang Jalan Sunan Kudus.
 
Para pedagang itu bahkan, sudah bersiap-siap menjajakan barangnya sekitar tiga pekan sebelum Ramadhan tiba. Menurut Akhlis, tradisi dhandhangan sekarang cenderung sekadar menjadi ajang bisnis dan promosi yang kering akan nilai-nilai budaya yang sebelumnya sangat kental dianut oleh masyarakat Kudus.
 

Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api(HR. Tirmidzi)