Senin, 3 Safar 1439 / 23 Oktober 2017
find us on : 
  Login |  Register
Sabtu , 10 Juni 2017, 09:39 WIB

Semarak Ramadhan di Malaysia

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Indira Rezkisari
AP
Masyarakat berbuka puasa di kawasan Merdeka Square, Kuala Lumpur, Malaysia.
Masyarakat berbuka puasa di kawasan Merdeka Square, Kuala Lumpur, Malaysia.

REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR -- Ramadhan di Malaysia tidak terlalu berbeda dengan Indonesia. Karena bertetangga, tradisi yang ada pun masih mirip-mirip.

Dilansir Saudi Gazette, hari pertama Ramadhan adalah hari libur nasional di Melaka, Johor dan Kedah, mirip seperti di Indonesia. Sebagian besar kantor memberi izin cuti dan tidak banyak aktivitas di jalanan.

Mereka mempersiapkan Ramadhan di rumah. Salah satu tradisi Malaysia setiap bulan suci adalah membuat dan membagi-bagikan bubur lambuk, bubur nasi yang dibuat dengan potongan daging, santan, rempah dan lainnya.

Bubur lambuk yang paling populer dan paling banyak dicari adalah bubur lambuk versi Masjid Kampung Baru. Setiap harinya, masjid membuat 20 tong besar bubur sejak pukul 08.00 hingga 16.00.

Setelah itu, orang-orang tampak mengular mengantri untuk mendapat bubur. Bubur lambuk Kampung Baru ini disebut-sebut jadi yang terbaik di Malaysia. Ia dibuat dengan resep tradisional yang sudah turun temurun.

Selain tradisi bubur lambuk, mirip seperti di Indonesia ada pasar makanan yang marak menjelang berbuka. Bazar makanan ini menyebar di setiap sudut kota, mulai dari yang kecil hingga yang akbar.

Beragam macam makanan tumpah ruah dengan masing-masing aroma yang mengugah. Bazar Ramadhan juga tidak jarang menjual barang-barang keperluan Hari Raya.

Atmosfer perayaan begitu kental di Malaysia. Sebagian besar mal pusat perbelanjaan, khususnya di Kuala Lumpur dan Selangor akan berhias dan mendekor setiap sudut tempat dengan tema Ramadhan.

Pusat belanja untuk Idul Fitri biasanya ramai di Jalan Tuanku Abdul Rahman dan Jalan Masjid India di Kuala Lumpur. Para pembeli dan penjual ramai dari sejak pagi hingga malam.

Lagu-lagu Ramadhan lokal pun terus mengalun di hampir semua tempat. Dari radio hingga mal perbelanjaan. Saat malam datang, masjid ramai oleh jamaah yang shalat malam. Setelah tarawih, orang-orang berkumpul untuk bersilaturahim. Mereka duduk dan makan bersama.

Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya ketika saling berjumpa di hari Ied mereka mengucapkan: Taqabbalallahu Minna Wa Minka (Semoga Allah menerima amal ibadah saya dan amal ibadah Anda)(HR Imam Ahmad dalam Al Mughni (3/294))