Kamis, 25 Zulqaidah 1438 / 17 Agustus 2017
find us on : 
  Login |  Register
Senin , 29 Mei 2017, 07:30 WIB
Puasa dan Sains

Cara Tubuh Menjaga Cairan Selama Puasa

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Ilham
wikipedia
Tubuh membutuhkan cairan agar tidak dehidrasi
Tubuh membutuhkan cairan agar tidak dehidrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tubuh manusia memiliki cara sendiri untuk mempertahankan keseimbangan metabolisme. Saat berpuasa, tubuh bisa menyesuaikan dirinya agar tidak oleng.

Salah satu yang cukup membuat tubuh rentan oleng ini adalah keseimbangan cairan. Sebuah laporan tentang Nutrisi, intake- output energi, olahraga, dan homeostasis cairan selama berpuasa di bulan Ramadan menerangkan tentang ini.

Laporan yang ada dalam Journal of Medical Nutrition & Nutraceuticals itu menyebut sebenarnya puasa tidak cukup mempengaruhi keseimbangan tubuh jika asupan mencukupi. Pasalnya, puasa tidak membatasi makan dan minum pada malam hari, sehingga ada momen tubuh mempersiapkan 'bekal'.

Cara mengetahui status cairan tubuh ada beragam. Dalam skala laboratorium, status hidrasi seseorang bisa diperiksa dari konsentrasi sodium dalam tubuh, kadar urea nitrogen dalam darah, nilai hematrosit, dan osmolalitas atau kekentalan urine.

Cara lainnya bisa ditambah dengan pengukuran massa tubuh, pengukuran asupan dan keluaran, uji organ vital seperti detak jantung hingga tingkat pernafasan. Cara subjektif atau konvensional bisa dengan rasa haus, kekenyalan kulit, hingga kelembaban membran mukosa.

Namun demikian, penilaian dengan osmolalitas urine dinilai jadi cara yang paling sensitif untuk menentukan status hidrasi seseorang. Saat kondisi normal total kadar air tubuh pada orang dewasa relatif konstan.

Tubuh menerima asupan cairan dan menggunakannya sesuai kebutuhan. Saat berlebih, tubuh membuangnya melalui urine. Semakin banyak cairan yang tidak diperlukan, urine jadi lebih encer atau osmolalitasnya rendah.

Pengecekan urine pada orang yang berpuasa menunjukkan tubuh secara efektif mengkonservasi cairan tetap di dalam tubuh. Ini terlihat dari kadar natrium, kalium dan jumlah ekskresi zat terlarut dalam urine yang lebih rendah.

Osmolalitas urin, atau kekentalan urin pun lebih tinggi selama bulan Ramadhan. Ini menunjukkan tubuh berusaha mempertahankan jumlah air dan zat terlarut di dalam tubuh tetap mendekati jumlah normal.

Sejumlah peneliti menilai cara mempertahankan cairan ini adalah atas perintah dari otak. Otak telah diprogram dengan niat untuk berpuasa sehingga ia mengirim sinyal pada seluruh anggota tubuh untuk menyukseskan niat berpuasa ini.
 
Laporan jurnal yang ditulis oleh Mohammed A Jaleel, Farah N Fathima, Bushra N.F. Jaleel ini menyebut pentingnya niat ketika berpuasa di bulan Ramadhan. "Studi ilmiah menyebut niat menjadi mekanisme psiko-fisiologi," katanya.


Berita Terkait

 

Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya ketika saling berjumpa di hari Ied mereka mengucapkan: Taqabbalallahu Minna Wa Minka (Semoga Allah menerima amal ibadah saya dan amal ibadah Anda)(HR Imam Ahmad dalam Al Mughni (3/294))