Friday, 27 Rabiul Awwal 1439 / 15 December 2017
find us on : 
  Login |  Register
Jumat , 02 June 2017, 13:31 WIB

Shalat Tarawih Nabi Muhammad SAW

Red: Agung Sasongko
wikipedia
Rasulullah
Rasulullah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jumlah rakaat shalat tarawih selalu jadi bahan pembahasan di setiap bulan Ramadhan. Hal ini karena sebagian ulama memiliki pandangan yang berbeda.

Praktiknya di masyarakat pun tidak semua seragam. Namun hal ini dinilai tidak perlu mengurangi esensi beribadah shalat malam di bulan Ramadhan.

Jika melihat kembali pada riwayatnya, shalat tarawih pada zaman Nabi Muhammad SAW dikerjakan sebanyak delapan rakaat. Kadang dilakukan dalam dua salam atau empat salam.

Kemudian dilanjutkan dengan shalat witir sebanyak tiga rakaat. Kadang dengan sekali tasyahud dan sekali salam pada rakaat ketiga. Begitu pula kadang dikerjakan dengan lima kali salam tarawih dan satu rakaat witir.

Dalam sebuah hadits riwayat Aisyah RA, dikatakan bahwa: "Rasulullah tidak menambah (melebihkan) bilangan shalat malam di dalam bulan Ramadhan yang satu dengan yang lainnya, kecuali sebelas rakaat. Beliau mengerjakan shalat empat rakaat. Maka jangan lah engkau tanyakan tentang bagus dan panjangnya shalat itu. Lalu beliau kerjakan empat rakaat lagi, maka janganlah engkau tanyakan tentang bagus dan panjangnya shalat itu. Setelah itu, beliau kerjakan tiga rakaat. Lalu aku bertanya: "Ya Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum engkau witir?". Nabi Muhammad SAW menjawab: "Ya, Aisyah, sesungguhnya dua mataku tertidur tetapi hatiku tidak tidur," (HR. Bukhari dan Muslim).

Selama shalat itu, Nabi Muhammad SAW lama berdirinya, lama rukunya, dan lama sujudnya. Menurut Aisyah, ada satu kali sujud lamanya sama dengan orang membaca lima puluh ayat Alquran. Sebelum itu beliau tidak akan angkat kepala.

Kemudian, Hudzafah RA mengatakan: "(Pada suatu malam) saya shalat bersama Nabi Muhammad SAW. Setelah selesai membaca Alfatihah, beliau membaca surat Albaqarah. Saya mengira beliau akan ruku pada ayat keseratus, tiba-tiba diteruskan bacaannya. Saya pun mengira mungkin akan ruku bila telah selesai Albaqarah. Tapi tiba-tiba mulai membaca surat an-Nisa hingga habis dan lanjut Al Imran. Itupun dibaca dengan tartil satu per satu. Tiap ada ayat tasbih, berhenti utuk membaca Subhanallah. Lalu tiap ada ayat, dosa, berhenti juga untuk berdoa. Juga tiap ada ayat yang menyebut bahaya, berhenti memohon perlindungan. Kemudian barulah ruku dan membaca Subhaana rabbiyal adhiem. Dan ruku hampir sama dengan berdirinya,".

Kemudian beliau membaca: Sami'allaahu liman hamidah rabbana lakal hamdu. Lalu berdiri i'tidak yang lamanya hampir sama dengan rukuknya. Barulah sujud dan membaca subhaana rabbiyal a'la, yang lamanya hampir sama dengan berdirinya. (HR Muslim).

Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya ketika saling berjumpa di hari Ied mereka mengucapkan: Taqabbalallahu Minna Wa Minka (Semoga Allah menerima amal ibadah saya dan amal ibadah Anda)(HR Imam Ahmad dalam Al Mughni (3/294))