Beginilah Rasanya Berlebaran Menjelang Peringatan 11 September

Kamis, 09 September 2010 18:24 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON--Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini sekitar 10 ribu Muslim yang biasa membanjiri wilayah Silver Spring, Maryland, yang menjadi pusat komunitas Muslim di Amerika Serikat (AS) tidak dapat merayakan Idul Fitri dengan penuh kemeriahan. Acara ibadah seperti shalat Id memang tetap akan berlangsung, tetapi kali ini tidak akan diikuti dengan pesta makanan dan pentas seni sebagai wujud suka cita meraih kemenangan atas hawa nafsu yang mereka perangi selama sebulan penuh berpuasa.

Perayaan Idul Fitri di AS kali ini nyaris bertepatan dengan peringatan serangan 11 September terhadap menara kembar WTC di New York atau tragedi 9/11 sembilan tahun silam. Lebaran kali ini, banyak masjid di AS akan lebih mengadakan kegiatan yang ditujukan untuk memperingati korban serangan 11 September yang juga memakan banyak korban warga Muslim AS.

"Tidak ada perayaan, tidak ada festival. Orang tidak berani melakukan hajatan pada 11 September karena bertepatan dengan tragedi itu dan kami cukup sensitif dengan hal itu," kata Rashid Makhdoom, salah satu direktur dari pusat komunitas Muslim tersebut seperti dikutip The Washington Post, Senin (6/9). Setidaknya, Muslim AS sedikit lega karena banyak organisasi Muslim termasuk Komunitas Islam Amerika Utara (ISNA) dan Dewan Fikih Amerika Utara (FCNA) yang menyatakan bahwa Lebaran di AS akan jatuh pada 10 September, sehari sebelum peringatan 9/11.

Kini banyak organisasi Muslim AS yang memakai metode perhitungan hisab sehingga jauh-jauh hari sudah bisa membuat pengumuman yang melegakan itu. Pada Kamis (9/9) sore, seluruh daratan AS dari pantai Timur hingga pantai Pasifik dipastikan bisa melihat hilal, kecuali beberapa negara bagian yang terletak di bagian utara negeri itu.

Namun, tetap saja Lebaran yang berdekatan dengan hari peringatan 9/11 membuat Muslim di AS tidak tenang. Apalagi, di tengah pro kontra masyarakat AS mengenai pembangunan Islamic Center dekat lokasi bekas gedung WTC (Ground Zero). Hal itu telah memicu sikap anti-Islam yang menargetkan masjid sebagai sasaran aksi kekerasan mereka.

Di New York, seorang sopir taksi asal Bangladesh menjadi korban kekerasan fisik oleh penumpangnya setelah ketahuan bahwa dia Muslim. Baru-baru ini, sebuah proyek pembangunan masjid di Murfreesboro, Tennessee, dibakar oleh orang tak dikenal. Bahkan, Gereja Dove World Outreach Center di Gainesville, Florida, berencana melakukan aksi pembakaran Alquran tepat di hari peringatan 11 September.

Untuk mencegah terjadinya kesalahpahaman, Dewan Koordinator Organisasi Muslim di wilayah Washington Raya (CCMO) telah meminta 147 organisasi anggotanya untuk menghindari perayaan Idul Fitri pada 11 September. Di Fresno, California, Muslim setempat akan mengubah perayaan Le baran menjadi Hari Keluarga Muslim.

Di Washington DC yang dihuni sekitar 250 ribu Muslim, beberapa kelompok Muslim juga tidak akan merayakan Idul Fitri. Banyak yang memindahkan atau mengurangi aktivitas di hari itu. Salah satunya, All Dulles Area Muslim Society (ADAMS), salah satu komunitas Muslim terbesar AS yang setiap tahunmenggelar perayaan Idul Fitri yang dihadiri 15-20 ribu orang di lima lokasi.

ADAMS biasa memanfaatkan fasilitas ibadah agama lain, seperti sinagog, gereja, serta hotel dan tempat olahraga sebagai tempat perayaan Idul Fitri. "Kami sangat menganjurkan warga untuk tidak merayakan pesta pada 11 September," kata Rizwan Jaka, direktur ADAMS.

Para pemimpin Muslim juga mengupayakan memberikan penjelasan kepada mitra non-Muslim dan tetangga bahwa Idul Fitri kali ini hanya kebetulan bertepatan jatuh dekat 11 September. Mereka khawatir perayaan Idul Fitri dapat disalahartikan oleh pihak yang tidak memahami ajaran Islam.
"Ada sejumlah orang yang sengaja memberikan gagasan untuk merayakan Idul Fitri bertepatan dengan peristiwa 11 September, karena ini sangat cocok dengan kebencian yang sudah mereka agen dakan," kata Ibrahim Hooper, juru bicara Dewan Hubungan Islam-AS (CAIR).

Muslim AS sudah mengupayakan untuk mencari jalan keluar guna menyelesaikan masalah ini. "Di satu sisi tragedi 11 September menjadi hari paling sulit bagi umat Muslim AS. Di sisi lain, Idul Fitri adalah hari Natal bagi kami, hari perayaan. Kami mengalami perasaan manis bercampur pahit dan kesulitan untuk mencari jalan keluar dengan memperingati tragedi dalam waktu yang sama," kata Zeba Iqbal, direktur eksekutif Dewan Pemajuan Profesional Muslim (CAMP), kelompok yang mendorong keterlibatan Muslim AS pada peringatan tragedi 9/11.

Namun, ada juga yang tak terpengaruh. Menurut Tariq Najiullah, imam Masjid Muhammad di salah satu distrik Muslim Afrika Amerika tertua di Washington DC, bagi komunitas Muslim yang sudah tinggal lama di Amerika tak merasa itu masalah besar. Mereka akan tetap menggelar pentas musik, sajak puisi, pertandingan bola basket dan sepak bola pada 10 September. "Sejarah kami sangat kuat di sini. Selama 75 tahun kami telah menjadi tiang dari komunitas di sini. Saya tidak yakin komunitas di sini akan memiliki pemahaman yang salah soal keberadaan kami di sini," katanya.

BAZNAS Menyempurnakan Zakat Anda

Redaktur: irf
Reporter: Hiru


2230 reads

ahmad, Jumat, 17 September 2010, 18:37

Untuk umat Islam di Amerika Serikat Selamat Idul Fitri, semoga selalu diberikan kekuatan iman dan Islam untuk menghadapi berbagai tekanan dan teror. Insya Allah, Allah akan menunjukkan siapa yang benar dan siapa yang salah.

Balas
TENANG SEMUA, Selasa, 14 September 2010, 05:25

hehehe.... banyak suara masuk ke dalam telinga kita...apalagi di jaman globalisasi internet... ada yang seharusnya tidak kita dengarkan tetapi terpaksa masuk deh ke dalam telinga hehe...
ketika telinga dipaksa mendengarkan suara yang menyakitkan, biasanya ada dua pilihan, marah2 dan kedua penasaran.,,ya gitu deh hehe,,

Balas
ergie rahman, Minggu, 12 September 2010, 04:46

Hidayah menjadi muslim adalah hak Alloh SWT baik di Timur dan Barat. Insya Alloh muslim di barat akan semakin berkembang dan maju.

Balas
gondezh, Sabtu, 11 September 2010, 04:55

mm...yg plg penting dsni adlh merenungkan..knpa kok sikap sprti itu bsa muncul. ga bsa dipungkiri,itu krena kesan buruk yg membekas bgitu dalam bgi msyrkt AS. jangan tutup mata & pura2 ga tau apa yg terjadi.
jadi, skrg mulailah mnjadi Islam yg meninggalkan ksan baik bg smua org..trmasuk di Indonesia ini.

salam.

Balas
er, Sabtu, 11 September 2010, 04:53

ga mungkin islam tumbuh berkembang di amerika dan eropa. di asia aja muslim ga disukai.

Balas
Isi Komentar





atau login dengan Mahaka ID Anda