Friday, 28 Ramadhan 1438 / 23 June 2017
find us on : 
  Login |  Register
Senin , 19 June 2017, 20:51 WIB

Raih Lailatul Qadar tak Usah Pusingkan Tanda

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Agus Yulianto
DOK MER-C Cabang Gaza
Warga Palestina melaksanakan shalat Qiyamul Lail di Masjid Al-Umari Al-Kabir, Jalur Gaza, Palestina. Menjelang 10 akhir Ramadhan, kaum Muslimin di Gaza kian semangat memburu Lailatul Qadar (Ilustrasi)
Warga Palestina melaksanakan shalat Qiyamul Lail di Masjid Al-Umari Al-Kabir, Jalur Gaza, Palestina. Menjelang 10 akhir Ramadhan, kaum Muslimin di Gaza kian semangat memburu Lailatul Qadar (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Umat Islam diajak fokus beribadah pada 10 malam terakhir Ramadhan bila hendak mengejar Lailatul Qadar dan usah memusingkan tanda-tanda terjadinya lailatul qadar.

Dalam Kajian Dzuhur 24 Ramadhan di Masjid Hubbul Wathan pada Senin (19/6), Ustaz Subhan Abdullah Acim menjelaskan, kitab Faathul Bari menjelaskan tanda-tanda lailatul. Tapi, tandanya beragam.

Pernah Rasulullah diberi tahu tanda lailatul qadar yakni saat di wajah para sahabatnya ada bekas lumpur setelah sujud bersama. Semula Rasulullah tidak terbayang seperti apa. Namun saat shalat malam, turun hujan dan wajah mereka sujud di atas lantai masjid yang basah karena hujan. Esoknya, Rasulullah mendapati dahi para sahabat ada bekas lumpur.

''Tanda lailatul qadar Allah berikan kepada beberapa hamba. Tidak usah mempmusingkan tanda, tapi ibadah sebaik-baiknya agar menemukan keutamaan lailatul qadar,'' ungkap Ustaz Subhan.

Ustaz Subhan mengajak jamaah untuk fokus pada tiga malam ganjil terakhir di Ramadhan ini dan memilih kegiatan yang lebih penting. Itikaf harusnya fokus bertransaksi dengan Allah. Tapi kadang, manusia malah masih sibuk mengurusi bisnis. ''Fokus dengan Allah. Di luar itu sudahlah, ada waktu lain,'' ucap Ustaz Subhan.

Mulai itikaf dilakukan sebelum matahari tenggelam atau sebelum maghrib hingga esoknya di waktu yang sama. Tapi Imam Syafii membolehkan bila itikaf tidak semalam penuh. Yang penting, niatkan itikaf ketika masuk masjid, sempatkan beribadah dulu walau sedikit, dan jangan segera keluar.

Kedekatan seorang hamba dengan Allah di lailatul qadae merupakan kesempatam langka, sama seperi wukuf yang merupakan waktu terbaik dalam ibadah haji. Waktu wukuf pun hanya sejak tergelincir matahari hingga fajar. Saat itu Allah membuka langit dan menyebut-nyebut dan membanggakan mereka yang wukuf di langit.

''Malam lailatul qadar, malaikat turun ke bumi untuk memohonkan ampunan dosa hamba-hamba yang bermunajat. Jangan lalai dan hati kosong, nanti malah tidak dapat apa-apa,'' ucap Ustaz Subhan.

Anggaplah 10 malam terakhir Ramadhan seperti lomba marathon yang hadiahnya mobil Merci atau rumah mewah. Kalau fokus, peserta lomba akan mati-matian berusaha karena sudah punya tekad.

Pun lailatul qadar. Bila sadar Ramadhan sudah akan usai, seseorang harusnya fokus memohon kepada Allah, sehingga insya Allah ia bisa mendapat lailatul qadar. ''Kata ulama, kedudukan manusia bisa diperoleh dengan lomba. Tapi kemuliaan di akhirat adalah mereka yang membenarkan perintah Allah dan takwa,'' kata Ustaz Subhan.

Di 10 malam terakhir Ramadhan, Rasulullah membangunkan keluarga dan tidak mendekati istrinya. Berbeda dengan saat ini dimana banyak bapak-bapak berat mengajak istri dan anaknya itikaf. Padahal jangan sampai hanya is sendiri yang menikmati bermunajat pada Allah.

Dengan doa yang diajarkan Rasulullah saat seseorang menghadapi lailatul qadar, itu menggambarkan lailatul qadar adalah kenikmatan bermunajat. Ustaz Subhan mengajak umat Islam mengisi malam-malam akhir Ramadhan dengan amal shalih sebab semua itu bingkai yang mengangkat munajat kepada Allah SWT.

''Tidak ada yang paling indah di akhirat nanti selain maafnya Allah. Maka dari itu kalau kita dapatkan pahala di malam lailatul qadar agar kita punya bekal untuk pulang kepada Allah,'' kata Ustaz Subhan.

Allah menjanjikan balasan terbaik dan menambahan kebaikan bagi mereka yang beramal shalih plus kenikmatan memandangi Allah seperti memandangi purnama di surga. Maka, Ustaz Subhan mengajak umat Islam untuk berdoa sejak siang, lalu mulai itikaf dengan shalat maghrib dan isya baru diakhiri shalat subuh.

Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya ketika saling berjumpa di hari Ied mereka mengucapkan: Taqabbalallahu Minna Wa Minka (Semoga Allah menerima amal ibadah saya dan amal ibadah Anda)(HR Imam Ahmad dalam Al Mughni (3/294))