Kamis, 10 Sya'ban 1439 / 26 April 2018

Kamis, 10 Sya'ban 1439 / 26 April 2018

Lebih Serius di Akhir Ramadhan

Jumat 16 Juni 2017 09:41 WIB

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Agus Yulianto

Guru besar Universitas Al Azhar Mesir Syekh Muhammad Nasr Addusuqi Al- Abbani tengah memberikan tausyiah tadi siang di Masjid Hubbul Wathan, NTB , Ahad (11/6).

Guru besar Universitas Al Azhar Mesir Syekh Muhammad Nasr Addusuqi Al- Abbani tengah memberikan tausyiah tadi siang di Masjid Hubbul Wathan, NTB , Ahad (11/6).

Foto: Republika/Irwan Kelana

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Memasuki sepertiga akhir Ramadhan, umat Islam diajak makin serius beribadah dan mencari lailatul qadar. Terlebih, lailatul qadar berisi ampunan dan penghapusan catatan dosa. Dalam Kajian Dzuhur 20 Ramadhan di Masjid Hubbul Wathan Islamic Center pada Kamis (15/6), Syekh Muhammad Nasr Ad-Dusuqi Alabban menjelaskan, Ramadhan sudah masuk ke 10 malam terakhirnya.

Saat 10 malam akhir Ramadhan, dari riwayat Aisyah RA, Rasulullah mengencangkan ikat sarung, membangunkan semua keluarga, dan menghidupkan malam-malam akhir Ramadhan. ''Dalam hadis di atas, Rasulullah nampak meningkatkan kesungguhan ibadah.  Rasulullah bahkan menjauhi sementara istrinya. Bukan karena haram, tapi karena ada yang lebih penting,'' ungkap Syekh Nasr.

Rasulullah juga sangat serius ibadah di 10 malam akhir Ramadhan padahal Rasulullah sudah dibebaskan dari segala dosa. ''Logikanya, Rasulullah tidak perlu berlelah-lelah ibadah. Itu karena Rasulullah punya tanggung jawab terhadap keluarga dan umatnya agar mereka mengikuti beliau dalam kesungguhan ibadah,'' ucap Syekh Nasr.

Hal itu juga agar umat Islam meraih pahala yang Allah berikan pahala tanpa batas. Allah memberi pahala jauh lebih banyak saat 10 malam terakhir Ramadhan, terutama pada lailatul qadar. Rasul ingin umatnya mendapatkan itu.

Rasulullah sengaja membangunkan keluarganya untuk menghidupkan malam-malam akhir Ramadhan karena rasa tanggung jawab kepada keluarganya. Allah mengharuskan para lelaki terus muhasabah dan memotivasi keluarganya untuk menjaga shalat. Dalam Alquran surat Thaha ayat 132, para lelaki disuruh mengajak keluarganya untuk shalat dan bersabar. Kami tidak minta rezeki dari kalian, tapi kami yang beri kalian.

Sebagian besar riwayat menyatakan tidak benar Rasulullah menghidupkan seluruh malam Ramadhan, tapi ada waktu istirahat. Rasulullah jadi contoh agar umat Islam bersungguh-sungguh dan bisa mendapatkan pahala besar, terlebih saat lailatul qadar yang pahalanya lebih utama dari seribu bulan.

Bahkan dalam Alquran adalah surat Al-Qadr yang berarti malam itu istimewa. Surat itu disebut demikian karena menjelaskan keutamaan lailatul qadar dan ajarkan Muslim tentang amalan utama pada lailatul qada.

Lailatul qadar disebut demikian karena pada saat itu Allah memberi pengabulan semua permintaan hamba. Malam itu disebut al qadar karena diambil dari kata at-takdir dimana Allah menentukan takdir dalam setahun, bahkan nama-nama jamaah yang akan berhaji ke Baitullah.

''Tidak kita temukan kepastian malam berapa lailatul qadar terjadi. Itu agar kaum Muslim makin bersemangat menjelang akhir Ramadhan, bukan sebaliknya,'' kata Syekh Nasr.

Dalam sejumlah riwayat hadis disebutkan lailatul qadar ada pada 10 malam akhir Ramadhan. Ada yang juga yang menyebut lailatul qadar di malam ganjil pada 10 akhir Ramadhan. Ada juga hadis spesifik dimana disebut lailatul qadar pada malam 27 Ramadhan.

''Tapi apakah maknanya Muslim hanya serius pada malam itu? Tidak. Rasulullah mencontohkan serius beribadah sejak awal Ramadhan, lalu ditingkatkan di tengah Ramadhan, dan amat sangat serius pada 10 malam akhir Ramadhan,'' tutur Syekh Nasr.

Menghidupkan malam dan siang hari Ramadhan tidak hanya dengan berpuasa dan tarawih saja, bisa dengan memperbanyak baca Alquran, memperbanyak sedekah, bersilaturahim, termasuk berkata baik. Aisyah RA pernah bertanya doa utama saat lailatul qadar, Rasulullah mencontohkan doa yakni allahumma innaka affuwwun tuhibbu fa'fu'anna.

Rasulullah sengaja memilih kata maaf, bukan maghfirah sebab keduanya punya perbedaan makna. Makna maghfirah adalah Allah mengampuni dosa dan membebaskan dari siksa. Sementara affuwwun bermakna tidak menyiksa dan menghapuskan catatan dosa. Itu karunia Allah kepada orang yang bertaubat dengan banyak beramal shalih. Allah mengganti kejelekan mereka dengan kebaikan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA