Thursday, 9 Ramadhan 1439 / 24 May 2018

Thursday, 9 Ramadhan 1439 / 24 May 2018

 

Tiga Pesan Moral PP Muhammadiyah Menyambut Ramadhan

Senin 14 May 2018 15:59 WIB

Rep: Neni Ridarineni/ Red: Agung Sasongko

Jumpa pers Jelang Ramadhan di Aula Kantor PP Muhammadiyah, Senin (14/5). Hadir sebagai nara sumber:Haedar Nashir (Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah),

Jumpa pers Jelang Ramadhan di Aula Kantor PP Muhammadiyah, Senin (14/5). Hadir sebagai nara sumber:Haedar Nashir (Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah),

Foto: Republika/Neni Ridarineni
Muhammadiyah ingin menjadikan puasa momentum untuk transformasi rohani.

REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA --  Memasuki menyambut bulan yang berdasarkan hasil hisab yang dilakukan Majelis tarjih dan Tajdid telah menetapkan bahwa 1

Ramadhan 1439 H jatuh Kamis (17/5) dan Idul Fitri hari Jumat (15/6), serta Idul Adha jatuh hari Rabu (22/8), Ketua Umum PP (Pimpinan Pusat) Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan tiga hal yang menjadi pesan moral PP Muhammadiyah:

Pertama, Jadikan puasa momentum bagi warga dan elit bangsa agar membangun karakter yang uswah hasanah bersuri taulad yang baik, sekaligus menampilkan jiwa ihsan.

"Yang selama sebulan berpuasa nantilahirlah perilaku yang takwa , yang mengedepankan serba kebaikan utama dalam kehidupan pribadi, keluarga masyarakat bangsa dan negara. Juga, sekaligus menghindari hal yang buruk yang membuat bangsa ini dilanda oleh permusuhan kedengkian dan hal-hak buruk yang tidak menguntungkan masa depan bangsa, kata Haedar dalam jumpa pers di ruang pertemuan PP Muhammadiyah Yogyakarta, Senin (14/5).

photo

Infografis

Kedua, Muhammadiyah ingin menjadikan puasa momentum untuk transformasi rohani, sekaligus bisa menjadi kekuatan penyeimbang sikap dalam menghadapi tahun politik, tentu akan terjadi susana panas, saling berebut kepentingan.

Karena itu memasuki tahun politik Muhammadiyah berpesan agar perbedaan pilihan pollitik harus tetap mengedepankann nilai-nilai etika, toleransi, sikap bijak dan

kebersamaan, serta tidak menjadikan antar komponen bangsa terbelah.

Perbedaan pilihan politik harus dilakukan secara dewasa, sikap tengahan dalam berpartisipasi dan terlibat dalam konstelasi politik, dan tidak terjebak pada ekstrimisme dan radikalisme dalam berpolitik.

Sekali politik ekstrim dan radikal buahnya terjadi konflik keras sesama kontestan maupun warga bangsa,ungkap Haedar.

(Baca: Tangkal Ujaran Kebencian Selama Ramadhan)

Ketiga, sikap Muhamamdiyah tegas dan keras yakni mengecam keras mengutuk keras, tindakan teroris, terorisme dan anarkisme, serta kekerasan yang terjadi di Surabaya termasuk di Sidoarjo. Bahkan pagi tadi (red. Senin,14/5), juga terjadi di Mapolres Surabaya. Tindakan bom bunuh diri yang memakan korban sampai 21 orang itu merupakan tindakan yang orang muhammadyah menyebut sebagai tindakan kezaliman dan fasad fil ardl (red. pengursakan di muka bumi) yang tidak

dibenarkan olehj agama, hukum, dan moralitas publik. Sehingga tindakan itu termasuk tindakan yang biadab, apapaun motif , siapapun pelaku dan apapun tujuan dan motifnya.

Karena itu Ramadhan hendaknya dijadikan intropeksi diri, menciptakan

suasana yang jenih dan tenang, jangan terpecah belah menimbulkan asumsi negatif. Jangan sampai karena terjadi di gereja lalu memunculkan seakan-akan terjadi perbedaan agama.

"Muhamamdiyah mengharapkan tidak ada asumsi-asumsi ke arah yang seperti itu," kata Haedar.

Selanjutnya Ketua PP Muhammadiyah Bidang Tarjih dan Tajdid Yunahar Ilyas menambahkan, jadikan puasa dan ibadah Ramadhan sebagai proses perubahan perilaku menuju perilaku ihsan atau kebajikan utama yang membentuk keshalehan individual dalam ranah pribadi dan keshalehan sosial dalam kehidupan kolektif.

"Jadikan insan muslim yang selalu mengedepankan segala yang maruf (baik) dan terhindar dari segala yang munkar(buruk) dalam segala bentuknya menuju kebahagiaan hakiki d dunia dan akherat kelak," kata dia.

Yunahar Ilyas mengatakan agar para tokoh dan elite bangsa hendaknya

memberikan teladan kenegarawan yang mengutamakan kepentingan umat dan

bangsa di atas kepentingan diri dan golongan. Di samping itu

kedepankan sikap tulus dan pengkidmatan tinggi dalam membimbing rakyat agar menjadi warga negara yang hidup rukun, damai, toleran, sabar dan saling mencintai dalam persaudaraan, kemajemukan menuju hidup yang berkemajuan dan berkeadaban utama.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES