Monday, 3 Safar 1439 / 23 October 2017
find us on : 
  Login |  Register
Senin , 12 June 2017, 14:42 WIB

Alquran Hadiah Paling Besar Bagi Umat Islam

Rep: Muhammad Nursyamsy/ Red: Agus Yulianto
Republika/Prayogi
 Gubernur NTB TGH Muhammad Zainul Majdi memberikan ceramah sebelum shalat tarawih di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (8/6).
Gubernur NTB TGH Muhammad Zainul Majdi memberikan ceramah sebelum shalat tarawih di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (8/6).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: TGH Muhammad Zainul Majdi, Guberrnur NTB

Bagaimana memaknakan bulan suci ramadhan. Kalau kita bicara ramadhan, tentu hadiah yang paling besar bagi kita yang diberikan pada bulan ramadhan itu adalah Alquran.

Allah SWT berfirman: Syahru ramadaana alladzii unzila fiihi alqur-aanu hudan lilnnaasi wabayyinaatin mina alhudaa waalfurqaani faman syahida minkumu alsysyahra falyashumhu waman kaana mariidhan aw 'alaa safarin fa'iddatun min ayyaamin ukhara yuriidu allaahu bikumu alyusra walaa yuriidu bikumu al'usra walitukmiluu al'iddata walitukabbiruu allaaha 'alaa maa hadaakum wala'allakum tasykuruuna. (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 185).

"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur."

Alquran ini sesungguhnya tanpa kita perlu bahas lebih dalam lagi ke dalam ayat-ayatnya secara detail, cukup dari kita mengkaji nama-namanya saja itu mengajarkan kita bahwa tradisi menulis dan membaca itu adalah bagian paling penting di dalam membangun peradaban.

Kalau kita baca tulisan para ulama misalnya imam Az Zarkasy mengatakan ada 55 nama Alquran, imam Fairuzabadi mengatakan bahkan ada 93 nama Alquran, nah dari sekian banyak nama Alquran itu, para ulama menyebut bahwa ada lima nama yang memang namanya bukan sifatnya. Pertama Alquran, kedua Al kitab, ketiga Al Furqan, keempat Adz Dzikr, dan kelima At Tanzil.

Jadi lima nama ini tidak sekadar sifat tetapi juga langsung merupakan nama dari kitab suci kita. Dari lima ini kalau kita cermati, paling tidak ada dua yang lansgung terkait dengan tradisi intelektual yang namanya menulis dan membaca. Pertama Alquran. Kata Alquran itu adalah nama yag dimaknakan Quran maknanya yang dibaca, dari nama sendiri sudah jelas bahwa kitab ini mengajak kita semua untuk banyak-banyak membacanya dan membaca segala ilmu yang terinspirasikan oleh Alquran.

Nama yang kedua adalah Alkitab.Alkitab itu juga sama seperti Alquran. Kalau Alquran artinya yang dibaca, maka Alkitab itu artinya yang ditulis atau yang tertulis. Jadi dari nama Alquran sendiri sudah tergambar bagaimana Allah SWT sudah mengarahkan akal pikiran kita, potensi kita menuju kepada potensi yang maksimal melalui wasilah menulis dan membaca karena kitab suci kitas sendiri dinamakan kitab suci namanya yang tertulis dan yang terbaca, serta yang ditulis dan yang dibaca, baru kemudian ada  ketiga nama, At Tanzil yang diturunkan, Adz Dzikr bisa berarti peringatan atau kemuliaan, dan Al Furqan itu fungsi utama memberikan penjelas dan pembeda yang hak dan batil.

Dari kelima nama Alquran itu dua diantaranya bersinggungan langsung dengan proses intelektualitas, proeses kemanusiaan kita, proses pembudayan kita, itulah menulis dan membaca. Dengan demikian, kita bisa lihat secara simbolik Allah SWT dengan penamaan kitab sucinya ini mendorong kita sejauh-jauhnya, memotivasi kita setinggi-tingginya untuk terus menerus menulis dan membaca, jadi proses literasi umat itu diinisiasi atau dimulai bukan dari zaman Rasuluullah SAW sebagai rasul terakhir tetapi lebih dari itu juga adalah dorongan perintah langsung dari Allah SWT sehingga tidak ada alasan umat Islam itu malas menulis atau membaca.

 

Wahai para pedagang, sesungguhnya setan dan dosa keduanya hadir dalam jual-beli. Maka hiasilah jual-beli kalian dengan sedekah(HR. Tirmidzi)