Sabtu, 28 Rabiul Awwal 1439 / 16 Desember 2017
find us on : 
  Login |  Register
Kamis , 29 Juni 2017, 13:50 WIB

Masyarakat Adat Gelar Lebaran Adat di Masjid Kuno Bayan

Rep: MUHAMMAD NURSYAMSYI/ Red: Ilham Tirta
Tahta Aidilla/Republika
 Beduk terpasang didalam Masjid Bayan Beleq,Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Ahad (28\5).
Beduk terpasang didalam Masjid Bayan Beleq,Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Ahad (28\5).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masyarakat adat di Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar lebaran adat pada Kamis (29/6), atau tiga hari dari hari raya Idul Fitri yang jatuh pada Ahad (25/6). Masyarakat adat Wetu Telu memang dikenal masih sangat menjaga nilai luhur adatnya yang terjaga hingga kini.

Pusat kegiatanan masyarakat adat Wetu Telu bertempat di Masjid Kuno Bayan Beleq atau sekitar 98 KM dari Kota Mataram, Ibu Kota Provinsi NTB. Pantauan Republika.co.id, malam hari menjelang prosesi lebaran adat, warga berduyun-duyun mendatangi rumah pemangku masyarakat adat untuk menyerahkan zakat sedekah urip dan sedekah pati berupa hasil bumi, beras, sayur mayur, dan juga buah-buahan.

Sedekah tersebut dibawa para lelaki mengenakan pakaian adat berupa kain tenun dan sapuq (ikat kepala) dengan membawa jojor (penerangan tradisional dari karet) ke Masjid Kuno Bayan untuk diserahkan kepada kyai adat yang nantinya didistribusikan kepada warga kurang mampu. Pemangku adat Raden Gedarip mengatakan, prosesi penyaluran sedekah dan lebaran adat merupakan ungkapan rasa syukur dan juga sebagai ajang silahturahim antar komunitas adat di Bayan dan dari wilayah lain di pulau Lombok.

Prosesi lebaran adat dimulai pada Kamis (29/6), pagi, di Masjid Kuno Bayan Beleq dengan diikuti 44 orang yang terdiri atas empat kyai kagungan dan 40 orang kyai santri. Empat orang kyai kagungan itu meliputi kyai penghulu yang bertindak sebagai imam dalam shalat, kyai ketib yang bertindak sebagai khotib, kyai lebei yang bertindak sebagai bilal pengumandang adzan, dan kyai modin yang bertindak sebagai marbot dan bertanggung jawab terhadap kebersihan masjid.

"Pelaksanaan lebaran adat merupakan tradisi yang sudah berlangsung lama. Sedekah ini diberikan ke kiai, nanti pak kiai yang beri ke masyarakat kurang mampu," ujar Gedarip di Bayan, Kamis (29/6).

Di tengah gempuran globalisasi, masyarakat adat Bayan masih teguh menjaga tradisinya. Gedarip menyampaikan, banyak juga masyarakat Bayan yang merantau ke luar daerah, namun selalu berusaha kembali saat upacara-upacara adat dilakukan.

Masjid Kuno Bayan merupakan pusat dari sejumlah desa adat seperti Desa Bayan, Desa Senaru, Desa Loloan, Desa Segenter, dan Desa Karang Bajo. Tak hanya sebagai tempat ritual ibadah, Masjid Kuno Bayan kini juga menjadi destinasi wisata budaya yang tidak pernah sepi dari pengunjung.

Dengan luas areal kompleks masjid sekitar 1 hektare yang terdiri atas sebuah bangunan masjid terbuat dari bahan kayu dan bambu, luasnya 10 x 10 meter dengan berlantai tanah dan dua kompleks makam besar menawarkan pengalaman berbeda untuk mengenal budaya khas Bayan. Di dalam masjid terdapat sebuah bedug besar sepanjang 1,5 meter dengan diamater sekitar 80 cm yang tergantung tepat di tengah masjid.

Gedarip menjelaskan, banyak persepsi yang salah terkait tradisi Wetu Telu yang banyak diartikan pelaksanaan shalat hanya tiga kali dalam sehari. "Itu tidak benar, kalau shalat itu ya lima kali, kalau tidak seperti itu berarti bukan Islam," kata Gedarip.

Gedarip menerangkan, Wetu Telu bukan berarti tiga waktu, melainkan Wetu memiliki arti kemunculan, dan Telu adalah tiga. Dari sisi kehidupan, masyarakat adat Wetu Telu diharuskan menjaga keselarasan dan keseimbangan hidup antar mahluk yang diciptakan Allah melalui tiga jalan, yakni Memanak (beranak), Menteluk (bertelur), dan Mentiu (bertumbuh).

Ketiganya harus selaras dan seimbang. Makna filosofinya adalah manusia tidak boleh mengeksploitasi alam secara berlebihan karena akan merusak tumbuhan dan juga habitat hewan. Masyarakat adat Bayan sangat menjaga alam di sekitarnya. Sejumlah peraturan adat memberikan sanksi yang tegas dengan denda yang tidak sedikit bagi mereka yang kedapatan merusak alam. "Kalau yang menebang pohon harus kembali memanamnya sampai kembali seperti semula," ungkap Gedarip.

Dari sisi tatanan sosial, masyarakat adat ini mempunyai tiga unsur kepemimpinan, yakni pengusungan (dari unsur pemerintah seperti Kades), pemangku (dari unsur adat istiadat), dan penghulu (dari unsur Keagamaan). Ketiganya memiliki tanggungjawab sosial terhadap masyarakatnya.

Gedarip meyakini awal mula masuknya Islam di Lombok berasal dari Bayan yang pada zaman dahulu dibawa oleh Wali Songo pada abad ke-17. "Beberapa peninggalan sebagai bukti sejarah masih terjaga dengan baik seperti bedug yang ada di dalam masjid kuno," kata Gedarip menambahkan. 

Berita Terkait

 

Sedekah akan memadamkan api siksaan di dalam kubur(HR. Thabrani)