
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Tradisi mudik memang unik. Secara turun-temurun, tradisi ini dilakukan oleh sebagian besar masyarakat kita. Uniknya, tradisi ini hanya terjadi di Indonesia. Mereka berbondong-bondong ke kampung halaman, tempat orang tua dan sanak saudara. Tak peduli lelah dan macet. Dengan bawaan yang cukup banyak, para pemudik menyempatkan diri untuk mengunjungi saudara guna berkumpul dan memohon maaf.
Dai kondang, KH Zainuddin MZ pun menuturkan bahwa mudik sebagai sarana penyempurna ibadah. "Mudik itu sebagai sarana penyempurna ibadah, merekatkan kembali jalinan silaturrahim yang mungkin sempat terputus," ungkap dia, Selasa (7/9) sore.
Berpijak dari sebuah penyempurna ibadah, lebih lanjut Zainuddin menegaskan bahwa manusia kerap berbuat salah dan dosa selain kepada Allah, juga tentu kepada manusia. Dalam mudik tersebut, jalinan silaturrahim kembali terajut. Namun, Zainuddin menambahkan, mudik itu tidak wajib. Mudik adalah salah satu sarana perekat hubungan sesama manusia.
"Intinya, jangan memaksakan. Apalagi menggunakan motor, bawaan banyak. Nanti justru membahayakan," ungkapnya. Zainuddin pun mengutip sebuah hadits yang dianggapnya berkorelasi dengan tradisi mudik. Dari hadits tersebut, Zainuddin memaparkan bahwasannya, menjaga hubungan baik dengan Allah Swt, juga harus sejalan dengan menjaga hubungan baik kepada sesama manusia.
Semoga pak Zainuddin bisa mengeluarkan fatwa mengharamkan Aida bagi Muslim manapun. Amin.
Balashttp://prophetmuhammadillustrated.com/dai-sejuta-cabul.html