Kamis 08 Apr 2021 11:04 WIB

Proyeksi IMF Turun, Pemerintah Optimistis Tumbuh 5,3 Persen

IMF merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,3 persen pada tahun ini

Rep: Novita Intan/ Red: Friska Yolandha
Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,3 persen pada tahun ini. Angka tersebut menurun dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 4,8 persen.
Foto: Prayogi/Republika
Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,3 persen pada tahun ini. Angka tersebut menurun dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 4,8 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,3 persen pada tahun ini. Angka tersebut menurun dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 4,8 persen.

Meski IMF menurunkan proyeksi, pemerintah memperkirakan produk domestik bruto (PDB) berkisar 4,5 persen sampai 5,3 persen. Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir mengatakan, keyakinan tersebut tecermin dari beberapa indikator yang ada.

Baca Juga

“Purchasing managers index (PMI) naik 53,2 pada Maret dibandingkan Februari 50,9. Neraca perdagangan Februari kembali surplus dengan ekspor membaik,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (8/4).

Bukan hanya itu, Iskandar mencatat jumlah uang yang beredar di masyarakat juga meningkat. Menurutnya, konsumsi masyarakat semakin membaik, khususnya kalangan kelas menengah.

“Kelompok yang menyumbang 82 persen dari konsumsi rumah tangga itu tumbuh seiring realisasi vaksinasi Covid-19 yang terus digenjot,” ucapnya.

Dari sisi lain, pemerintah yakin investasi akan meningkat. Adapun faktor pemicunya adalah Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan terbentuknya Indonesia Investment Authority (INA).

"Untuk menjaga pertumbuhan angka 4,5 persen hingga 5,3 persen, belanja sosial tetap dijaga. Bantuan untuk kelompok masyarakat di bawah 40 persen juga rutin diberikan," ujarnya.

Baca juga : Jelang Puasa, Kementan Pastikan Harga Cabai Segera Stabil

Ke depan, Iskandar optimistis ekonomi akan tumbuh seiring diberlakukannya kebijakan-kebijakan untuk mengerek konsumsi. Hal ini terbukti stimulus pembebasan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) kendaraan dan pajak pertambahan nilai (PPN) properti ternyata efektif meningkatkan permintaan dan berdampak pada membaiknya industri manufaktur.

“Insentif UMKM untuk produksi dan khususnya menjelang Ramadhan dan Lebaran akan meningkatkan belanja pada triwulan dua 2021. Insentif hotel, restoran, dan kafe akan meningkatkan industri hotel, restoran, dan kafe pada semester II 2021,” katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement