Selasa 08 Sep 2020 13:40 WIB

Disdik Papua: Pandemi Covid-19 Persulit Entaskan Buta Aksara

Pemberantasan buta aksara dinilai sulit sekali jika dilakukan secara daring.

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Yudha Manggala P Putra
Ilustrasi.
Foto: Antara/Kornelis Kaha
Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Papua terus menggencarkan program pengentasan buta aksara di seluruh wilayah. Namun tahun ini, program tersebut terhambat oleh pandemi Covid-19.

Kepala Disdik Papua Christian Sohilait mengatakan dinasnya bersama pemkab dan pemkot di bawah Pemprov Papua menjalankan program pengentasan buta aksara. Program itu dianggap perlu terus digencarkan karena masih tingginya angka buta aksara di Papua.

Buta aksara di Papua tak kenal usia karena yang tua dan yang muda masih mengalaminya. Daerah yang lebih terisolir seperti Kabupaten Nduga dan Puncak cenderung lebih banyak mengalami buta aksara ketimbang kota Jayapura atau Merauke.

"Semua kabupaten kita dorong untuk jalan, Covid-19 sedikit mengganggu program pemberantasan buta aksara, tapi semua Kabupaten punya program prioritas untuk itu," kata Christian pada Republika.co.id, Selasa (8/9).

Christian menjelaskan tantangan baru pengentasan buta aksara saat ini ialah pandemi Covid-19. Penyakit yang menular lewat droplet itu mencegah orang dalam jumlah banyak berkumpul. Apalagi jika mereka berkumpul tanpa mengikiti protokol kesehatan.

"Semua kan tidak bisa tatap muka, pemberantasan buta aksara harus tatap muka. Jadi semua program itu tidak bisa berjalan maksimal," ujar Christian.

Christian memandang pemberantasan buta aksara sulit sekali jika dilakukan secara daring guna mengurangi kerumunan massa. Pihak pemerintah pusat juga belum memberi masukan tentang model pembelajarannya secara daring.

"Saya belum dapat model (pembelajaran), tapi kalau ada modelnya di daerah mungkin bisa kami gunakan. Tapi ada yang buta huruf terus disuruh (pembelajaran) online kayaknya sulit," ucap Christian.

Dari data Disdik Papua hingga Maret 2019, jumlah buta aksara terdata  mencapai sekitar 850 ribu orang. Mereka tersebar di seluruh Kabupaten/Kota di Provinsi Papua. Usia mereka berada dalam rentang 15 sampai 59 tahun.

Sementara itu, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut ada enam daerah yang angka buta aksaranya masih tinggi. Persentase penduduk buta aksara di Papua masih tertinggi dengan angka mencapai 21,9 persen. Disusul Nusa Tenggara Barat 7,46 persen, Nusa Tenggara Timur 4,24 persen, Sulawesi Selatan 4,22 persen, Sulawesi Barat 3,98 persen, dan Kalimantan Barat 3,81 persen. Data buta aksara ini berdasarkan usia 15-59 tahun.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement