Rabu 12 Aug 2020 12:01 WIB

Menilik Rudal Hipersonik AS, 17 Kali Lebih Cepat dari Suara

AS tidak mau kalah dari Rusia dan China dalam mengembangkan rudal hipersonik

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih
AS tidak mau kalah dari Rusia dan China dalam mengembangkan rudal hipersonik. Ilustrasi.
Foto: Reuters/Missile Defense Agency
AS tidak mau kalah dari Rusia dan China dalam mengembangkan rudal hipersonik. Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Amerika Serikat (AS) tidak mau kalah dari Rusia dan China dalam mengembangkan rudal hipersonik. Pemerintahan Presiden Donald Trump membuat rudal yang diklaim mampu melaju 17 kali kecepatan suara.

Trump telah memuji rudal yang dikembangkan oleh Pentagon setidaknya dalam tiga kesempatan terpisah. Dia menyebutnya sebagai rudal super duper yang mampu melakukan perjalanan 17 kali lebih cepat daripada apa pun yang saat ini ada di gudang rudal AS.

Baca Juga

"Kami memiliki, saya menyebutnya 'rudal super-duper'. Dan saya dengar malam itu, 17 kali lebih cepat dari yang mereka miliki sekarang," kata Trump pada Mei.

Seorang pejabat senior Kementerian Pertahanan mengatakan kepada CNN bahwa Trump telah menaruh minat khusus pada rudal tersebut. Angka yang sering dikutip Trump "17 kali" lebih cepat berasal dari tes badan luncur hipersonik di atas Pasifik pada Maret. Tes tersebut diakui Pentagon secara resmi berhasil.

"Apa yang dia maksud, sungguh, adalah tes penerbangan baru-baru ini yang kami lakukan pada Maret di mana kami terbang 17 kali kecepatan suara," kata pejabat senior tersebut.

Rudal hipersonik secara tradisional didefinisikan sebagai rudal yang bergerak setidaknya lima kali kecepatan suara atau lebih dari 3.800 mil per jam. Rudal jenis baru ini bisa bermanuver dan mampu beroperasi di berbagai ketinggian.

Mengingat kecepatan dan kemampuan yang luar biasa untuk bermanuver di atmosfer, rudal hipersonik dipandang sangat sulit untuk dipertahankan dari penggunaan sistem pertahanan rudal konvensional. Rudal konvensional dirancang untuk melawan dan mencegat ancaman rudal balistik tradisional, yang lintasannya jauh lebih dapat diprediksi daripada hipersonik.

"Mencoba untuk bertahan dari hipersonik, ketidakpastian dalam lintasan, menjadi sangat sulit untuk dihadapi dan pertahanan menjadi sangat sulit karena Anda menggabungkan kecepatan yang sangat tinggi dengan ketidakpastian dalam lintasan penerbangan," kata seorang pejabat senior pertahanan AS.

Rudal hipersonik akan melakukan perjalanan hingga sepuluh kali lebih cepat daripada rudal Tomahawk yang saat ini ada di gudang militer AS. Pejabat senior pertahanan mengatakan uji coba rudal jelajah akan dilakukan akhir tahun ini.

Program senjata hipersonik AS difokuskan pada dua jenis rudal yaitu sistem luncur pendorong yang berasal dari rudal balistik tradisional dan rudal jelajah hipersonik. Sistem pendorong yang diuji pada Maret, menempatkan kendaraan luncur yang dapat bermanuver di atas rudal balistik, memberikan kemampuan manuver yang jauh lebih baik pada kecepatan hipersonik.

Senjata tersebut dipandang memiliki jangkauan yang luar biasa dengan 1.000 mil atau lebih. Namun, tipe ini lebih mahal dan lebih besar dari varian rudal jelajah.

Jenis rudal hipersonik lain yang sedang dikerjakan AS adalah rudal jelajah hipersonik dan jauh lebih seperti rudal jelajah tradisional seperti rudal Tomahawk. Tomahawk merupakan senjata yang telah lama digunakan oleh militer untuk menyerang target musuh.

Pejabat Kementerian Pertahan mengatakan kedua senjata itu dapat bekerja bersama satu sama lain. Penggunaan rudal luncur pendorong jarak yang lebih jauh menghancurkan sistem pertahanan udara musuh memungkinkan pesawat tempur AS yang dipersenjatai dengan rudal jelajah hipersonik terbang lebih dekat dan menyerang lebih banyak target musuh.

Salah satu perbedaan utama antara senjata AS yang direncanakan dan dengan jenis milik China dan Rusia adalah bahwa rudal AS tidak dirancang untuk memiliki kemampuan nuklir. Militer AS masih beberapa tahun lagi untuk meluncurkan senjata hipersonik  dengan target awal 2023. Target ini dinilai cukup lama karena Rusia dan China mengklaim telah memiliki senjata semacam itu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement