Kamis 16 Apr 2020 17:37 WIB

Jeritan Pedagang Pinggir Jalan, Bisa Makan Aja Alhamdulillah

Pedagang makanan pinggir jalan tidak tahu sampai kapan bisa bertahan.

Rep: Puti Almas/ Red: Indira Rezkisari
Pedagang pinggir jalan merasakan imbas pandemi Covid-19. Aturan PSBB yang berlaku membuat pedagang pinggir jalan merosot omzetnya.
Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Pedagang pinggir jalan merasakan imbas pandemi Covid-19. Aturan PSBB yang berlaku membuat pedagang pinggir jalan merosot omzetnya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Gerobak bertuliskan es cendol yang berada di pinggir jalan raya itu terlihat siap menyajikan kesegaran bagi orang-orang di tengah cuaca terik pada Kamis (16/4) siang. Di sana, terlihat seorang bapak paruh baya yang membungkus minuman tersebut.

“Alhamdulillah masih ada yang beli buat dibungkus, sudah sebulan sepi, sekarang juga nggak boleh duduk-duduk minum di sini,” ujar Samingan, penjual es cendol di wilayah Duren Sawit, Jakarta Timur kepada Republika.co.id, Kamis (16/4).

Baca Juga

Samingan yang menjual es cendol seharga Rp 6.000 per porsi mengatakan dalam satu bulan terakhir, pendapatan yang dimilikinya berkurang drastis. Tidak ada yang berbeda setiap harinya, termasuk pada akhir pekan, momen pelanggan biasanya berdatangan.

“Biasanya satu hari itu bisa Rp 300.000 setidaknya dapat dari jualan, tapi sekarang Rp 100.000 saja udah syukur,” jelas Samingan.

Pria yang akrab disapa Pakde Mingan ini juga mengatakan salah satu sumber pendapatan terbesar adalah pesanan es cendol untuk acara atau hajat tertentu. Namun, tak ada acara keramaian apapun yang dapat diselenggarakan di tengah pandemi virus corona jenis baru (Covid-19), sebagai bagian dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang merupakan instruksi pemerintah untuk mengendalikan penyebaran wabah.

“Tadinya ada pesanan buat acara pesta tanggal 4 April kemarin. Tapi dibatalin nggak jadi karena musim ini,” ungkap Samingan.

Samingan mengatakan para penjual makanan pinggir jalan seperti dirinya tengah berjuang untuk mencari cara agar tetap dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Setidaknya, menurut pria berusia 59 tahun ini kebutuhan pokok seperti makan bagi dirinya dan keluarga masih tercukupi.

“Banyak yang pusing buat bayar kontrakan rumah juga, padahal sekarang bisa makan aja Alhamdulillah. Saya berharap sih pas puasa sudah mendingan, biasanya juga pas puasa pada beli buat buka,” jelas Samingan.

Samingan berharap agar pandemi Covid-19 segera berakhir dan kondisi di Indonesia terus membaik agar dirinya dan banyak orang lain dapat menjalani hari-hari dengan normal. Ia meyakini bahwa dengan upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan banyak orang saat ini untuk tetap berada di rumah masing-masing mengikuti instruksi pihak berwenang tidak akan sia-sia.

“Semoga semua membaik habis Lebaran, musim ini juga berlalu,” kata Samingan.

Tidak hanya Samingan, penjual makanan di pinggir jalan lainnya seperti Katman juga mengungkapkan hal serupa. Ia yang menjual mi ayam dengan gerobak di Klender, Jakarta Timur, itu mengatakan tidak banyak orang yang bisa menikmati sajian yang dijual olehnya sejak makan di tempat tidak boleh disediakan.

“Sekarang nggak boleh lagi ada bangku-bangku buat yang mau makan langsung di sini. Dalam sebulan ini juga memang sudah berkurang banget yang datang,” ujar Katman.

Menurut Katman, mi ayam yang dijual olehnya selalu ramai didatangi orang-orang setiap pagi. Bahkan, pada Sabtu dan Ahad atau akhir pekan, terutama di pagi hari banyak yang rela mengantre untuk menikmati santapan tersebut.

“Biasanya dari pagi sudah banyak yang datang, terus jam 12-an juga habis mi ayam ini. Sekarang yang mau bungkus buat dibawa pulang juga nggak banyak, jarang yang keluar,” jelas Katman.

Katman menuturkan biasanya pendapatan yang didapatkan dari berjualan mi ayam per hari, terutama saat akhir pekan bisa mencapai Rp 2,5 juta, sementara pada Senin hingga Jumat Rp 1,2 juta. Namun, saat ini, setiap harinya pendapatan yang ia raih adalah setidaknya Rp 800.000.

“Paling sekarang sih Rp 800.000 lah dapatnya, paling kadang saja bisa sampai Rp 900.000. Nggak tahu bagaimana deh kalau bulan puasa,” ungkap Katman.

Biasanya, saat bulan Ramadhan, pendapatan dari penjualan mi ayam tidaklah besar. Karena itu, di tengah kondisi saat ini, di mana penjualan tidak sebanyak biasanya, membuat Katman berpikir keras.

Biasanya, saat bulan puasa tiba, Katman memilih untuk pulang ke kampung halamannya di Yogyakarta. Namun, karena kondisi saat ini,  ia juga sangat membutuhkan pendapatan. Kemungkinan Katman tetap akan berjualan.

“Paling jadinya tetap jualan pas bulan puasa, jualan seperti sekarang buat dibungkus dibawa pulang,” kata Katman.

Di saat negara harus memberlakukan PSBB untuk sementara waktu demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19, dampak perekonomian bagi warga kelas menengah ke bawah akan sangat besar. Hal itu karena biasanya, pendapatan yang mereka miliki tergantung dengan pemasukan sehari-hari.

Warga dari kelas menengah ke bawah yang bekerja di sektor informal seperti pedagang kecil sangat rentan dan terdampak dengan kondisi Indonesia saat ini. Karena itu, jutaan orang di Tanah Air bisa terancam menjadi pengangguran, terlebih tak mudah untuk berganti profesi dengan cepat, atau mengharapkan lowongan suatu pekerjaan dibuka untuk orang-orang dari sektor ini.

Di Indonesia, tercatat ada 5.516 kasus Covid-19 hingga Kamis (16/4). Dari jumlah tersebut, 496 orang meninggal dunia, sementara 548 dinyatakan sembuh.

PSBB telah ditetapkan oleh pemerintah pusat di ibu Kota Jakarta, dan lima wilayah di Provinsi Jawa Barat, yatu Kota dan Kabupaten Bogor, Kota dan Kabupaten Bekasi, dan Kota Depok. Sementara, tiga wilayah di Provinsi Banten, yakni Kabupaten Tangerang dan Tangerang Selatan akan memberlakukan PSBB pada 18 April mendatang.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement