Sabtu, 28 Safar 1436 / 20 Desember 2014
find us on : 
  Login |  Register
Home > >

Georgia dan Amerika Kembangkan Laboratorium Biologi

Jumat, 18 Maret 2011, 21:53 WIB
Komentar : 0

REPUBLIKA.CO.ID,TBILISI--Georgia dan Amerika Serikat akan memulai kerja sama senilai 100 juta dolar Amerika dalam pengembangan fasilitas penelitian biologi bersama di ibukota Tbilisi, Georgia. Kerja sama itu merupakan bagian dari upaya memerangi penyebaran penyakit dan terorisme biologi secara global, kata Duta Besar Amerika untuk Georgia, John Bass.

Pemerintahan Tbilisi adalah salah satu sekutu terdekat Amerika yang dulu pernah menjadi anggota dari Uni Sovyet, dan Pemerintah Washington pun telah membantu negara di Kaukus Selatan itu untuk memodernisasi ekonomi dan infrastrukturnya sejak pemimpin pro-Barat Mikheil Saakashvili menjadi pemimpin Georgia tahun 2004. Georgia dan tetangganya Armenia dan Azerbaijan telah mengalami penyebaran flu burung dan flu babi beberapa tahun silam, meskipun tidak ada epidemi penyakit di kawasan tersebut.

"Apa yang kita coba lakukan adalah mengisi kesenjangan di dunia agar bisa menyajikan gambaran global yang lebih jelas tentang tren dan cara penyebaran penyakit yang mengancam," kata Bass kepada Reuters. "Kami tidak bermaksud untuk melakukan penelitian rahasia di sini. Ini bukan fasilitas yang didisain untuk mengembangkan senjata biologi atau semacamnya ... untuk menutupi penelitian biologi yang lain," kata dia.

Konstruksi dari laboratorium berteknologi tinggi itu, yang dibiayai oleh Pemerintah Amerika, dimulai pada tahun 2006 di dekat bandar udara internasional Tbilisi. Peneliti dari Georgia dan Amerika akan bekerja bersama meneliti deteksi penyakit menular, penelitian dan pengawasan epidemiologi, kata Bass.Ketika ditanya soal Rusia - yang pernah berperang singkat dengan Georgia pada Agustus 2008 - terkait dengan pemisahan diri Abkhazia dan kawasan Ossetia selatan, Bass berkomentar bahwa mitranya di Georgia telah "transparan dengan Pemerintah Rusia" soal fasilitas laboratorium biologi ini.

Menurut Bass, fasilitas serupa sudah beroperasi di Amerika dan negara-negara Eropa, Kenya, Thailand, dan Mesir.Namun beberapa "penelitian yang sensitif" akan dilakukan di laboratorium yang memenuhi syarat keamanan yang disediakan oleh Pemerintah Georgia, tambahnya. Terkait dengan pertanyaan akankah fasilitas penelitian ini menjadi target serangan teroris, Bass berpendapat "Fasilitas ini akan memiliki standar keamanan yang baik ... Kami pikir hal ini akan mencegah laboratorium menjadi sasaran aksi terorisme."

Redaktur : Krisman Purwoko
Sumber : antara/reuters
Sebaik-baik menjenguk orang sakit adalah berdiri sebentar (tidak berlama-lama) dan ta'ziah (melayat ke rumah duka) cukup sekali saja.((HR. Ad-Dailami))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Upaya Pembunuhan Kim Jong Un, Film Ini Batal Putar
WASHINGTON DC -- Sony Pictures diperkirakan rugi sekitar 100 juta dolar karena batalnya pemutaran film "The Interview" akibat ancaman serangan ke bioskop-bioskop yang...