Peringati Hari Guru, Dompet Dhuafa Gelar Pelatihan Guru Kreatif

Jumat, 26 November 2010, 07:26 WIB
agung sasongko/republika.co.id
Peringati Hari Guru, Dompet Dhuafa Gelar Pelatihan Guru Kreatif
Pelatihan guru kreatif

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Untuk kali ketiga Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa menggelar peringatan hari guru dengan menyelenggarakan pelatihan dan seminar bertajuk Guru Kreatif, Pendidikan berkualitas. Sasaran pelatihan adalah guru-guru honorer se-Jabodetabek."Acara ini merupakan bentuk kepedulian Lembaga pengembangan Insani Dompet Dhuafa terhadap para guru yang harus mendapatkan apresiasi," papar Siska Distiana, PR LPI-DD kepada Republika.co.id di sela acara yang berlangsung di Gedung D, Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta, Kamis (25/11).

Siksa menambahkan guru memerlukan tambahan pengetahuan guna memperkuat kemampuannya dalam mendidik pelajar. Tambahan pengetahuan itu diharapkan mampu memicu kinerja guru agar lebih baik. Acara diawali dengan pelatihan yang diberikan manager Makmal Pendidikan, Lembaga Pengembangan Insani, Dompet Dhuafa, Asep Sapa'at.

Dalam pelatihan itu, Sapa'at mengatakan guru adalah profesi yang menentukan kemunculan profesi lain. "Guru adalah kehidupan. Semua berawal dari guru," kata dia kepada ratusan guru yang hadir. Diakhir pelatihan, Asep meminta guru untuk terus memperbaharui diri guna menyesuaikan dengan kemajuan dan perkembangan zaman. "Peran guru sangat berharga dan ilmu dapat menyelamatkan hidup kita,".

Selanjutnya, dihadirkan perwakilan guru guru dari Aceh, Jogja, Sukabumi dan alumni Sekolah Guru Ekselensia Indonesia (SGEI) yang memaparkan kisah sukses pendampingan di sekolah mereka masing-masing.  Dari Aceh, hadir perwakilan guru dari SDN 08 Langkahan, Siti Waliyati. Pada kesempatan itu, Suliyati memaparkan “PAIKEM di Tengah Hutan”. Saat ini, sekolah di pedalaman Aceh Utara tersebut menjadi sekolah percontohan aplikasi Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, dan Menyenangkan (PAIKEM).

Perwakilan Yogyakarta, guru dari MI Giriloyo, Bantul, Purna Kabiyati memaparkan kurikulum batik. Melalui kurikulum membatik, Purna sukses mengantarkan sekolah korban gempa ini dikukuhkan sebagai Sekolah Berkearifan Lokal di Yogyakarta. Batik karya sekolah ini bahkan telah dipesan sampai Australia.

Selanjutnya materi disampaikan perwakilan Sukabumi, guru SD Jaringau, Ujung Genteng, Sukabumi, Lismawati. GELIPA adalah gerakan yang dicanangkan LPI bersama jejaring ekonomi Dompet Dhuafa, Masyarakat Mandiri (MM). Melalui gerakan ini, masyarakat penghasil gula kelapa di Sukabumi tersebut diajak untuk peduli pada kelangsungan sekolah.

Dengan menyumbangkan lima kilogram gula kelapa yang mereka hasilkan, masyarakat sekitar sekolah membantu sekolah terus hidup. "Masyarakat berekonomi rendah juga bisa berperan dalam kemajuan sekolah. Buktinya, hanya dengan berjualan gula kepala, sekolah kami terus bertahan dan menurunkan angka pendidikan yang rendah di wilayah Sukabumi," kata dia.

Materi terakhir, diberikan perwakilan Bogor, guru SDN Lumbung, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ugan Sugandi. Ugan mengatakan pendidikan mutlak membutuhkan motivasi. "Motivasi dalam mengawali pendidikan menumbuhkan komitmen untuk belajar," katanya. Terakhir, para guru yang hadir dalam acara dipersilahkan untuk mengisi harapan-harapan mereka.

Redaktur: irf
Reporter: Agung Sasongko
Aisyah r.a. berkata, "Nabi bersabda, 'Ka'bah itu akan diperangi oleh tentara. Tetapi, kemudian mereka itu akan ditenggelamkan dalam bumi (yakni di Baida', suatu tempat antara Mekah dan Madinah).(HR Bukhari)
fajar khoerul, Minggu, 8 Januari 2012, 20:23

assalamu'alaikum. kalau di bandung, kira2 kapan akan dilaksanakan?terima kasih.was

Balas
Ira Susilah, Selasa, 4 Januari 2011, 10:40

Solusi Islam Mengurangi Kecacatan
Jumlah anak penyandang cacat di Indonesia diperkirakan mencapai 48.100.548 orang, Hallahan, 1988, mengestimasikan 2,3% atau 962.011 orang penyandang tunagrahita, pada tahun 1984, Annual Report to Congress menyebutkan 1,92% anak usia sekolah menyandang tunagrahita dengan perbandingan la

Balas
arie, Rabu, 22 Desember 2010, 13:37

bikin juga dong seminar di putussibau, kalbar. di tunggu konfirmasinya

Balas
yunardi, Minggu, 19 Desember 2010, 11:55

Untuk melahirkan guru kreatif bukan hanya sekedar seminar. Yang dibutuhkan sekarang adalah praktek dan melihat langsung apa yang terjadi di kelas ketika guru dan murid berinteraksi. Di dalam kelas itulah kita bisa melihat siapa guru kreatif dan bagaimana merobah guru menjadi kreatif. Seminar cenrong beretorika saja.

Balas
Achmad Bashori, Kamis, 2 Desember 2010, 12:51

di Kab. Grobogan Jateng belum pernah ada pelatihan dari Republika, kapan bisa diadakan kami siap membantu...

Balas
Isi Komentar

Nama
Email
silahkan mengisi kode keamanan
Komentar
REPUBLIKA.CO.ID, TEGAL - Di Tegal terdapat ketupat dengan kuah santan yang kental dan terasa pedas di lidah, yang...