Jumat , 22 November 2013, 23:21 WIB

Hadapi Puncak Musim Hujan, Perkuat Kampung Tangguh Bencana

Rep: Yulianingsih/ Red: Djibril Muhammad
Antara
Hujan Deras, Ilustrai
Hujan Deras, Ilustrai

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Berdasarkan data Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), puncak musim hujan tahun ini akan terjadi pada Januari 2014 mendatang. Bahkan beberapa kabupaten di DIY telah menetapkan status darurat cuaca ekstrem di November ini.

Untuk mengantisipasi terjadinya berbagai bencana pada musim hujan ini, Pemkot Yogyakarta terus memperkuat Kampung Tangguh Bencana (KTB).

"Kita akan kaji kalau perlu kita juga akan keluarkan surat keputusan (SK) darurat cuaca juga. Namun Kita terus melihat kecenderungan iklim dan cuaca yang ada. Yang kita siapkan adalan kesiagaan masyarakat melalui Kampung Tangguh Bencana," ujar Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, Jumat (22/11).

Pihaknya ia mengatakan, sejak 2012 lalu telah mencanangkan KTB di beberapa kampung di Yogyakarta. hal ini dilakukan untuk menyiapkan kesiagaan masyarakat dalam penanggulangan bencana dan memnimalisir korban jika bencana terjadi.

Kota Yogyakarta sendiri kata dia, saat ini telah memiliki zona gempa, iklim dan cuaca di Taman Pintar Yogyakarta.

Zona ini kata dia, sangat bermanfaat dalam mengetahui melihat perkembangan iklim dan cuaca di Yogyakarta dan Indonesia secara keseluruhan.

Melalui hal tersebut, pihaknya bisa mengetahui sedini mungkin adanya indikasi bencana yang terkait dengan iklim dan cuaca ini.

Selain ancaman banjir lahar dingin Merapi, Yogyakarta juga rawan terjadinya bencana lain seperti banjir, longsor, puting beliung dan gempa.

Namun begitu kata dia, pihaknya meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk terus terkoneksi dengan zona tersebut dan juga dengan BPPTKG untuk memantau lahar dingin Merapi.

Sementara itu,  Kepala BPBD Kota Yogyakarta, Agus Winarto mengatakan, hingga saat ini Kota Yogyakarta sudah terdapat 10 KTB. Sepuluh kampung tersebut adalah  Kampung Ledok Tukangan, Joyonegaran, Jetisharjo, Terban, Sodagaran serta Prawirodirjan.

"Kampung tangguh ini bagian dari upaya membangun kemandirian kepada warga untuk menghadapi bencana. Hal tersebut dibutuhkan, karena bencana datang tidak dapat diprediksi," ujarnya.

Menurutnya, kesiapsiagaan masyarakat  tersebut, dibutuhkan untuk meminimalisir risiko yang akan di hadapi. Terutamanya untuk mengurangi risiko adanya korban jiwa masyarakat.

Menjelang puncak musim penghujan sendiri kata dia, pihaknya  telah menyiapkan petugas siaga 24 jam. Hal itu mempertimbangkan, masa peralihan musim seringkali diikuti oleh terjadinya perubahan cuaca secara ekstrem.

Kondisi tersebut meningkatkan potensi terjadinya bencana di tengah-tengah masyarakat seperti banjir dan angin ribut. "Petugas siaga 24 jam, tapi untuk mencapai sebuah lokasi butuh waktu, dan kesiagaan masyarakat mampu meminimalisir risiko adanya korban," katanya.

Untuk optimalisasi kegiatan BPBD sendiri kata dia, di anggaran perubahan 2013  dialokasikan anggaran pembelian lima unit armada, yakni satu unit mobil dobel kabin dan empat sepeda motor trail. Armada tersebut dibutuhkan untuk operasional teknis penanganan ketika terjadi  bencana.